Penentuan Awal Bulan Dengan Air Laut

penentuan bulan dengan air laut

Hampir setiap tahun terjadi perselisihan antar umat Islam Indonesia dalam menentukan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Ormas-ormas Islam sulit disatukan. Hari Raya sering berbeda-beda karena beberapa faktor. Salah satu faktor utamanya, karena metode penentuan awal bulan yang berbeda-beda sehingga menghasilkan keputusan yang berbeda-beda pula.

Salah satu metode yang seakan-akan sesuai dengan ilmu astronomi, dan dijadikan cara menentukan awal bulan adalah metode pasang surut air laut. Maknanya, untuk menentukan bulan baru, cukup melihat pasang-surut air laut tanpa melihat hilal. Apa pun kondisi hilal, bisa dilihat atau tidak, pasang-surut air laut adalah penentu utama untuk mengetahui awal bulan.

Metode ini dipopulerkan oleh salah satu ormas Islam (jama’ah) di Sulawesi Selatan dan sebagian Sumatra. Menurut mereka, rukyat dengan mata hati lebih bisa dipertanggungjawabkan daripada rukyat dengan mata kepala atau dengan bantuan teknologi.

Maksud Metode Air Laut

Naiknya permukaan air laut pada pertengahan bulan disebut pasang purnama. Pasang air laut ini merupakan pasang tertinggi kedua dalam kurun waktu satu bulan.

Sedangkan pasang air laut yang tertinggi adalah pasang air laut yang terjadi ketika terjadinya ijtima’ (konjungsi) yang menandai bulan baru. Pasang air laut yang tinggi pada awal bulan ini dianggap sebagai tanda masuk bulan baru.

Perbedaan Signifikan

Di Indonesia, perbedaan awal Ramadhan dan Hari Raya terjadi karena metode yang beragam. Ada yang menggunakan metode hisab dan sebagian menggunakan metode rukyat.

Metode rukyat pun masih terbagi dua; madzhab rukyat global (wahdatul mathla’) dan rukyat lokal (ikhtilaful mathali’). Tiga metode ini saja menyebabkan hari raya kaum muslimin di Indonesia sulit berbarengan. Apalagi ditambah dengan metode air laut yang menyelisihi jumhur ulama.

Implikasi dari metode air laut ini menyebabkan perbedaan hasil yang signifikan. Pengguna metode ini seringkali melakukan puasa dua hari lebih dahulu dari yang hisab atau rukyat. Tak jarang pula lebih akhir dari umumnya kaum muslimin. Intinya, penganut metode ini sering tidak berpuasa dan tidak berhari raya bersama kaum muslimin lainnya.

Tinjauan Ilmu Astronomi

Menurut Prof Thomas Djamaludin, pakar astronomi, pasang surut air laut memang dipengaruhi oleh bulan dan matahari. Pada saat bulan baru, terjadi pasang air laut maksimum, tetapi tidak berarti hilal dapat terlihat. Lagi pula, air pasang maksimum yang terjadi dua kali sehari tidak memberikan kepastian dalam menentukan awal bulan. (https://tdjamaluddin.wordpress.com)

Skripsi di IAIN Walisongo “Rukyat Pasang Air Laut sebagai Metode Penentuan Awal Bulan Qamariah” juga menyimpulkan bahwa secara astronomis, waktu terjadinya pasang tertinggi tidak secara tepat menunjukkan waktu ijtima’ (konjungsi). Dengan demikian, metode pasang surut air laut di Pelabuhan Tanjung Mas Semarang (lokasi peneltian skripsi tersebut) tidak dapat digunakan sebagai metode penentuan awal bulan Qamariah. Dengan alasan tidak stabil dan tidak akurat.

Tinjauan Syar’i

Menentukan awal bulan dengan pasang surut air laut merupakan pendapat syadz (nyeleneh). Bahkan, metode ini menyelisihi hadits Nabi SAW.

Metode ini tidak mempunyai dalil sama sekali dalam al-Qur’an & as-Sunnah. Padahal untuk menentukan awal bulan terutama tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawal, Ibnu Umar ra, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ.

“Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup mendung atau awan, maka genapkanlah (bulan Sya’ban menjadi 30 hari).” (HR Bukhari, dalam Shahih-nya, kitab ash-shiyam, no. 1.906).

Di samping menyelisihi metode rukyatul hilal, cara aneh ini juga tidak mengedepankan persatuan dan terkesan ingin menyendiri dari keumumam kaum muslimin. Padahal, Nabi SAW memerintahkan untuk berpuasa dan berhari raya bersama kaum muslimin lainnya.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ.

Hari berpuasa (tanggal 1 Ramadhan) adalah pada hari di mana kalian semua berpuasa. Hari Idul Fitri (tanggal 1 Syawal) adalah pada hari di mana kalian semua melakukan Hari Raya, dan hari Idul Adha adalah pada hari di mana kalian semua merayakan Idul Adha.” (HR. Turmudzi 697, dishahihkan oleh al-Albani).

baca juga: SAAT BERBEDA AWAL RAMADHAN DENGAN TETANGGA

Kesimpulan

Para ulama fikih klasik maupun kontemporer tidak ada yang membenarkan metode air laut ini. Selain itu, jika ditinjau dari ilmu astronomi, metode pasang surut air laut ini tidak akurat. Apalagi, jika mendasarkan kepada mata hati atau ilham pemimpin ormas (jama’ah). Wallahu a’lam bish shawab.

 

%d bloggers like this: