Otak-atik Konsep Syariat Shalat

Otak-atik Konsep Syariat Shalat

Mun’im sirry menyebutkan, klaim bahwa semua yang kita kenal dalam Islam saat ini sudah fixed sejak zaman Nabi tidak berdasar bukti sejarah. Hal tersebut coba dia buktikan dengan mengambil kasus sejarah shalat Jumat.

Dia kutip beberapa riwayat, di antaranya dari Ibnu Sa’ad dalam kitab Ath-thabaqat al-Kabir, yang meminta izin kepada Rasulullah untuk melakukan shalat Jumat. Rasulullah mengizinkan dengan kalimat, “Ketika matahari telah melewati tengah hari, menghadaplah kepada Allah dengan dua rakaat dan kemudian sampaikan khutbah di hadapan mereka.”

Dari riwayat ini Mun’im mempersoalkan praktik shalat Jumat yang dilakukan Mush’ab berbeda dari yang kita kenal sekarang, khutbah dahulu kemudian shalat. Apakah cara kita shalat Jumat sekarang dapat dilacak ke zaman Nabi? Riwayat Mus’ab ini memberikan potret berbeda. Mungkin, sebagian kita menyangsikan otentisitas riwayat Mus’ab. Itu sah saja. Namun demikian, kesaksian historisitas itu juga berlaku untuk riwayat-riwayat yang lain.

 

BACA JUGA: Perbedaan Tata Cara Shalat Wanita

 

Kemudian dia mengutip dari Al-Qasthalani dalam Irsyad al-Aari fi Syarh Shahih al-Bukhari, tentang para khulafa’ Umayyah yang ingin agar shalat ‘Id dilakukan seperti shalat Jumat. Yakni, khutbah dahulu baru shalat. (Atau, mungkin awalnya shalat ‘Id dan Jumat sama-sama diawali dengan shalat dua rakaat dan dilanjutkan dengan khutbah. Baru di kemudian hari dua shalat ini dipraktikkan secara berbeda. Sebab, para khulafa’ Umayyah menganggap khutbah Jumat setelah shalat sebagai tidak praktis karena jamaah cenderung bubar setelah shalat)

Lanjutnya, dalam al-Qur’an tidak ada indikasi tentang komponen khutbah. Maka, tidak mengherankan jika ada kalangan yang menganggap khutbah tidak menjadi bagian dari shalat Jumat.

Al-Kasani menjelaskan terkait sejarah dua khutbah. Awalnya Nabi biasa menyampaikan khutbah sekali. Namun, ketika mulai menua dan tidak kuat berdiri lama, Nabi duduk di antara dua khutbah.

Dan kesepakatan ini, menurut Mun’im tidak didasarkan pada pemahaman historis yang memadai tentang konteks praktik Nabi.

SANGGAHAN

Hal pertama yang harus dicamkan, bahwa otoritas keagamaan merupakan ciri khas tradisi ilmu Islam. Sebagian nash al-Qur’an dan Sunah masih bersifat global, simpel, dzanni (mengandung praduga), bahkan secara dzahir kerap dijumpai petunjuk nash yang terlihat kontradiktif. Untuk meng-istinbath (menggali hukum) nash-nash tersebut membutuhkan perangkat-perangkat ilmu yang tidak sederhana. Di sinilah pentingnya otoritas dalam hukum Islam. Dan sepeninggal Rasulullah ﷺ, umat Islam menyandarkan urusan hukum syariat kepada para ulama. Sebab mereka yang berkompenten dalam hal ini.

Berbicara tentang sejarah, perlu diingat bahwa dalam Islam ada tradisi isnad, yang lahir dari rahim disiplin ilmu hadits. Imam Syafi`i mengatakan, “Pencari hadits tanpa isnad bagaikan pencari kayu bakar di malam hari.” (Az-Zurqani, Syarh Mawahib al-Ladduniyyah, 5/453).

Ini menunjukkan pentingnya isnad, yang tidak lagi dimonopoli oleh ilmu hadits, melainkan ilmu yang lain salah satunya dalam penulisan sejarah. Dalam disiplin ilmu fiqh juga demikian. Para mujtahid fiqh empat madzhab mempunyai jalur sendiri dalam menguatkan keilmuan mereka. Artinya keotentikan sumber tidak diragukan lagi.

Tentang khutbah Jumat, ada keterangan yang menunjukkan bahwa Rasulullah mengubah pelaksanaannya dari setelah shalat menjadi sebelum shalat. Riwayat ini sekaligus mementahkan pernyataan Mun’im, tentang ahistorisnya para ulama dalam mengambil kesimpulan hukum. Pun menunjukkan bahwa dalam al-Quran juga menyinggung persoalan kapan dilakukannya khutbah Jumat. Selain itu, kutipannya tentang bani umayyah pun juga kurang tepat.

Riwayat yang dimaksud berkaitan dengan surat al-Jum’ah ayat 11. Tepatnya firman Allah Subhanahu Wata’ala yang artinya, “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah).”

 

Baca Juga: Mempertimbangkan ‘Urf Mengindahkan Syariat

 

Muqatil bin Hayyan mengisahkan, suatu ketika Rasulullah khutbah Jumat setelah shalat. Kemudian datanglah rombongan dagang dari syam. Ada yang menyebutkan itu adalah Dihyah. Kemudian jamaah yang mendengarkan khutbah pergi menghampiri rombongan dagang tersebut. Mereka mengira, tidak mengapa jika meninggalkan khutbah Jumat. Dengan kejadian ini akhirnya Rasulullah mengubah pelaksanaan khutbah Jumat setelah shalat (Al-Qurtubi, Al-Jami’ Li Ahkami al-Quran, 18/109-110).

Selanjutnya terkait dengan jumlah khutbah Jumat. Perlu diketahui bahwa para ulama dalam masalah ini ada perbedaan pendapat. Dan pendapat yang mengatakan khutbah Jumat itu dua kali lebih kuat. Artinya ada yang berpendapat bahwa khutbah Jumat itu hanya sekali, meskipun dalilnya kurang kuat. Namun yang pasti, kesimpulan yang mereka ambil bukan tidak berdasar pada dalil.

Dan akhirnya, hingga poin ini, terkadang jika kita dapati hal yang kelihatan rancu, atau kontradiktif dalam syariat. Bukan berarti syariat yang bermasalah. Bisa jadi diri kita yang belum memahaminya. Wallahu A’lam [-]

 

 

Oleh: Ilyas Mursito

%d bloggers like this: