Pendapat Ulama Seputar Hukum Menyemen Kuburan

menyemen kuburan

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah ﷺ melarang kuburan dikapur, diduduki, dan dibangun”. (HR. Muslim)

Para Ulama Fikih sepakat atas bolehnya meratakan atau menggundukkan kuburan. Namun mereka berbeda pendapat soal mana yang lebih utama antara menggundukkan atau meratakan kuburan.

Pendapat pertama, meratakan kuburan lebih utama dari pada menggundukkannya. Ini pendapat sebagian ulama mazhab Maliki dan pendapat yang benar menurut mazhab Syafi’i. Dalil yang menjadi dasar pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud,

عَنِ الْقَاسِمِ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ فَقُلْتُ يَا أُمَّهْ اكْشِفِى لِى عَنْ قَبْرِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَصَاحِبَيْهِ رضى الله عنهما فَكَشَفَتْ لِى عَنْ ثَلاَثَةِ قُبُورٍ لاَ مُشْرِفَةٍ وَلاَ لاَطِئَةٍ مَبْطُوحَةٍ بِبَطْحَاءِ الْعَرْصَةِ الْحَمْرَاءِ

Al-Qasim berkata, “Aku memasuki rumah Aisyah, lalu berkata: ‘Wahai bunda, bukakanlah untukku makam Nabi ﷺ dan kedua sahabatnya h.’ Lalu beliau membukakan untukku tiga makam, yang tidak terlalu tinggi dan tidak rata dengan tanah, dibentangkan sejajar dengan kerikil halaman yang merah.’” (HR. Abu Daud)

Dari Abu Al-Hayyaj Al-Asadi dia berkata, Ali bin Abi Thalib berkata kepadaku, “Maukah kamu aku utus sebagaimana Rasulullah ﷺ telah mengutusku? Hendaklah kamu jangan meninggalkan gambar-gambar kecuali kamu hapus dan jangan pula kamu meninggalkan kuburan kecuali kamu ratakan.”(HR. Muslim)

BACA JUGA: WANITA DILARANG ZIARAH KUBUR?

Pendapat kedua, menggundukkan kuburan lebih utama dari pada meratakannya. Ini pendapat mayoritas ulama Hanafiyah, sebagian ulama Malikiyah, sebagian ulama Syafi’ah, dan pendapat ulama mazhab Hambali.

Dalilnya, hadits dari Sufyan bin Dinar at-Tammar (seorang ulama tabiin),

أَنَّهُ رَأَى قَبْرَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسَنَّمًا

“Bahwa beliau melihat makam Nabi ﷺ dalam bentuk gundukan.” (HR. Bukhari).

Dari sahabat Jabir bin Abdillah h, beliau mengatakan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُلْحِدَ وَنُصِبَ عَلَيْهِ اللَّبِنُ نَصَبًا، وَرُفِعَ قَبْرُهُ مِنَ الْأَرْضِ نَحْوًا مِنْ شِبْرٍ

“Bahwa Nabi ﷺ dimakamkan dalam liang lahat, diletakkan batu nisan di atasnya, dan kuburannya ditinggikan dari permukaan tanah setinggi satu jengkal.” (HR. Ahmad, Baihaqi, dan Ibnu Hiban) (Ahkamu al-Maqabir fi asy-Syari’ati al-Islamiyati, Abdullah bin Umar bin Muhammad as-Sahibani, 140-145)

HUKUM MENGAPUR ATAU MENYEMEN KUBURAN

Tentang hukum mengapur atau menyemen kuburan, para ahli fikih dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali telah sepakat bahwa hukum mengapur atau menyemen kuburan adalah makruh. Hal ini berdasarkan beberapa argumentasi di bawah ini,

Pertama, dalam hadits Jabir a disebutkan:

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah ﷺ melarang kuburan dikapur, diduduki, dan dibangun.” (HR. Muslim)

Imam an-Nawawi t berkata, “Para ulama dari mazhab kami berkata, ‘mengapur (menyemen) kuburan dimakruhkan sedangkan duduk di atas kuburan hukumnya haram.’“(Syarhu Shahih Muslim, Muhyiddin an-Nawawi, 7/37). Ini menunjukkan bahwa menurut mereka makruh di sini adalah makruh tanzih bukan makruh tahrim.

  1. Abdullah bin Umar bin Muhammad as-Sahibani menyatakan dalam bukunya Ahkamu al-Maqabir fi asy-Syari’ati al-Islamiyati, “Ini merupakan pendapat yang lebih dipilih oleh kebanyakan ahli fikih, walaupun sebagian di antara mereka berpendapat bahwa yang dimaksud makruh di situ adalah makruh tahrim (haram). Adapun pendapat yang lebih kuat dari lafadz hadits di atas bahwa hukum mengapur/menyemen kuburan hukumnya haram, sebagaimana duduk di atas kuburan dan membagunnya. (Ahkamu al-Maqabir fi asy-Syari’ati al-Islamiyati, Abdullah bin Umar bin Muhammad as-Sahibani, 182)

Kedua, mengapur/menyemen kuburan tidak ada contoh dari kaum salafus shalih, bahkan diriwayatkan dari sebagian mereka bahwa mereka memakruhkan dan melarangnya. Oleh sebab itu, Imam asy-Syafi’i berkata, “Saya tidak pernah melihat kuburan orang-orang Muhajirin dan Anshar dikapur/disemen.” (Al-Umm, Muhammad bin Idris asy-Syafi’iy, 1/316)

Ketiga, mengapur/menyemen bagunan memiliki fungsi untuk memperindah dan mengokohkan bangunan. Sedangkan yang dibutuhkan bagi mayit di dalam kuburnya bukan untuk diperindah kuburannya. (Al-Mughni, Ibnu Qudamah al-Maqdisiy, 3/439)

Keempat, sesungguhnya mengapur/menyemen kuburan termasuk penghamburan uang dan sifat berlebih-lebihan yang tidak ada manfaatnya. (Badai’ Shanai’ fi Tartibi asy-Syarai’, ‘Alauddin al-Kasaniy, 1/320)

Muhammad bin Idris Asy-Syafi’iy t menjelaskan, “Dan aku senang jika kuburan itu tidak dibangun dan tidak dikapur/disemen, karena hal itu menyerupai perhiasan dan bentuk kesombongan. Kematian bukanlah tempat untuk salah satu di antara keduanya. Dan aku pun tidak pernah melihat kubur orang-orang Muhajirin dan Anshar dikapur… Dan aku telah melihat sebagian penguasa merobohkan bangunan yang dibangunan di atas kubur di kota Mekah, dan aku tidak melihat para ahli fikih mencela perbuatan tersebut.” (Al-Umm, Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, 1/ 316)

Ibnu Hazm rahimahumullah menjelaskan, “Dan tidak dihalalkan kuburan untuk dibangun, dikapur/disemen, dan ditambahi sesuatu pada tanahnya. Semuanya itu (bangunan, semenan, dan tanah tambahan) mesti dirobohkan”. (Al-Muhalla, Ibnu Hazm adh-Zhahiriy, 5/133)

Adapun pendapat yang lebih kuat adalah makruh tahrim, artinya mengapur atau menyemen kuburan hukumnya haram. Alasannya, larangan dalam hadits di atas sudah cukup jelas, dan tidak terdapat dalil yang menerangkan bahwa larangan tersebut maksudnya adalah makruh tanzih. (Ahkamu al-Maqabir fi asy-Syari’ati al-Islamiyati, Abdullah bin Umar bin Muhammad as-Sahibani, 183)

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz t   berdasarkan hadits di atas menyatakan, “Kuburan tidak boleh dibangun, baik dengan semen ataupun yang lainnya, demikian juga tidak  diperbolehkan menulisinya. Karena ada hadist yang shahih dari Nabi ﷺ yang melarang membangun kuburan dan menulisinya”. (Majmu’ Fatawa, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, 4/329)

MEMBERI SESUATU DI ATAS KUBUR SEBAGAI TANDA DAN MENAMAINYA

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum memberi tanda dengan sesuatu di atas kuburan, baik dengan batu, kayu, atau semisalnya.  Mereka terbagi menjadi tiga pendapat, yaitu:

Mazhab Hanafi berpendapat, memberi sesuatu di atas kuburan sebagai tanda itu hukumnya makruh. (Tuhfatul Fuqaha’, ‘Alauddin as-Samarqandi, 1/256)

Sedangkan mazhab Maliki, salah satu pendapat mazhab Hanafi, dan Hambali  menyatakan, memberi tanda dengan batu, kayu, atau semisalnya di atas kuburan itu boleh. (Ahkamu al-Maqabir fi asy-Syari’ati al-Islamiyati, Abdullah bin Umar bin Muhammad as-Sahibani, 183)

Sementara para ahli fikih dari mazhab Syafi’i, salah satu pendapat dari mazhab Hambali, dan pendapat Ibnu Al-Hajj dari mazhab Maliki lebih cenderung menyatakan sunnah dalam menghukumi meletakkan batu, kayu atau yang semisalnya di atas kuburan sebagai tanda. (Ahkamu al-Maqabir fi asy-Syari’ati al-Islamiyati, Abdullah bin Umar bin Muhammad as-Sahibani, 183) Wallahu’alam. []

 

%d bloggers like this: