Pembagian Air

Pembagian Air.

ثُمَّ الْمِيَاهُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ: طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ غَيْرُ مَكْرُوْهٍ وَهُوَ المَاءُ الْمُطْلَقُ، طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ مَكْرُوْهٌ وَهُوَ الْمَاءُ الْمُشَمَّسُ، وَطَاهِرٌ غَيْرُ مُطَهِّرٍ وَهُوَ الْمَاءُ الْمُسْتَعْمَلُ وَالْمُتَغَيِّرُ بِمَا خَالَطَهُ مِنَ الطَّاهِرَاتِ،

“Kemudian air dibagi menjadi empat macam: suci lagi mensucikan tidak dimakruhkan menggunakannya; yaitu air mutlaq, suci lagi mensucikan (namun) dimakruhkan menggunakannya; yaitu air musyammas (yang panas karena sinar matahari), suci namun tidak mensucikan; yaitu air musta’mal dan air yang telah berubah dengan sesuatu yang mencampurinya dari sesuatu (benda) yang suci,”

 

Air Mutlaq

Pada edisi sebelumnya telah dijelaskan soal air mutlaq, yaitu air yang masih tetap pada keaslian penciptaannya. Ia belum tercampur dengan sesuatu yang dapat merubah komposisi air tersebut, baik sesuatu itu najis maupun suci. Air mutlaq terdiri dari air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air dari sumbernya, air salju dan air embun.

Dasar kesucian air mutlaq adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari (217) dan lainnya, dari Abu Hurairah, beliau mengkisahkan bahwa ada seorang arab badui yang kencing di dalam masjid, lantas orang-orang mendatanginya dan hendak menghardik arab badui tersebut. Kemudian Rasulullah bersabda, “Biarkanlah ia, dan siramkan pada (bekas) kencingnya seember air. Sesungguhnya kalian diutus dengan hal-hal yang mudah, bukan dengan hal-hal yang menyulitkan.” [Musthofa Dib al-Bugho, at-Tadzhib fi Adillati matan al-Ghayah wa at-Taqrib, hal. 10-11].

baca juga: Kesehatan di Balik Kesucian dan Kebersihan Air

 

Air Musyammas

Air musyammas adalah air yang dipanaskan di atas wadah yang terbuat dari logam dengan panas matahari. Dimakruhkannya air musyammas karena dapat menimbulkan penyakit kusta atau menambahnya. Air ini tidak dimakruhkan kecuali jika digunakan untuk badan dan pada daerah yang panas seperti Hijaz. Di musim panas suhu negeri Hijaz dapat mencapai 48◦ Celcius. Artinya, jika dipakai untuk selain badan seperti pakaian maka itu diperbolehkan.

Berdasarkan hadits ‘Aisyah, ia mengkisahkan bahwa Rasulullah mendatanginya sedang ia tengah memanaskan air dengan matahari. Lantas beliau bersabda, “Jangan engkau lakukan itu wahai humaira’ ‘(Aisyah), karena dapat menyebabkan kusta.” (HR. Ad-Daruquthni). Syaikh al-Albani menyatakan dalam al-Irwa’ (juz. 1) bahwa hadits tersebut maudhu’. [Ahmad bin Husain bin Ahmad al-Ashfahani, Matan al-Ghayah wa at-Taqrib, Tahqiq: Abu Lubaib, 11-12].

Namun imam an-Nawawi berpendapat bahwa air musyammas tidak makruh. Ini adalah pendapat mazhab mayoritas ulama, juga merupakan pendapat yang shahih yang sesuai dengan dalil dan teks al-Umm. Sebagaimana diyatakan oleh imam an-Nawawi, “Aku tidak memakruhkan melainkan jika dilihat dari sisi kedokteran. Hadits yang diriwayatkan dari umar (yang menjadi dalil imam asy-Syafi’i) adalah lemah, ahlu hadits telah sepakat bahwa Ibrahim bin Muhammd adalah perawi yang lemah, akan tetapi imam Asy-Syafi’i mentsiqqahkannya.” [Ahmad bin Husain bin Ahmad al-Ashfahani, Matan al-Ghayah wa at-Taqrib, 26].

Adapun air yang dipanaskan dengan api maka tidak makruh digunakan untuk bersuci. Imam Ahmad berkata, “Air yang dipanaskan dengan api dari sesuatu yang suci maka tidak dimakruhkan.”

 

Air Musta’mal

Dalam beberapa kesempatan safar, tentunya Rasulullah dan sahabatnya membutuhkan air. Namun beliau dan sahabatnya tidak mengumpulkan air yang bekas dipakai untuk digunakan lagi. Hal ini menunjukkan bahwa air musta’mal tidak mensucikan.

Dalil tentang kesucian air musta’mal adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari (191) dan Muslim (1616) dari Jabir bin Abdullah, ia menuturkan, “Ketika aku sakit Rasulullah menjengukku dan aku dalam keadaan (sakit parah), lalu beliau berwudhu dan menyiramkan air bekas wudhunya kepadaku.” Dapat disimpulkan, seandainya air bekas wudhu tersebut tidak suci maka beliau tidak akan menyiramkannya kepada Jabir.

Adapun dalil bahwa air musta’mal tidak mensucikan adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim (283) dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian mandi dengan air yang tidak mengalir sementara kalian dalam keadaan junub.”

Mandi dalam air sama artinya mengeluarkan kesucian air tersebut. Jika tidak demikian maka tidak akan ada larangan mandi dalam air yang tidak mengalir. Dengan catatan air tersebut sedikit. Hukum berwudhu sama seperti hukum mandi, sebab makna keduanya sama, yaitu sama-sama menghilangkan hadats.

Adapun air yang telah tercampur dengan sesuatu yang suci dan tidak mungkin untuk dipisahkan, seperti minyak wangi, garam dan lainnya maka air yang seperti itu tidak mensucikan. Karena air yang sudah tercampur dengan unsur lainnya tidak lagi disebut sebagai air suci, kendatipun sesuatu tersebut suci. Oleh karena itu air musta’mal tidak boleh digunakan untuk bersuci. Ini adalah mazhab imam asy-Syafi’i, Ahmad dan Abu Hanifah. [Musthofa Dib al-Bugho, At-Tahdzhib fi Adillati matan al-Ghayah wa at-Taqrib, 10-11].

%d bloggers like this: