Pengaruh Hajat Terhadap Hukum Syar’ie

Pengaruh Hajat Terhadap Hukum Syar’ie

Ketika Allah memilih agama Islam ini sebagai agama yang diridhai-Nya maka Allah berfirman, Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS. Ali Imran: 19). Dan ketika Allah menyempurnakan kebenaran dalam agama Islam ini, Allah berfirman pada hari Nabi tengah wuquf di ‘Arafah di haji wada’, Pada hari ini telah Aku (Allah) sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.(QS. Al-Maidah: 3).

Kemudian ketika Allah mengutus Rasul-Nya Muhammad untuk menjelaskan bahwa Islam adalah agama terakhir dan ia adalah penutup para Rasul maka Allah berfirman, Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107). Semua ini menunjukkan bahwa agama Islam dan Rasul umat Islam adalah rahmat bagi seluruh makhluk yang telah Allah ciptakan. Tidak untuk umat Islam saja, namun rahmatnya luas membentang di seluruh alam.

Pengaruh Hajat & Syare’at Islam

Di antara tujuan syari’at Islam adalah agar umat Islam mampu melahirkan keseimbangan dan lurus dalam menjalankan syari’at Allah. Maksud seimbang dan lurus adalah mencegah terjadinya kecacatan dalam beribadah yang bila itu dilakukan oleh seorang hamba dapat mengurangi kesempurnaan pahalanya, serta menjauhkan dari sifat berlebih-lebihan yang akhibatnya dapat mengurangi pahala seorang hamba bahkan bisa jadi ibadahnya tidak diterima di sisi Allah.

Oleh karena itu, seimbang dan lurus dalam persoalan ini sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Di dalam al-Qur’an banyak disebutkan tentang ayat yang mengajarkan pola hidup yang seimbang, di antaranya adalah keseimbangan dalam mengambil bagian di akirat dan tidak melupakan bagiannya di dunia. Karena bagaimanapun keadaannya, kehidupan dunia adalah ladang amal di akirat, yang bila seseorang banyak membuat ladang di dunia untuk ditanami amalan-amalan shaleh maka di akhirat kelak ia akan memanen amalan tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam surat al-Qashash ayat: 77.

Demikian juga, seseorang tidak boleh berlebih-lebihan dalam ber-maqashidsyari’ah. Sebab berlebih-lebihan dalam hal ini justru bagian dari bentuk kerusakan yang harus dicegah. Selain itu, dapat memicu pada istinbat-istinbat hukum yang tidak sesuai dengan tujuan syari’at, serta bisa dikatakan berlebih-lebihan dalam ber-maqashidsyari’ah adalah sebuah kemaksiatan.

Sebagaimana dijelaskan oleh Al-Khadimi, berlebih-lebihan dalam maqashid syari’at itu menyelisihi nash serta berlawanan dengan kaidah-kaidah ushul. Sehingga ilmu maqashid banyak dimanfaatkan oleh pihak tertentu sebagai pembenaran atas pendapat mereka.

Dalam mendudukkan posisi maqashid syari’ah pada ranah ijtihad hukum, setidaknya dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok yang menolak maqashid secara mutlak serta menyatakan tidak memiliki andil apa pun dalam istinbat (penyimpulan) hukum.

Namun pendapat ini tidak benar, karena maqashid syari’ah adalah hujjah syar’iyyah yang telah ditetapkan melalui nash, ijma’, dalilul ‘am (dalil umum), dalilul khas (dalil khusus), sesuai dengan akal dan nalar, serta kapan dan dimana pun tempatnya maqashid syari’ah dapat diaplikasikan.

Hal ini karena melihat syari’at Islam turun dengan membawa kemaslahatan pada seluruh umat serta mencegah berbagai kerusakan yang terjadi sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Oleh karena itu maqashid syari’ah tidak bisa dipisahkan dari hukum syar’i, karena hakekatnya ia telah melekat dalam satu bagian hukum syar’i tersebut dan selalu digunakan oleh para mujtahid seiring dengan berkembangnya ilmu fikih.

Kelompok kedua, menyandarkan dalil hukum pada maqashid secara mutlak dan menjadikan maqashid sebagai dalil mustaqil untuk menyimpulkan hukum.

Pendapat ini juga tidak benar, selain maqasid telah ditetapkan melalui jalan syar’i maka maqashid juga memiliki ketetapan dalam lingkar syar’i tersebut dengan menjadikannya sebagai hujjah setelah mengkaji hukum dan kaidah-kaidah yang berlaku.

baca juga: Hajat Bisa Mempengaruhi Suatu Hukum Sebagaimana Darurat

Sebagaimana diketahui, mengkaji sebuah hukum dan melihat nilai maslahat atau mafsadatnya membutuhkan dalil atau kaidah syar’i yang lain untuk mendapatkan ijtihad yang benar. Dan orang yang selalu menjadikan maqashid sebagai dalil mustaqil tidak berbeda dengan orang yang menyimpulkan hukum hanya dengan akal saja.

Kelompok ketiga, bersikap pertengahan dan bijak dalam memahami maqashid. Tidak berlebih-lebihan dan melampaui batas. Inilah pemahaman yang benar dalam timbangan syar’i serta sejalan dengan akal dan kemaslahatan manusia. Wallahu a’lam []

 

Diringkas dari berbagai sumber:

  1. Al-Ijtihad Al-Maqashidi Hujjiyatuhu Dzowabizhuhu wa Majallatuhu, DR. Nuruddin bin Mukhtar Al-Khadimi, 1/133-145]
  2. http://omandaily.om/?p=293467.
  3. http://www.dakahliaikhwan.com//viewarticle.php?

 

Oleh Arif Hidayat

 

# Pengaruh Hajat Terhadap Hukum Syar’ie # Pengaruh Hajat Terhadap Hukum Syar’ie # Pengaruh Hajat Terhadap Hukum Syar’ie # Pengaruh Hajat Terhadap Hukum Syar’ie

%d bloggers like this: