Penipuan Transaksi, Bukan Soal Keuntungan Tapi Soal Keberkahan

Penipuan Transaksi, Bukan Soal Keuntungan Tapi Soal Keberkahan

Salah satu tabiat manusia adalah memiliki kecenderungan terhadap dunia dan segala macam keindahan di dalamnya. Hal itu menjadi godaan terbesar bagi mereka ketika Allah menitahkan jalan menuju surga-Nya yang dipenuhi dengan duri-duri tajam. Tidak sedikit manusia yang memilih berjalan di atas dunianya, dengan mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya, atau dengan meraup keuntungan melalui cara yang zhalim, akhirnya membuat mereka lalai dan melupakan Allah, karena memang di situlah kenikmatan fana yang dijanji-janjikan oleh setan dan sekutunya.

Mari kita berbicara satu contoh saja, meraup keuntungan dengan cara yang zhalim. Banyak cara yang dilakukan umat manusia demi meraup keuntungan, salah satunya dengan melakukan penipuan transaksi. Seperti sengaja menjual barang cacat yang tidak diketahui oleh pembeli, mengurangi dan melebihkan timbangan, menawar barang yang ingin dibeli seseorang dengan harga yang lebih tinggi agar calon pembeli menaikkan penawarannya, serta kecurangankecurangan dalam transaksi lainnya. Padahal di antara tujuan jual-beli adalah untuk saling menolong dengan cara yang ma’ruf, bukan menolong dengan cara yang zhalim.

BACA JUGA: Manipulasi Timbangan, Kebiasaan Kaum yang Disambar Petir

Oleh karena itu Islam melarang tindak penipuan yang merupakan bentuk kezaliman kepada orang lain dan diri sendiri. Secara umum Rasulullah telah bersabda, “Barangsiapa berbuat curang maka bukan termasuk umat kami (Islam).” (HR. Muslim)

Islam juga menyerukan untuk menjadi pribadi yang amanah dan menjaga kejujuran, baik kepada Allah dan RasulNya maupun kepada sesama manusia, sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,” (QS. An-Nisa’: 59).

Dikisahkan bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ mendapati sekeranjang makanan yang sengaja diperdagangkan tanpa ditimbang. Beliau memasukkan tangannya ke dalam tempat makanan itu. Ternyata makanan yang ada di bawah tidak sebagus makanan yang ada di atas. Lalu beliau meminta kepada pemiliknya untuk meletakkan makanan yang berkualitas rendah tersebut di atas makanan yang bagus, sehingga pembeli melihat dan mengetahuinya.

Bukan soal keuntungan yang banyak, tapi soal keberkahan yang didapatkan. Pedangan yang berbuat curang barangkali akan mendapatkan keuntungan jauh lebih banyak, akan tetapi harta yang banyak tersebut tidak dapat membuatnya tenteram dan merasa cukup. Sedangkan pedagang yang jujur dan amanah, mungkin saja akan mendapatkan keuntungan yang lebih sedikit, namun dengan itu Allah cukupkan dan tenteramkan hatinya. Itulah keberkahan.

Para ulama telah menjelaskan dalam kitab fikihnya macam-macam transaksi jual-beli yang mengandung unsur penipuan, namun hal itu belum cukup membuat sebagian umat Islam sadar akan tujuannya. Ada sebagian orang yang mencoba untuk ber-hilah, menggunakan cara cerdik, agar secara kasat mata tampak syar’i seperti yang diajarkan para ulama namun hakikatnya adalah penipuan. Oleh karena itu dalam kisah di atas Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk memberi keterangan sejelas mungkin yang dapat dipahami oleh pembeli, sehingga pembeli tidak merasa ditipu dengan berbagai cara apapun.

Akibat dari semua itu hanya akan menjauhkan seorang hamba dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, menjauhkannya dari keberkahan rezeki dan umur, menjauhkannya dari terkabulkannya doa, merupakan tanda kelemahan iman, mengikuti nafsu setan, dan mendekatkan dirinya dengan api neraka. Padahal keuntungan yang didapatkannya tidak sebanding dengan akibat yang harus diterima.

Ada dua nasehat ulama tentang ini. Pertama: untuk segera bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan hal itu belum cukup. Kedua: datang kepada orang-orang yang telah ditipunya, meminta maaf serta mengembalikan apa yang tidak menjadi haknya. Apabila hal itu tidak mungkin baginya, hendaknya ia menyedekahkan harta yang diperoleh untuk kemaslahatan umum. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim rahimahumullah.

Terakhir, apapun yang diperdagangkan, bagaimana pun caranya –setelah semua itu sesuai dengan yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya—, harus dikawal dengan pribadi amanah dan jujur. Bagi para pedagang, dan para pelaku transaksi, hendaknya selalu membawa sifat mulia ini ke manapun berada. Bukan soal keuntungan, tapi soal keberkahan. Wallahu a’lam. []

(Disarikan dari kitab Maqashidu asySyari’ah fi al-Mu’amalat al-Maliyah ‘Inda Ibnu Taimiyyah, karya Majid bin Abdullah bin Muhammad Al-‘Askar, hal. 384 dan setelahnya. Zadul Ma’ad, Ibnu Qayyim alJauziyyah, 5/778. Dan beberapa sumber lainnya)

%d bloggers like this: