Pacaran Menurut Ulil

Pacaran Menurut Ulil

Zina bagi orang islam seharusnya menjadi hal yang dijauhi. Namun seiring perkembangan zaman, yang dibarengi dengan perkembangan pemikiran, bermunculan berbagai macam ide-ide nakal yang berupaya melegalkan zina dengan berbagai argumentasinya. Bahkan bisa dibilang yang berbicara seperti itu orang yang notabene “pintar” dalam urusan agama.

Ide Nakal Ulil

Dalam sebuah artikel singkatnya ulil mengupas singkat tentang pacaran. Disebutkan dalam artikelnya, “betulkah pacaran haram? Tentu saja jawabannya: tergantung. Dalam bahasa fikih atau hukum Islam: di-tafshil. Pacaran yang seperti apa dan bagaimana. Tidak ada larangan dalam agama, terutama Islam, terhadap pacaran. Tak ada ayat atau hadis yang secara eksplisit melarangnya”.

Kemudian dia katakan, “Dan sesungguhnya untuk mengetahui apakah pacaran itu haram atau tidak, kita tak perlu jauh-jauh merujuk ke Qur’an atau hadis. Kita diberikan nalar dan akal oleh Tuhan. Mari kita pakai untuk menganalisis fenomena ini. Mensyukuri nikmat akal adalah dengan cara memakainya, bukan mengistirahatkannya dan mencurigainya macam-macam. Itu justru kufur atau mengingkari nikmat yang dikecam oleh Qur’an.”

Selanjutnya ulil mulai mengurai definisi pacaran, “Apa hakikat pacaran itu? Pacaran adalah tahap pra-nikah yang memungkinkan kedua lawan jenis untuk saling mengenal. Dalam bahasa Arab, saling mengenal itu adalah ta’aruf.

Jadi, sodara-sodara, sesungguhnya pacaran dan ta’aruf itu sama saja. Pacaran bahasa Indonesia. Ta’aruf bahasa Arab. Tetapi karena ada persepsi bahwa yang berbahasa Arab itu Islam, maka ta’aruf itu halal, sementara pacaran tidak. What a funny logic!”.

Di akhir artikelnya dia katakan, “Walau tidak wajib, tapi saya mengatakan bahwa tahap saling kenal itu adalah sesuatu yang harus dilakukan, untuk menghindarkan kemungkinan buruk di masa depan. Lebih baik pacaran putus di tengah jalan, daripada putus jalan di tengah pernikahan karena tak saling mengenal dengan baik sebelumnya.

Dengan demikian pacaran yang diniatkan untuk saling mengenal pasangan secara baik, untuk membangun masa depan rumah tangga yang harmonis, dan dilakukan dengan cara yang tidak melanggar norma agama, jelas boleh. Bukan hanya boleh, tapi harus, untuk kemaslahatan pernikahan di masa depan. Tak penting anda menyebutnya pacaran atau ta’aruf. Itu hanya beda bahasa saja. Jangan tertipu oleh istilah. (Diambil dari http://islamlib.com/gagasan/qaislam/pacaran-haram-ya-kalau/09_02_2016/10.00 WIB)

Kecerobohan Ulil

Ada beberapa poin yang perlu dikritisi dari artikel ulil. Pertama tentang definisi pacaran menurut ulil. Dalam hal ini definisi yang dipaparkan ulil tidak jelas. Bahkan ada kontradiktif dalam penyataannya.

Di awal dia katakan bahwa pacaran itu sama dengan ta’aruf yang berarti saling mengenal. Tapi menjelang akhir artikelnya dia sebutkan “lebih baik pacaran putus di tengah jalan, daripada putus jalan di tengah pernikahan karena tak saling mengenal dengan baik sebelumnya”.

Putus pacaran adalah istilah yang jamak diketahui berawal dari “jadian” dalam berpacaran. Yang sangat jarang, bahkan tidak ada orang berpacaran kecuali ada acara berduaan, bergandengan tangan dan berciuman. Paling tidak saling sms-an dengan ungkapan yang intim dan mengundang nafsu. Yang sering diistilahkan dengan rindu dan rasa sayang.

Padahal jika ulil mau membaca sabda Nabi SAW disebutkan

 إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا، أَدْرَكَ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ، فَزِنَا العَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا اللِّسَانِ المَنْطِقُ، والقلب تَمَنَّى وَتَشْتَهِي، وَالفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ كُلَّهُ وَيُكَذِّبُهُ

Sesungguhnya Allah SWT menetapkan jatah zina untuk setiap manusia. Dia akan mendapatkannya dan tidak bisa dihindari: zina mata dengan melihat, zina lisan dengan ucapan, zina hati dengan membayangkan dan gejolak syahwat, sedangkan kemaluan membenarkan semua itu atau mendustakannya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kemudian timbul pertanyaan, zina menurut ulil itu seperti apa? Dan norma agama yang dia maksud bagaimana?. Jangan-jangan dia keliru mendefinisikannya karena tidak mau jauh-jauh merujuk Quran dan hadits.

Dari uraian diatas nampak kecerobohan ulil ketika menyamakan antara ta’aruf dengan pacaran. Kalau memang dia memiliki instink yang sama sebagaimana para orang tua yang khawatir tentang pergaulan anaknya. Seharusnya dia lebih protektif, bukannya menyebar syubhat dengan menyamakan antara ta’aruf dan pacaran.

Selain itu seharusnya lebih hati-hati dengan tetap berpedoman kepada Quran dan Hadits. Sebab akal tidak dapat berdiri sendiri. Ia harus mengikuti Quran dan Hadits. Akal tidak boleh digunakan secara bebas ketika nash syar’i sudah memberikan batasan-batasan. (Asy-Syatibi, Al-Muwafaqat, Tahqiq: Ibnu Hasan Alu Salman, (Dar Ibnu Affan, Cet-1, 1417 H), 1/125). Wallahu A’lam.

 

oleh: Ilyas Mursito

 

baca juga : Pernikahan Muyassar, Apa Hukumnya?

%d bloggers like this: