Pekerjaan Terbaik Menurut Syariat

pekerjaan terbaik menurut syari'at

Secara umum tujuan syari’at adalah menjaga tatanan umat dan menjaga berlangsungnya kebaikan mereka. Tujuan ini bisa dicapai dengan menjaga kebaikan setiap individu umat, sedangkan kebaikan setiap individu umat dinilai dari tiga hal, kebaikan akalnya, kebaikan amalnya, dan kebaikan penghasilannya dalam urusan duniawi.

Beriringan dengan itu, Islam mewajibkan bagi umatnya untuk memperoleh suatu yang halal lagi baik, halalan thayyiban. Bukan yang diharamkan atau yang mengandung unsur syubhat. Sebagai upaya untuk menerapkan kemaslahatan umat secara menyeluruh. Islam juga melarang bagi umatnya untuk memperoleh sesuatu yang dapat memicu timbulnya mudharat serta kerusakan, seperti mengabaikan hasil dari apa yang telah diusahakannya, melakukan sesuatu yang dapat mengundang pertikaian dan permusuhan, menyelisihi dari kemaslahatan umum, dan bahkan melanggar tujuan dan ketetapan syari’at

BACA JUGA: Antara Kewajiban dan Keutamaan, Mana Yang Di Utamakan?

Melihat betapa pentingnya penghasilan setiap individu umat terhadap harta maka Islam datang sebagai agama yang sangat peduli dengan hal itu. Dalam perjalanan syari’atnya Islam memberitahu dasar-dasarnya dan caracara untuk mendapatkannya. Namun begitu, Islam juga datang dengan tatanan berupa batasan-batasan pada cara untuk mendapatkan penghasilan tersebut. Agar segigih apapun umatnya dalam berusaha memperoleh penghasilan ini tidak keluar dari hasil yang halalan thayyiban dan tidak melalaikan syari’at Allah. Sebab ini akan menjadi sangat dekat dengan fitnah harta, yang oleh Nabi dijelaskan sebagai fitnah yang dapat menyeret seorang hamba pada jalan yang tidak diridhai oleh Allah.

Di bawah ini adalah sumber dan cara untuk mendapatkan penghasilan yang telah ditunjukkan oleh syari’at.

Pertama, sumber penghasilan ada tiga: bumi, amal (pekerjaan), dan ra’sul mal (modal).

Bumi memiliki peran penting dalam sebuah penghasilan dan merupakan sumber dasarnya. Bumi di sini mencangkup semua tempat yang dapat menghasilkan sesuatu, baik dataran rendah, pegunungan, sungai, lautan maupun udara.

Dalam al-Qur’an banyak disebutkan ayat tentang peran bumi terhadap penghasilan setiap individu umat ini. Di antaranya adalah firman Allah, “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk: 15)

Kemudian amal (pekerjaan), yaitu cara bagaimana bumi yang telah Allah ciptakan ini dapat menghasilkan sesuatu yang berharga. Sebagaimana firman Allah, “Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur.” (QS. AlJatsiyah: 12). Dan sumber penghasilan terakhir adalah ra’sul mal (modal), yang dalam hal ini segala sesuatu yang menjadi milik seseorang bisa menjadi modal untuk mendapatkan penghasilan.

Kedua, cara mendapatkan penghasilan ada tiga: bercocok tanam, berdagang dan produksi.

Bercocok tanam adalah cara bagi orang yang menetap, yang tidak sering bepergian. Di samping bertujuan untuk mendapatkan keuntungan maka dalam pekerjaan ini mengandung unsur pasrah terhadap takdir Allah yang tentunya setelah menempuh jalan usaha yang baik, dan bercocok tanam adalah pekerjaan yang lebih jauh dari nilai syubhat. Oleh karena itu Allah menjadikan cocok tanam sebagai sebuah permisalan seperti dalam firman-Nya, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Yahya bin Yahya Al-Ajzi Al-Hambali berkata, “Orang-orang berselisih tentang pekerjaan apa yang paling baik. Sebagian menyebutkan bercocok tanam, dan menurutku inilah yang paling baik. Sebab di dalam cocok tanam seseorang akan berpasrah diri kepada takdir Allah, dengan bercocok tanam ia telah mengeluarkan keberkahan dari bumi dan lebih jauh dari unsur syubhat.” (Ibnu Muflih, Al-Adab asySya’iyyah, 3/307)

Kemudian cara selanjutnya adalah dengan memproduksi, sebagian orang menilai inilah cara yang paling baik, sebab ia bekerja dengan tangannya sendiri untuk menghasilkan barang yang diproduksi seperti yang dijelaskan dalam sabda Nabi. Dan cara yang terakhir adalah dengan berdagang, memperdagangkan hasil dari cocok tanam maupun hasil produksi orang lain. Telah masyhur di kalangan kita bahwa cara yang ketiga ini Rasulullah pernah melakukannya dan beliau telah mencontohkan bagaimana adab serta tata-cara jual beli yang benar. Wallahu a’lam. []

Disarikan dari kitab Maqashid asySyari’ah al-Khashah bi at-Tasharufat alMaliyah, Dr. Izzuddin bin Zughaibah, hal. 87-97.

%d bloggers like this: