Obati Kesyirikan Dengan Ibadah Haji

obati kesyirikan dengan ibadah haji

Berangkat Haji ke Baitullah merupakan ibadah agung yang memiliki tujuan-tujuan mulia. Salah satu di antara tujuannya yang paling besar adalah mengingatkan hakekat dzikir kepada Allah.

Dzikir pertama dalam ibadah Haji adalah melantunkan talbiyyah, yaitu mengucapkan,

“labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wa ni’mata laka wal mulka la syarika lak,”

Aku datang memenuhi panggilanMu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu yang tiada sekutu bagiMu, aku datang memenuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.

Ketika jama’ah Haji melantunkan kalimat talbiyyah ini, sebenarnya mereka sedang mengikrarkan pernyataan tauhid kepada Allah sekaligus mengikrarkan untuk tidak mensyirikkan-Nya. Sebab dalam kalimat tersebut berisi makna pemurnian ibadah hanya kepada Allah dan membuang jauh kemusyrikan. Dengan demikian kalimat talbiyyah bukan semata lafal-lafal kosong. Namun mengandung makna agung yang merupakan ruh Islam, yaitu mentauhidkan Allah.

Kalimat talbiyyah, selain menjunjung tinggi syi’ar Islam juga sebagai ganti dari syi’ar kaum musyrikin, dimana dahulu mereka juga melakukan ibadah Haji dan melantunkan kalimat talbiyyah, hanya saja kalimat talbiyyah mereka berbeda dengan apa yang diajarkan Rasulullah, yaitu mengecualikan berhala-berhala mereka sebagai sekutu bagi Allah.

Oleh karena itu, setiap orang yang melantunkan kalimat-kalimat talbiyyah di atas wajib baginya menghayati makna yang terkandung di dalamnya. Sehingga ia menjadi orang yang benar dalam bertalbiyyah. Ucapannya sesuai dengan kenyataannya. Ia benar-benar berpegang pada ajaran tauhid dan menjaga hak-hak tauhid, menjauhi segala hal yang dapat membatalkan tauhid, baik itu kemusyrikan maupun yang lainnya.

(baca juga: Gara-Gara Syirik Menghalangi Pintu Jannah)

Ia menjadi orang yang tidak akan meminta kecuali kepada Allah. Ia tidak akan ber-istighatsah kecuali kepada Allah. Ia tidak bertawakkal kecuali kepada Allah. Ia tidak akan meminta bantuan serta pertolongan kecuali kepada Allah. Dan ia tidak akan mengarahkan salah satu macam ibadah pun kecuali hanya kepada Allah saja. Sebab hanya di tangan Allah dan hanya menjadi kewenangan-Nya sajalah hak untuk memberi, menahan pemberian, melimpahkan anugerah, melimpahkan manfaat dan menimpakan madharat.

Selain kalimat talbiyyah yang telah diajarkan Rasulullah kepada umatnya, Allah juga berfirman di dalam al-Qur’an,

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah: 203).
Maksudnya adalah pada hari-hari tasyriq, Rasulullah bersabda,

“Hari-hari tasyriq adalah hari untuk makan, minum dan berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)

Dzikir pada hari tasyriq ada dua macam, di antaranya adalah dzikir yang terikat dengan waktu. Yaitu dzikir berupa kalimat takbir yang dilantunkan setelah shalat lima waktu dalam tiga hari tasyriq tersebut.

Dalam kalimat takbir telah jelas berisi lafal-lafal pengagungan kepada Allah dan pengikraran akan ke-Esaan Allah. Bahkan umat Islam yang tidak berangkat Haji pun berdzikir dengan kalimat takbir ini. Adapun macam dzikir yang lain adalah lafal-lafal dzikir secara umum yang tidak terkait dengan waktu tertentu.

Inilah di antara tujuan ibadah Haji dari sisi lantunan kalimat talbiyyah dan takbir. Dua dzikir ini adalah bentuk ikrar seorang hamba akan keagungan Allah, ke-Esaan Allah dan ikrar untuk menjahui segala bentuk kesyirikan serta apa pun yang dapat membawa kesyirikan.

Oleh karena itu, dari sini bisa dilihat tercapai dan tidaknya tujuan ibadah Haji seseorang. Sebab tujuan inilah yang membedakan antara Haji yang dilakukan oleh orang yang beriman kepada Allah dan orang yang menyekutukan Allah.

Lantas apa bedanya dengan orang musyrik bila pulang dari Haji namun masih menyekutukan Allah? Padahal seharusnya ibadah Haji dapat mengobati kesyirikannya.

Meskipun dzikir yang diucapkan sama seperti yang diajarkan oleh Rasulullah, lafalnya sama, artinya difahami, namun apa yang diamalkan sangat jauh dari ajaran Allah dan Rasul-Nya. Sehingga umat Islam yang ingin berangkat Haji harus memahami persoalan dasar ini dengan baik. Agar semua yang ia korbankan untuk peribadatan yang besar ini tidak menjadi pengorbanan sia-sia.

Setelah seorang muslim berikrar dengan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menjalankan shaum, maka pada ibadah Haji ini semua amalan tersebut disatukan menjadi sebuah ibadah besar yang terkandung di dalamnya nilai-nilai ibadah sebelumnya. Lantas maukah kita merusak ibadah besar ini dengan dosa yang paling besar, yaitu syirik kepada Allah, padahal Allah mengampuni semua dosa hamba-Nya kecuali syirik. Wallahu a’lam. []

Disarikan dari kitab Al-Jami’ lil Buhuts wa Rasail karya Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badar, Dar Kunuzu Isbiliya, cetakan 1 (2005), hal. 252. Dan Maqashidul Hajj karya Abdul Aziz bin Abdullah Al-Humaidi, Dosen Jami’ah Ummul Qura fakultas Dakwah dan Ushulu Din, hal. 40.

%d bloggers like this: