Objek Transaksi (bagian 2)

Objek Transaksi (bagian 2)

Harga merupakan sarana untuk mendapatkan barang yang dikehendaki dalam transaksi. Setelah ada kesepakatan antar pelaku transaksi, harga harus diserahkan agar kepemilikan menjadi sah dan halal.

OBJEK TRANSAKSI

HARGA DALAM TRANSAKSI

Harga atau dalam istilah arabnya adalah tsaman, adalah nominal yag disepakati oleh pelaku transaksi. terkadang jumlahnya lebih besar, sama atau bahkan lebih kecil dari qimah (nilai) yang sebenarnya. Harga adalah apa yang diserahkan oleh pembeli kepada penjual sebagai ganti dari barang yang didapatkan. (Lihat Muhammad Abu al-Faidh Az-Zabidi, Taajul ‘Arus min Jawahir al-Qamus, (Dar al-Hidayah, TT), 34/337 dan Raghib al-Ishfahani, Al-Mufradat fi Gharib al-Quran, tahqiq: Shafwan Adnan ad-Dawudi, (Beirut: Dar al-Qalam, Cet-1, 1412 H), 177)

Sedangkan qimah adalah sesuatu yang diserahkan ketika suatu barang itu rusak. Hal ini dapat terjadi ketika transaksi fasid (rusak) dibatalkan. Dan juga ketika seseorang mengghashab barang milik orang lain, (Lihat Ibnu Abidin, Raddul Muhtar ala ad-Dar al-Muhtar, (Beirut: Dar al-Fikr, 1412 H/1992), 5/60 dan Abu al-‘Ala al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwadzi bi Syarhi Jami’ at-Tirmizi, (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, TT), 4/402)

Menurut jumhur ulama selain madzhab Hanafi, harga merupakan rukun dalam sebuah transaksi. Menurut madzhab Hanafi, rukun dalam transaksi hanya satu, yaitu ijab qabul. Sehingga ada perbedaan dalam syarat-syarat yang terkait dengan harga antara madzhab Hanafi dan jumhur ulama. (Lihat Prof. Dr. Musthafa Ahmad Zarqa, Aqd al-Bai’, (Damaskus: Dar al-Qalam, Cet-2, 1433 H/2012 M), 31)

SYARAT-SYARAT HARGA

Ada beberapa hal yang disyaratkan dalam harga. Diantaranya adalah, pertama menyebutkan harga disaat transaksi berlansung. Transaksi menjadi fasid bilamana harga tidak disebutkan menurut madzhab hanafi. Sementara menurut jumhur ulama, transaksi menjadi batil.

Apabila dalam transaksi jual beli penjual mengatakan saya jual barang tanpa harga, atau seharga hutangmu padaku (padahal kedua pelaku transaksi sama-sama tahu bahwa tidak ada hubungan utang piutang diantara keduanya), maka dalam kasus ini status transaksi bisa menjadi fasid atau beralih menjadi hibah, (‘Ali Haidar, Durar al Hukam Fi syarhi Majalah al-Ahkam, Tahqiq: Fahmi al-Husaini, (Dar al-Jail, Cet-1, 1411 H), 1/218).

Imam Nawawi menjelaskan bahwa penyebutan harga merupakan syarat keabsahan suatu transaksi. Dalam kasus diatas, menurut beliau bila harga tidak disebutkan maka bisa jadi transaksi belum dianggap terjadi, artinya transaksi batal sebagaimana pendapat jumhur, atau beralih menjadi hibah.

Dengan ungkapan yang lain Imam Suyuthi menjelaskan bahwa transaksi seperti itu secara makna adalah hibah, sementara secara lafalnya berarti jual beli yang fasid. Dan beliau Imam Nawawi lebih merajihkan pendapat jumhur, (Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, (Dar al-Fikr, TT), 9/171 dan Jalaluddin as-Suyuthi, Al-Asybah wa an-Nadzair, (Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Cet-1, 1411 H/ 1990 M), 1/166 )

Kedua, disyaratkan dalam harga haruslah berupa mal mutaqawim (harta yang boleh disimpan dan dimanfaatkan secara syar’i). Hal ini berdasarkan hadits riwayat Abu Mas’ud al-Anshari z,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الكَلْبِ، وَمَهْرِ البَغِيِّ، وَحُلْوَانِ الكَاهِنِ

Artinya, “Rasulullah SAW melarang hasil penjualan anjing, penghasilan pelacur dan upah perdukunan.” (HR. Bukhari, No: 2237 dan Muslim, No: 1567)

Dan juga disebutkan dalam hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Jabir bin abdillah R.A bahwasanya ketika terjadi fathul Makah beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi, dan patung…” (HR. Bukhari, no. 2236 dan Muslim, no. 4132)

Dari kedua hadits diatas malikiyah dan syafiiyah berpendapat bahwa harga dalam sebuah transaksi haruslah berupa harta yang mutaqawim. Maka tidak sah bilamana yang diperjual belikan adalah sesuatu yang najis atau mutanajis yang tidak dapat disucikan, seperti susu atau minyak samin yang terkena najis. Dan termasuk pula didalamnya sesuatu yang tidak bermanfaat seperti hama. (Lihat Muhammad ad-Dasuki al-Maliki, Hasyiyah ad-Dasuki ‘ala Syarhi al-Kabir, (Dar al-Fikr, TT), 3/10-11 dan Syamsuddin Asy-Syarbini, Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani alfadz al-Minhaj, (Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Cet-1, 1415 H), 2/340-341)

Sementara madzhab hambali berpendapat bahwa disyaratkan dalam harga berupa sesuatu yang bermanfaat secara mutlak dan boleh disimpan meskipun bukan kebutuhan mendesak. Sehingga tidak termasuk didalamnya sesuatu yang tidak bermanfaat seperti hama, ada manfaat yang diharamkan seperti khamr, manfaat yang dibolehkan karena kebutuhan seperti anjing yang terlatih dan bangkai dalam kondisi kelaparan. (Lihat Manshur al-Bahuti al-Hambali, Kasyaf al-Qanna’ ‘an Matni al-Iqna’, (Dar al-Kutub al-Ilmiyah, TT), 3/152)

Syarat ketiga, apabila harga yang disepakati itu berupa benda, maka haruslah sudah dimiliki oleh pembeli. Dan tidak terkait dengan hak orang lain. sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Hakim bin Hizam z bahwa beliau SAW bersabda,

لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“janganlah kamu menjual barang yang bukan milikmu” (HR. Tirmidzi, No: 1232)

Hadist ini menjelaskan bahwa barang yang dijual haruslah milik penjual. Maka begitu pula halnya dengan harga yang berupa benda, keduanya dihukumi sama. (al-mausuah fiqhiyah al-kuwaitiyah, 15/32)

Syarat keempat, dapat diserahkan. Para ulama sepakat tentang hal ini, sebab bila tidak dapat diserahkan maka seperti halnya barang yang tidak ada. Sehingga tidak sah menjadi alat tukar dalam transaksi. (ibid, 15/33) sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah z,

نَهَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

Rasulullah SAW melarang jual beli hushah (jual beli tanah dengan melempar batu) dan jual beli gharar. (HR. Muslim, No: 1513)

Al-Mawardi menjelaskan bahwa gharar adalah kondisi yang lebih cenderung mengkhawatirkan dan tidak diketahui akibatnya (apakah barangnya bisa diserahkan atau tidak). Barang jualan dan harga yang berupa benda sama hukumnya, jika tidak dapat diserahkan maka termasuk dalam gharar yang dilarang, (Mughni Muhtaj, 2/344)

baca juga :Objek Dalam Transaksi (bagian1)

Syarat kelima, diketahui kadar dan sifatnya. Yang dimaksud dengan kadar disini adalah jumlah nominal harganya. Sedangkan sifat yang dimaksud adalah jenis mata uang yang digunakan.

Dalam hal ini bila harga yang dimaksud ada ditempat transaksi pada saat transaksi berlangsung, maka sudah mencukupi kejelasan kadar dan sifatnya. Kecuali jika alat tukar yang digunakan adalah barang ribawi yang sejenis dengan barang yang dijual. Maka harus diketahui kadarnya agar tidak terjatuh dalam riba. (Ibnu Najim al-Mishri, Al-Bahru Ar-Raiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, (Dar al-Kutub al-Islami, Cet-2, TT), 5/297-298 dan )

Sedangkan bilamana harga yang dimaksud tidak ada saat transaksi, maka para ulama sepakat bahwa hal ini dapat menyebabkan transaksinya tidak sah. Sebab akan menimbulkan percekcokan antar pelaku transaksi. Karena bisa jadi pembeli menginginkan sifat tertentu dari alat tukar yang digunakan, sehingga maksud syariat dalam transaksi ini tidak terpenuhi. (Lihat Al-mausuah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 15/34)

Dari pemaparan diatas nampak ada kesamaan antara syarat dalam harga dan barang yang dijual. Namun disana ada beberapa perbedaan. Hal ini seyogyanya diperhatikan, sehingga kita dapat terhindar dari transaksi yang tidak syar’i. Wallahu A’lam Bisshowab.

 

Ilyas Mursito

 

 

 

 

# Objek Transaksi # Objek Transaksi  # Objek Transaksi  # Objek Transaksi  #

%d bloggers like this: