Orang Gila Berbuat Kriminal, Bebas Hukum?

Orang Gila Berbuat Kriminal, Bebas Hukum?

Ulama NU sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH. Umar Basri menjadi korban penyerangan saat berada di masjid usai melaksanakan shalat Shubuh, Kamis (27/1/2018). Beliau pun mengalami trauma berat akibat serangan, yang oleh pihak kepolisian disebut-sebut dilakukan oleh orang gila itu. Beliau harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Al-Islam, Kota Bandung usai kejadian itu.

Hanya empat hari setelah itu, pada Kamis pagi (1/2/2018) Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis), Ustadz H.R. Prawoto, SE (40) dianiaya di rumahnya, Bandung, oleh seorang pria yang juga disebut-sebut mengalami “kelainan jiwa”. Ust. Prawoto sempat dilarikan ke Rumah Sakit Santosa, Kopo Bandung untuk mendapatkan perawatan yang intensif. Namun, pada Kamis sore akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhir.

Serangan dan percobaan serangan “orang gila” juga ditujukkan terhadap masjid dan pondok pesantren. Masjid At-Tawakkal, Karasak, Bandung, pada Kamis (8/2/2108) disatroni oleh seorang pemuda gila dengan pisau yang terikat di pinggangnya. Pekan sebelumnya masjid itu juga didatangi seseorang yang menodongkan pisau kepada remaja masjid.

Teror-teror tersebut selalu menargetkan ulama, ustadz, masjid, dan pondok pesantren. Semua pelakunya disebut-sebut oleh aparat kepolisian sebagai “orang gila”. Uniknya, “orang gila” tersebut pintar mengincar target korban, waktu penyerangan, dan tempat penyerangan. Mereka membawa-bawa senjata tajam. Dan sebelum penyerangan, mereka terlihat telah melakukan pengawasan dan persiapan.

NILAI NYAWA DAN ORGAN TUBUH MANUSIA

Kejahatan pembunuhan secara sengaja, dan penyerangan fisik yang mencederai anggota badan manusia, adalah tindakan yang sangat biadab. Sebab, kedua kejahatan tersebut merusak tujuan utama penciptaan manusia di atas muka bumi ini. Oleh karenanya, Allah Subhanahu Wata’ala menyatakan pembunuhan terhadap satu orang manusia yang tidak bersalah itu layaknya membunuh milyaran manusia di muka bumi (lihat Al-Maidah [5]: 32)

Demi menjaga keselamatan nyawa manusia, Allah mensyariatkan hukuman mati bagi orang yang melakukan pembunuhan secara sengaja. Demi menjaga keselamatan organ tubuh manusia, Allah Subhanahu Wata’ala mensyariatkan hukuman pencederaan anggota tubuh yang sama bagi si pelaku yang mencederai anggota tubuh orang lain. (Lihat Al-Baqarah [2]: 178-179, 194, dan Al-Maidah [5]: 32-33, 45)

 

JIKA PELAKU KEJAHATAN ORANG GILA

Andaikata pelaku pembunuhan dan pencederaan para ulama tersebut betul-betul orang gila, maka menurut fikih Islam si pelaku tidak bisa dikenai hukuman qishash. Si pembunuh tidak bisa dijatuhi hukuman mati dan si pencedera tidak bisa dicederai anggota tubuhnya.

Meski begitu, bukan berarti urusan peradilannya selesai begitu saja. Pembunuhan dan pencederaan anggota tubuh itu berkaitan dengan hak sesama manusia, bukan hak Allah semata. Hak Allah telah gugur atas diri “orang gila” tersebut, dengan gugurnya hukuman qishash atas dirinya. Namun hak sesama manusia, yaitu hak korban yang cedera dan hak keluarga korban pembunuhan, tidak gugur sama sekali.

Wali si orang gila, yaitu keluarga besarnya, masih memiliki kewajiban yang harus ditunaikan kepada korban dan keluarga korban. Pertama, mereka wajib membayar diyat (denda) pembunuhan dan diyat pencederaan terhadap korban pencederaan atau keluarga korban pembunuhan. Ini hukum yang disepakati oleh semua ulama fikih dari keempat madzhab.

Besarnya diyat pembunuhan disengaja adalah 1000 ekor unta, yang 40 di antaranya adalah unta yang bunting. Jika tidak ada unta, maka bisa diganti dengan 200 ekor sapi, atau 2000 ekor kambing, atau uang 1000 dinar (sekitar 4,25 kg emas).

Baca Juga: Mengubah Kemungkaran dengan Tangan, Hak Siapa?

 

Ketentuan diyat ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi dari hadits Abdullah bin Amru bin Ash c dari Nabi ﷺ. Juga sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim, Ibnu Abdil Barr, dan lainnya dari hadits Amru bin Hazm dari Nabi ﷺ. (Abdul Qadir Audah, At-Tasyri’ Al-Jina’i Al-Islami, Vol. II hlm. 178)

Kedua, ulama mazhab Syafi’i menyatakan selain diyat, wali si pelaku harus melakukan kafarat. Hal ini diqiyaskan dengan kafarat pada pembunuhan secara keliru (lihat An-Nisa’ [4]: 93).

Adapun kafaratnya adalah memerdekakan budak. Kalau tidak ada budak, maka kafaratnya adalah shaum selama dua bulan berturut-turut.

Hal ini berdasar hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, An-Nasai, dan Ibnu Hibban dari Watsilah bin Asyqa’ RA dari Nabi SAW. (Abdul Qadir Audah, ibid, Vol II hlm. 172 dan Wahbah Az-Zuhaili, Al-Wajiz fi Al-Fiqh Al-Islami, Vol II hlm. 453)

Jika ketentuan hukum Islam ini diterapkan, niscaya nyawa dan anggota tubuh manusia akan terlindungi. Teror demi teror atas umat Islam akan bisa dihentikan. Masyarakat akan hidup dengan aman dan damai. Wallahu a’lam []

 

REFERENSI

Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Al-Wajiz fi Al-Fiqh Al-Islami, Damaskus: Darul Fikr, cet 1, 1426 H.

Dr. Abdul Qadir Audah, At-Tasyri’ Al-Jina’i Al-Islami, Beirut: Darul Katib Al-Arabi, cet. 1, t.t.

 


Baca artikel menarik lainnya disini

 

 

dibuka peluang menjadi agen dikota anda,
info dan pemesanan majalah fikih hujjah
hubungi:

Tlp: 0821-4039-5077 (klik untuk chat)

facebook: @majalah.hujjah

Instagram: majalah_hujjah

 

%d bloggers like this: