Pentingnya Fatwa dan Kehati-hatian Dalam Berfatwa

Pentingnya Fatwa dan Kehati-hatian Dalam Berfatwa

Allah swt berfirman:

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Berdasarkan ayat diatas, maka fatwa merupakan sesuatu yang sangat urgen dalam kehiduapan kaum muslimin. Kebutuhan manusia kepada ulama dan mufti lebih besar dari pada kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman. Diantara fatwa-fatwa ulama yang menunjukkan hal ini adalah, perkataan Ibnu Qoyyim rahimahullah ketika mensifati ulama dan para Mufti,

” فَهُمْ فِي الْأَرْضِ بِمَنْزِلَةِ النُّجُومِ فِي السَّمَاءِ , بِهِمْ يَهْتَدِي الْحَيْرَانُ فِي الظَّلْمَاءِ , وَحَاجَةُ النَّاسِ إلَيْهِمْ أَعْظَمُ مِنْ حَاجَتِهِمْ إلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ , وَطَاعَتُهُمْ أَفْرَضَ عَلَيْهِمْ مِنْ طَاعَةِ الْأُمَّهَاتِ وَالْآبَاءِ بِنَصِّ الْكِتَابِ.”

 “kedudukan mereka di dunia bagaikan bintang-bintang dilangit, yang dengan cahayanya orang-orang yang kebingungan dalam kegelapan mendapat petunjuk, kebutuhan manusia kepada mereka lebih besar dari pada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Ketaatan kepada mereka lebih diwajibkan dari pada ketaatan kepada ibu dan bapak mereka berdasarkan nash al Qur’an. Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)

 

(baca juga: Fatwa-Fatwa Ulama Berkenaan Dengan Handphone)

(Muhammad bin Abi Bakr bin Qayyim al-Jauziyah, I’lamu al Muwaqi’ina ‘an Rabbi al-Alamina,  1/9)

Sahl bin Abdullah berkata,

لاَ يَزَالُ النَاسُ بِخَيْرٍ مَا عَظَّمُوْا السُلْطَانَ وَالْعُلَمَاءَ، فَإِنْ عَظَّمُوْا هَذَيْنِ أَصْلَحَ اللهُ دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ، وَإِنِ اسْتَخَفُّوْا بِهَذَيْنِ أَفْسَدُوْا دُنْيَاُهْم وأُخْرَاهم”

 “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan tatkala mereka memuliakan penguasa dan ulama, apabila mereka memuliakan kedua golongan tersebut Allah swt akan memperbaiki urusan dunia dan akhirat mereka dan apabila mereka merendahkan dua golongan ini, maka rusaklah urusan dunia mereka. (Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farh al-Qurtubi Abu Abdullah, Tafsir al-Qurthubi,  5/260)

Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas ra berkata,

مَنْ أَفْتَى فِي كُلِّ مَا يُسْأَلُ فَهُوَ مَجْنُوْنٌ

“barang siapa yang berfatwa dalam setiap pertanyaan yang ditanyakan maka ia adalah orang gila.” (Yahya bin Syarf an-Nawawi Abu Zakariya, Adabu al-Fatawa wa al Mufti wa al-Mustafti,  14)

Imam Abu Hushain Utsman bin ‘Ashim al-Asadi la-Kufi berkta,

إِنَّ أَحَدَهُمْ لَيُفْتِي في الْمَسْأَلَةِ وَلَوْ وَرَدَتْ على عُمَرَ بنِ الخَطَّابِ لَجَمَعَ لها أَهْلَ بَدْرٍ

 “sesungguhnya tatkala salah seorang dari kalian memberi fatwa dalam suatu permasalahan, seandainya permasalahan tersebut sampai kepada Umar bin Khathab niscaya dia akan mengumpulkan sahabat yang ikut perang badar untuk menjawabnya.” (Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Utsman ad Dzahabi, Siaru A’lam an-Nubala’, 5/416)

لَا أَدْرِي. فَقِيْلَ لَهُ: أَلَا تَسْتَحْيِ مِنْ قَوْلِكَ لَا أَدْرِي، وَ أَنْتَ فَقِيْهُ أَهْلِ الْعِرَاقِ؟قَالَ: لَكِنِ الْمَلَائِكَةَ لَمْ تَسْتَحْيِ حِيْنَ قَالُوْا: لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَمْتَنَا

Amir asy-Sya’bi ditanya tentang sebuah pertanyaan, maka ia menjawab, “saya tidak tahu”. Lantas ada yang berkata kepadanya, “apakah engkau tidak malu dengan ucapanmu “saya tidak tahu”, sedangkan engkau adalah seorang faqih dari penduduk Iraq?. Ia menjawab, “akan tetapi malaikat tidak merasa malu ketika berkata, “kami tidak mengetahui kecuali apa-apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami” (Muhammad bin Abi Bakr bin Qayyim al-Jauziyah, I’lamu al Muwaqi’ina ‘an Rabbi al-Alamina,  4/238)

‘Utbah bin Muslim berkata,

صَحِبْتُ ابْنَ عُمَرَ أَرْبَعَةً وَثَلَاثِينَ شَهْرًا , فَكَانَ كَثِيرًا مَا يُسْأَلُ فَيَقُولُ : لَا أَدْرِي.

“saya menemani Ibnu Umar selama tiga puluh empat bulan, apa yang ditanyakan kepada beliau, maka kebanyakan beliau menjawab, “saya tidak tahu”. (Muhammad bin Abi Bakr bin Qayyim al-Jauziyah, I’lamu al Muwaqi’ina ‘an Rabbi al-Alamina,  4/238)

Dari Sufyan bin ‘Uyainah dan Sahnun,

أَجْسَرُ النَّاسِ عَلَى الْفُتْيَا أَقَلُّهُمْ عِلْمًا

“orang yang paling berani (mudah) untuk  berfatwa, menunjukkan sedikitnya ilmu mereka.” (Yahya bin Syarf an-Nawawi Abu Zakariya, Adabu al-Fatawa wa al Mufti wa al-Mustafti, hlm. 14)

Malik rahimahullah berkata,

مَا أَفْتَيْتُ حَتَّى شَهِدَ لِي سَبْعُونَ أَنِّي أَهْلٌ لِذَلِكَ

“tidaklah saya berfatwa hingga tujuh puluh orang menyaksikan bahwa saya layak untuk itu.” (Yahya bin Syarf an-Nawawi Abu Zakariya, Adabu al-Fatawa wa al Mufti wa al-Mustafti, hlm. 14)

%d bloggers like this: