Niat: Penentu Suatu Hukum

Niat, Penenru suatu hukum

اَلْأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا

“Setiap sesuatu ditentukan oleh niat/tujuannya”

Kedudukan dan Dalil Kaidah

Kaidah ini merupakan kaidah pertama dari lima kaidah pokok fikih yang bersifat menyeluruh (al-qawa’id al-kulliyyah al-kubra). Meski sedemikian singkat dan simpel susunannya, namun ia memiliki makna yang umum, luas, dan mendalam. Makna tersebut mencakup setiap apa saja yang manusia lakukan, baik berupa ucapan maupun perbuatan.

Kaidah ini disimpulkan dari banyak sekali nash-nash al-Quran dan Sunnah yang menjelaskan mengenai niat seorang manusia, yang termasyhur diantaranya yaitu sabda Rasulullah b, “Setiap amalan hanya ditentukan oleh niat(nya)” [HR. Bukhari dan Muslim].

Makna Kaidah

Kaidah ini terdiri dari dua kata kunci, yaitu: (1) al-umur, dan (2) maqashid. Al-umur secara bahasa adalah bentuk jamak dari al-amr. Al-amr sendiri memiliki beberapa arti yaitu: kondisi (al-hal), keadaan (asy-sya`n), peristiwa (al-haditsah), dan perbuatan (al-fi’l). Jika disederhanakan, menurut bahasa, al-amr bisa dimaknai sebagai setiap kejadian atau peristiwa, baik yang bersumber dari manusia, hewan, maupun alam. Namun lantaran kaidah ini berkaitan dengan fikih, maka hal itu hanya dikhususkan pada setiap perbuatan manusia, baik berupa ucapan maupun perbuatannya.

Sementara kata kunci kedua, maqashid, -secara bahasa- merupakan bentuk jamak dari maqshad, yang berarti tekad (al-i’tizam), arah tujuan (at-tawajjuh), dan maksud (al-amm). Selain arti-arti tersebut, terkadang maqshad juga sering dimaknai dengan niat. Arti terakhir inilah yang dimaksudkan dalam kaidah ini. Dari penjelasan ini, kaidah al-umuru bi-maqashidiha jika diterjemahkan secara bebas yaitu “setiap sesuatu yang dilakukan oleh manusia ditentukan oleh niat mereka masing-masing”.

Adapun makna dari kaidah tersebut menurut istilah adalah setiap amalan dan tindak-tanduk seorang mukallaf, baik berupa ucapan maupun perbuatannya, akan membuahkan hasil dan konsekuensi hukum syar’i yang berbeda sesuai dengan niat dan tujuan seorang mukallaf ketika melakukan amalan atau perbuatan tersebut. [Muhammad Shidqi bin Ahmad Al-Burnu, Al-Wajiiz fi Iidhaahi Qawaa’idil Fiqhil Kulliyyah, 123-124]

Definisi Niat

Secara istilah, niat dapat didefinisikan secara umum dan secara khusus. Secara umum, niat didefinisikan sebagai keinginan hati terhadap sesuatu yang dianggapnya selaras dengan suatu tujuan, baik tujuan itu adalah untuk meraih suatu manfaat atau menghindar dari suatu madarat, dan baik manfaat dan madarat itu akan diraih atau dihindari pada waktu sekarang atau yang akan datang.

Adapun secara khusus, niat didefinisikan sebagai keinginan untuk melakukan ketaatan dan mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah l dengan melakukan suatu perbuatan yang diperintahkan syariat atau dengan meninggalkan sesuatu perbuatan yang dilarang syariat. [Al-Wajiiz fi Iidhaahi Qawaa’idil Fiqhil Kulliyyah, 124-125]

Dari dua definisi niat tersebut dapat disimpulkan bahwa definisi niat secara umum mencakup keinginan ketika melakukan amalan-amalan syariat dan dunia, sedangkan definisi niat secara khusus terbatas pada amalan-amalan yang disyariatkan.

(baca juga: PENDAPAT NYLENEH SEPUTAR N IAT)

Tempat Niat

Niat merupakan amalan hati, oleh itu tempat niat adalah di dalam hati. Niat tidak berkaitan dengan amalan anggota badan [Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Syarh Al-Arba’iin An-Nawawiyyah, 12]

Ibadah yang tidak disyaratkan adanya niat

Ibadah-ibadah yang tidak termasuk dari suatu adat dan tidak tumpang tindih dengan lainnya -lantaran ibadah-ibadah tersebut adalah murni ibadah- maka tidak disyaratkan adanya niat. Ibadah-ibadah tersebut seperti iman kepada Allah swt, membaca Al-Quran dan berdzikir. Ini karena pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut memiliki kekhususan dibanding dengan lainnya. Kecuali jika ibadah membaca Al-Quran adalah suatu nadzar, maka disyaratkan adanya niat nadzar ketika membaca Al-Quran untuk membedakan antara membaca Al-Quran yang sunnah dan yang wajib. [Al-Wajiiz fi Iidhaahi Qawaa’idil Fiqhil Kulliyyah, 127]

Kapan disyaratkan menentukan niat secara spesifik?

Menentukan niat ibadah tertentu secara spesifik berkaitan dengan longgar tidaknya waktu untuk melaksanakan ibadah tersebut. Jika suatu ibadah waktu pelaksanaannya longgar sehingga memungkinkan untuk melaksanakan ibadah sejenisnya (wajib muwassa’), maka disyaratkan menentukan niat secara spesifik. Contohnya adalah shalat. Untuk itu, seorang mukallaf yang ingin melaksankan shalat maka dia harus menentukan niat shalatnya secara spesifik; apakah shalatnya tersebut shalat fardhu atau nafilah,shalat yang dikerjakan pada waktunya (ada’), qadha’ atau nazar; dan apakah shalat itu Zhuhur, Ashar atau, shalat Dhuha atau shalat Taubat, dan sebagainya.

Namun jika ibadah tersebut waktu pelaksanaannya hanya bisa untuk ibadah itu saja dan tidak bisa untuk melaksanakan ibadah yang sejenisnya, maka fuqaha berbeda pendapat. Menurut fuqaha Hanafiyah, tidak disyaratkan menentukan niat secara spesifik, cukup meniatkan ibadah tersebut secara mutlak. Contohnya adalah shiyam Ramadhan. [Al-Wajiiz fi Iidhaahi Qawaa’idil Fiqhil Kulliyyah, 127-128] Waktu yang bisa digunakan untuk shiyam Ramadhan hanya bisa digunakan untuk sekali shiyam; tidak bisa untuk lainnya. Oleh itu, saat akan menunaikan shiyam Ramadhan seorang mukallaf tidak disyaratkan harus menentukan niat shiyam Ramadhan, namun cukup niat shiyam saja secara mutlak.

Niat semata tanpa direalisasikan tidak mempunyai konsekuensi hukum di dunia

Diantara yang perlu diperhatikan dalam memahami kaidah ini adalah bahwa niat semata tanpa dibarengi dengan tindakan nyata maka tidak mempunyai konsekuensi hukum yang berlaku di dunia. Sebagai contoh, orang yang sekedar berniat mentalak istrinya tanpa ditindaklanjuti dengan ucapan penjatuhan talak maka niat semata tersebut tidak  menyebabkan jatuhnya talak pada istrinya. [Abdul Karim Zaidan, Al-Wajiiz fi Syarhi Al-Qawaa’id Al-Fiqhiyyah fi Asy-Syari’ah Al-Islaamiyyah, 11]

Demikian juga jika seorang mukallaf berniat untuk mengambil sesuatu tanpa izin pemiliknya (ghashab) namun hal itu tidak diwujudkan dengan perbuatan yang nyata maka al itu tidak menyebabkan adanya suatu hukum tertentu.

Pahala dan dosa ditentukan niat orang yang melakukannya

Poin yang juga tidak kalah penting adalah bahwa suatu hukum dapat berubah menjadi halal atau haram berdasarkan niat pelakunya. Contohnya adalah pernikahan. Pernikahan dalam tradisi Islam hukum dasarnya adalah sunnah. Akan tetapi jika tujuan dari pernikahan tersebut adalah untuk menimbulkan suatu bahaya pada istri atau untuk menzaliminya maka hukum dapat berubah menjadi haram. Demikian juga seseorang yang menikahi wanita yang telah ditalak tiga oleh suaminya dengan tujuan agar mantan suami wanita tadi dapat menikahinya kembali, hukumnya berubah dari yang asalnya sunnah menjadi haram.

Contoh Kaidah

Jika sesorang berkata kepada kepada temannya, “Ambillah uang Rp 100.000 ini”,  maka jika dia meniatkan bahwa pemberian itu adalah pemberian sukarela maka hal itu dikategorikan sebagai hadiah. Namun jika dia memaksudkannya sebagai pinjaman hutang atau titipan maka pinjaman itu harus dikembalikan oleh yang dipinjami dan titipan uang tersebut harus dijaga oleh orang yang diberikan amanah. Bentuk pemberiaannya bisa saja serupa, namun perbedaan niat dan tujuan pemberian itu mempengaruhi hukum-hukum yang ikut serta di belakangnya.

Contoh lainnya adalah seseorang yang menemukan barang berharga (luqathah) di jalan kemudian mengambilnya. Jika dia mengambil barang tersebut dengan niat untuk memilikinya (ghashab) maka dia harus bertanggungjawab jika terjadi kerusakan atau hilangnya barang tersebut. Namun jika dia berniat ketika mengambilnya untuk dikembalikan pada pemiliknya yang sah, maka dia tidak bertanggung jawab atas kerusakan atau hilangnya barang tersebut. [Al-Wajiiz fi Iidhaahi Qawaa’idil Fiqh Al-Kulliyyah, h. 124] (Ali Shodiqin)

 

 

 

%d bloggers like this: