Objek Dalam Transaksi

Objek Dalam Transaksi dan Segala Keterkaitannya

Dalam transaksi tak jarang timbul percekcokan atau perasaan tidak puas antara kedua pelaku transaksi. Baik itu penjual maupun pembeli. Tanpa mengeyampingkan penjual, biasanya pihak yang banyak dirugikan adalah pihak pembeli. Kondisi seperti ini mayoritas terjadi karena faktor objek transaksi yang diperjual belikan. Dan hal ini tidak terlepas dari peran penjual ketika mentransaksikan perniagaannya.

Objek Dalam Transaksi

Dalam islam persoalan objek transaksi menjadi pembahasan yang urgen. Sebab kerelaan pelaku transaksi tidak dapat dilepaskan dari eksistensi objek transaksi. Di sisi lain, objek transaksi merupakan salah satu dari rukun dalam transaksi.

KEJELASAN BARANG

Kejelasan barang bagi pembeli merupakan suatu keharusan yang wajib terpenuhi. Sebab mempengaruhi keabsahan dalam transaksi. namun tidak demikian halnya bagi penjual. Sebab sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Musthafa Ahmad az-Zarqa, penjual dalam transaksi jual beli dalam posisi orang yang akan melepaskan barang dan menggugurkan hak kepemilikannya. Sehingga kejelasan barang bukanlah perkara yang diharuskan bagi dirinya.

Beda halnya dengan pembeli, kepentingan dirinya mengetahui barang yang akan ditransaksikan merupakan perkara yang sangat penting. Sebab dirinya akan memasukkan barang yang ditransaksikan dalam kepemilikannya. Dan juga ada kewajiban bagi dirinya untuk menyerahkan pengganti berupa harga dari barang yang hendak dibelinya.

Dalam sebuah hadits disebutkan, Rasulullah n bersabda,

لَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَبِيعَ شَيْئًا إلَّا بَيَّنَ مَا فِيهِ، وَلَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ يَعْلَمُ ذَلِكَ إلَّا بَيَّنَهُ

“Tidak halal seseorang menjual sesuatu kecuali menjelaskannya, dan tidak halal bagi seseorang mengetahui hal tersebut kecuali menjelaskannya” (HR. Ahmad, No: 16056)

Kejelasan barang bagi pembeli dianggap cukup dan memadai dengan 2 cara. Pertama, dengan menunjukkan secara langsung barang yang hendak dijual ketika transaksi berlangsung. Hal ini dilakukan ketika barang itu ada. Dan ini merupakan cara yang paling efektif.

Jika ada barang lain yang semisal, maka harus ditentukan barang yang akan ditransaksikan. Hal ini dilakukan agar tidak tercampur dengan barang lainnya. Misalkan, saya jual sepeda motor saya di tempat parkir yang warna merah. Sehingga tidak keliru dengan yang lainnya.

Kedua, dengan menjelaskan macam barang tanpa menunjukkan riil barangnya. Hal ini dilakukan ketika barang tidak ada di tempat. Dalam kasus ini, berarti harus detail dari yang pertama. Dengan menjelaskan macam berikut jenis dan tingkat kualitas serta kuantitasnya (jika berupa barang yang bukan satuan).

Secara umum kejelasan barang yang ditransaksikan dapat diketahui dengan 2 hal. Yaitu dengan melihat secara langsung dan menjelaskan spesifikasinya. Bilamana disertai dengan gambar atau sarana lain yang memadai, maka itu jauh lebih baik. Asalkan bukan dalam rangka menipu pembeli.

Apabila kejelasan barang dengan cara ditunjukkan secara langsung, maka yang harus diserahkan adalah barang yang ditunjukkan. Tidak boleh diganti kecuali atas izin dari pembeli. Beda halnya apabila kejelasan barang dengan cara dijelaskan spesifikasinya, maka boleh diserahkan barang mana saja yang sesuai dengan spesifikasi yang disebutkan.

OBJEK IKUTAN

Adakalanya didapati sesuatu yang melekat atau mengikut pada barang yang ditransaksikan. Sehingga timbul pertanyaan apakah termasuk dalam objek transaksi ataukah tidak. Jika termasuk dalam objek berarti milik pembeli, jika tidak maka tetap menjadi milik penjual.

Ada beberapa kondisi dimana sesuatu yang mengikut termasuk dalam objek yang dijual. Meskipun tanpa ada penjelasan dari pemilik barang. Pertama, segala hal yang menjadi asli menjadi bagian dari objek transaksi. Contohnya adalah dapur didalam rumah, kamar, atap dan bagian-bagian lain yang membentuknya sehingga layak disebut sebagai rumah.

Begitu juga halnya ketika menjual kebun buah. Maka termasuk yang dijual adalah pagar yang mengelilingnya. Baik itu berupa pohon atau tembok. Contoh yang lain, misalkan membeli hewan. Apabila yang mengikut adalah sesuatu yang memang terlahir darinya atau berupa makanannya. Maka itu termasuk dalam kategori objek transaksi.

Kedua, sesuatu yang menjadi bagian tak terpisahkan dari objek transaksi berdasarkan tujuan pembeliannya. Contoh, seperti menjual hewan yang bunting, maka tidak boleh mengecualikan janin dari induknya. Baik tidak dijual atau dihargai dengan harga terpisah. Yang diperbolehkan adalah dengan memberikan harga yang lebih karena sifat dari induknya yang terlihat gemuk atau sifat yang lain.

Misal yang lain, jual beli gembok berikut dengan kuncinya. dan jual beli separu roda dengan talinya. Hal ini berdasarkan kepada manfaat barang yang dibeli, meskipun barang-barang tersebut dapat dipisah, dia tetap menjadi bagian dari objek transaksi meskipun tidak disebutkan.

Ketiga, sesuatu yang bersambung dengan objek secara permanen. Artinya sesuatu yang mengikut tersebut tidak ditujukan untuk dipisah atau dipindahkan. Contohnya adalah dalam jual beli rumah dan properti.

Termasuk dalam kategori objek transaksi rumah adalah gembok yang terpasang berikut kuncinya, almari berikut rak dan perkakas yang menempel permanen, kerekan timba sumur, pintu dan jendela.

Keempat, Hal-hal lain yang masuk dalam adat kebiasaan, meskipun tidak masuk dalam ketiga poin diatas. Seperti tali kekang hewan yang dikendarai dan tali pengikat hewan ternak serta yang lainnya berdasarkan kebiasaan yang berlaku. Di antara contoh kebiasaan yang berlaku adalah jual beli tanah berikut dengan hak pengairan dan hak-hak lainnya yang terkait dengan tanah yang diperjual belikan.

Selain keempat poin di atas, tidak termasuk dalam objek transaksi kecuali ada penjelasan dari pemiliknya. Contohnya dalam jual beli rumah, untuk timba, tali dan gembok yang tidak terpasang. Dan barang-barang lain yang dapat dipindah kecuali ada penjelasan dari pemilik rumah. Begitu juga halnya dengan pelana kuda, dompet kaca mata dan sebagainya.

Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah adanya pengecualian dalam objek transaksi. Kaidah yang berlaku adalah,

كُل مَا يَجُوزُ بَيْعُهُ مُنْفَرِدًا يَجُوزُ اسْتِثْنَاؤُهُ، وَمَا لاَ يَجُوزُ إِيقَاعُ الْبَيْعِ عَلَيْهِ بِانْفِرَادِهِ لاَ يَجُوزُ اسْتِثْنَاؤُهُ

Segala sesuatu yang dapat dijual secara terpisah maka boleh dikecualikan, Dan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan tidak boleh dikecualikan”.

Di sisi lain, sesuatu yang dikecualikan haruslah jelas dan diketahui. Sebab apabila majhul (tidak diketahui) sebagian, menjadikan keseluruhan barang menjadi majhul. Akibatnya transaksi menjadi tidak sah. Maka tidak boleh mengecualikan janin dari induknya. Sebab ia tidak dapat dipisahkan. Sebagaiman pendapat jumhur ulama.

Tidak boleh juga mengecualikan seekor hewan dari sekelompok hewan tanpa menentukan hewan yang dikecualikan. Dan juga tidak boleh mengecualikan nominal tertentu dari buah-buahan yang dijual. Sebab dengan adanya pengecualian tadi keseluruhan buah menjadi tidak jelas antara yang dikecualikan dan yang tidak.

baca juga: Objek Transaksi Bagian 2

Oleh sebab itu, perlu menjadi perhatian bagi pelaku transaksi. Dalam hal ini khususnya bagi penjual. Agar transaksi yang dilakukan sah dan tidak menimbulkan kekecewaan pembeli. Wallahu a’lam

Referensi:

Dr. Musthafa Ahmad Zarqa, ‘Aqd al_bai’, (Damaskus: Dar al-Qalam, Cet-2, 1433 H/2012 M)

Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiri, Mausu’ah al-Fiqh al-Islami, (Bait al-Afkar ad-Dauliyah, Cet-1, 1430 H/2009 M)

Wizarah al-Auqaf wa Syuun Kuwait, Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah kuwaitiyah, (Mesir: Dar Ash-Shafwah, TT)\

Ilyas Mursito

%d bloggers like this: