Nikah Misyar, Apa Hukumnya?

Nikah Misyar, Apa Hukumnya?

Istilah misyaar adalah bentuk shighah mubalaghah dari kata sair yang secara harfiah bermakna berjalan dan tidak menetap lama di sebuah tempat. Misyaar secara harfiah berarti banyak berjalan.

Nikah Misyar

Pernikahan misyar adalah pernikahan yang telah memenuhi semua syarat dan rukun nikah (yaitu ada mempelai laki-laki, mempelai wanita, wali mempelai wanita, dua saksi, ijab – qabul, dan mahar). Namun suami tidak memberikan sebagian hak kepada istrinya atas dasar kerelaan istrinya tersebut.

Biasanya suami mendatangi rumah istrinya pada waktu kapan pun yang ia kehendaki, untuk melakukan hubungan seksual dan keperluan lainnya. Ia tinggal hanya dalam waktu yang singkat dengan istrinya tersebut dan tidak bermalam bersamanya. (Az-Zawaj Al-Urfi Haqiqatuhu wa Hukmuhu wa Atsaruhu, hlm. 98-104 dan Az-Zawaj Al-Urfi Dirasah Fiqhiyah wa Ijtima’iyah wa Naqdiyah, hlm. 316-319)

SEBAB NIKAH MISYAR

Sumayyah Abdurrahman Bahr dalam tesisnya  menjelaskan nikah misyar terjadi karena sebab berikut:

  1. Suami ingin berpoligami, namun tidak mendapatkan izin dari istri pertama atau keluarganya. Lalu ia menikahi istri muda secara diam-diam tanpa pernah memberinya jatah bermalam.
  2. Suami ingin berpoligami, namun ia tidak mampu memberi nafkah lahir atau tempat tinggal bagi istri muda.
  3. Wanita ingin menikah, namun ia tidak memiliki kemampuan untuk meminta seluruh haknya sebagai istri. Biasanya karena ia kurang cantik, kurang kaya, janda, banyak anak, atau sebab lainnya. (‘Uqud az-Zawaj al-Mu’ashirah fi al-Fiqh al-Islami hlm. 74-75)

BEDA NIKAH MISYAR DAN NIKAH MUYASSAR

Perbedaan antara nikah misyar dan nikah muyassar adalah:

  1. Dalam nikah misyar, suami dan istri pernah tinggal bersama dalam satu rumah yaitu rumah istri, walaupun dalam masa waktu yang singkat. Adapun dalam nikah muyassar, suami dan istri tidak pernah hidup serumah.
  2. Dalam nikah misyar, biasanya suami telah memiliki istri lain, maka ia mensyaratkan bagi istri barunya untuk tidak mendapat jatah hak bermalam. Adapun dalam nikah muyassar, suami tidak menetapkan syarat tersebut, sebab pernikahannya terjadi karena ketidak mampuan suami untuk menyediakan rumah bagi istrinya, bukan karena ia telah memiliki istri lain. (‘Uqud az-Zawaj al-Mu’ashirah fi al-Fiqh al-Islami, hlm. 105)

Hukum Nikah Misyar

NIKAH MISYAR SAH DAN BOLEH

Sebagian ulama kontemporer seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Abdul Aziz Alu Syaikh, Abdullah bin Mani’, Muhammad Sayid At-Thanthawi, Yusuf al-Qaradhawi, Wahbah az-Zuhaili, Ahmad al-Haji al-Kurdi, dan Su’ud asy-Syuraim berpendapat nikah misyar boleh.

Argumentasi mereka adalah:

  1. Akad nikah tersebut telah memenuhi semua syarat dan rukun nikah, sehingga bernilai sah dan halal.
  2. Jika sebuah syarat dalam pernikahan dibuat demi kemaslahatan suami dan istri, atau salah satu dari keduanya, dan keduanya ridha terhadap syarat tersebut, maka ia menjadi syarat yang sah dan wajib ditepati.

Hal itu berdasar hadits dari Uqbah bin Amir RA bahwa Nabi SAW bersabda, “Syarat yang paling wajib kalian penuhi adalah syarat yang dengannya kalian menghalalkan kemaluan istri kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Juga hadits Bukhari dan Muslim bahwa Ummul Mukminin Saudah binti Zam’ah RA merelakan hak malamnya untuk madunya, Aisyah RA. Hal itu kemudian dibenarkan oleh turunnya surat An-Nisa’ ayat 128.

NIKAH MISYAR DILARANG

Sebagian ulama kontemporer seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Dr. Muhammad az-Zuhaili, Dr. Ibrahim Fadhil, dan lainnya berpendapat nikah misyar itu dilarang.

Argumentasi mereka adalah:

  1. Ia biasa dilangsungkan secara sembunyi-sembunyi, sehingga seringkali menjadi sarana terjadinya zina dan semisalnya. Sarana menuju perbuatan haram dihukumi haram, sebagai bentuk dari saddu dzari’ah.
  2. Ia tidak merealisasikan tujuan agung pernikahan seperti ketenangan jiwa, kasih sayang, melahirkan keturunan, mengasuh anak dan istri, dan berbuat adil di antara para istri.
  3. Ia seringkali mengandung unsur pelecehan dan paksaan secara tidak langsung terhadap istri untuk merelakan hak nafkah batin, tempat tinggal, atau hak lainnya.

ULAMA YANG TIDAK BERPENDAPAT

Sebagian ulama kontemporer seperti Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Umar bin Sa’ud al-Ied, dan Muhammad Falih al-Mutlaq bersikap tawaqquf, yaitu menahan diri, tidak memperbolehkan dan tidak pula melarang nikah misyar.

Sikap tersebut antara lain disebabkan oleh realita banyak orang yang melampaui batas dalam melakukan nikah misyar. Bahkan, sebagian perusahaan telah menjadikannya sebagai bisnis dengan biaya tertentu.

KAJIAN PENDAPAT

Dr. Abdul Malik bin Yusuf al-Muthlaq dalam disertasinya menyimpulkan nikah misyar tidak bisa dinyatakan secara tegas sebagai pernikahan yang haram. Meski demikian, tidak selayaknya apabila nikah misyar dianjurkan.

Kesimpulan itu berdasar kepada argumentasi sebagai berikut:

  1. Secara bentuk, akad nikah misyar adalah akad yang sah. Namun secara substansi, nikah misyar tidak bersesuaian dengan sebagian hikmah syariat dan tujuan luhur dari pernikahan.

Nikah misyar hanya merealisasikan satu tujuan nikah saja, yaitu melampiaskan hasrat seksual secara halal. Tapi ia tidak membangun rumah tangga muslim di atas landasan kasih sayang dan ketentraman jiwa. Ia juga tidak merealisasikan pendidikan generasi anak muslim yang shalih dan shalihah.

  1. Akad nikah berkaitan erat dengan hubungan seksual. Kaedah fiqih menegaskan bahwa hukum asal hubungan seksual adalah haram, dan jika pada diri seorang wanita terdapat kemungkinan halal dan haram dalam urusan hubungan seksual, maka hukum haram harus dikedepankan. Kehati-hatian dalam urusan akad nikah haruslah lebih ditegaskan dibanding urusan-urusan lainnya. Oleh sebab itu, nikah misyar tetap mengandung unsur syubhat.
  2. Kaedah syariat menegaskan menolak kerusakan didahulukan atas meraih manfaat. Kerusakan yang terjadi dalam nikah misyar jauh lebih banyak dari manfaat yang diraih. Terkadang kerusakan tersebut menihilkan manfaatnya. Di antara kerusakannya adalah:
  • Laki-laki yang menikah dengan mudah, cenderung mudah untuk menceraikan istrinya.
  • Istri tidak mendapatkan nafkah batin dan menjaga kehormatan secara sempurna. Sebab, suaminya tidak bersamanya dalam satu rumah dalam jangka waktu yang lama.
  • Karena tidak hadir dalam waktu yang lama, suami tidak mampu menjadi pemimpin yang sebenarnya bagi istri dan anak-anaknya. Ia tidak memberikan ghirah, bimbingan, dan pendidikan yang layak kepada istrinya. Anak-anak menjadi korban, sebab ayahnya tidak ada di rumah dalam waktu yang lama, sedangkan ibunya sibuk mencari nafkah.
  • Nikah misyar bisa menyingkirkan sistem nikah poligami yang tegak di atas dasar keadilan di antara para istri. Nikah misyar menciptakan poligami gaya baru yang tegak di atas dasar kezaliman dan kecurangan terhadap sebagian istri. (Az-Zawaj al-Urfi Dirasah Fiqhiyyah wa Ijtima’iyyah wa Naqdiyah hlm. 369-370)

Wallahu a’lam. []

Abu Ammar

 

baca juga: Pernikahan Muyassar, Apa Hukumnya?

 

Referensi:

Ahmad bin Yusuf ad-Daryuwaisy, Az-Zawaj al-Urfi Haqiqatuhu wa Ahkamuhu wa Atsaruhu wa al-Ankihah Dzatu ash-Shilah bihi, Riyadh: Darul Ashimah, cet. 1, 1426 H.

Sumayyah Abdurrahman Bahr, ‘Uqud az-Zawaj al-Mu’ashirah fi al-Fiqh al-Islami, Gaza: Islamic University Gaza, cet. 1, 1425 H.

Abdul Malik bin Yusuf al-Muthlaq, Az-Zawaj al-Urfi Dirasah Fiqhiyyah wa Ijtima’iyyah wa Naqdiyah, Riyadh: Darul Ashimah, cet. 1, 1426 H.

 

%d bloggers like this: