Mudahnya Logo Halal Di Jerman

Mudahnya Logo Halal Di Jerman

Bicara soal Jerman, sulit rasanya untuk tidak bicara bir. Jerman adalah negara pengonsumsi bir terbesar kedua di Eropa. Bahkan di Bavaria, bir dimasukkan dalam kategori makanan, bukan miras. Padahal, mahasiswa Indonesia di Jerman cukup banyak. Pada tahun 2014 tercatat 4.000 mahasiswa Indonesia yang belajar di Jerman. Program Debt Swapt dari pemerintah bahkan menargetkan angka 5.000 mahasiswa untuk sekolah di Jerman. Debt Swapt adalah program penghapusan hutang Indonesia kepada Jerman yang diwujudkan dalam program pendidikan.

Tinggal di negeri dengan jumlah muslim hanya sekira 5 % dari total + 86 Juta jiwa, adakah muslimin di Jerman kesulitan mendapatkan produk halal?

Menurut salah satu responden Majalah Hujjah, Harsono, salah seorang Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Environmental Engineering di Universitas Stuttgart, tidak sulit mendapatkan makanan halal di Jerman. Apalagi di kota-kota besar seperti Stutgart atau Munchen, prosentase penduduk Muslim bisa mencapai 10 % dari total penduduk kota.
Prosentase terbesar warga muslim adalah keturunan Turki yang memang sejak lama tinggal di Jerman. Sebagian lain adalah warga Maroko, Libanon, Iran dan warga Jerman yang berpindah agama menjadi seorang muslim. Jumlah muslim Jerman semakin bertambah dari tahun ke tahun.

Diperkirakan, perkembangan muslim di Jerman bisa melampui Perancis yang menjadi negara dengan muslim terbanyak di Eropa. Tak heran jika berbagi firma pun mulai menyediakan produk-produk halal untuk konsumen muslim.

Makanan halal bisa di dapat di tokotoko muslim yang kebanyakan adalah milik keturunan Turki. Banyak juga toko-toko dan resto Arab dan Asia Selatan yang menjual makanan halal. Doner-doner kebab bisa dengan mudah didapatkan di berbagai tempat. Bahkan, kebab termasuk makanan favorit di Jerman. Ada juga supermarket Turki yang menyediakan aneka ragam daging bersertifikat halal.

Khusus untuk daging, undang-undang di Jerman menetapkan bahwa penyembelihan harus melalui pembiusan. Padahal, jika tidak hati-hati pembiusan bisa menyebakan daging sembelihan menjadi haram jika faktor utama penyebab kematian adalah proses pembiusan. Oleh sebab ini, tidak sedikit pedagang muslim yang memilih daging import dari negara muslim.

Adapun mengenai sertifikasi halal, di Jerman memang belum ada otorisasi untuk sertifikat halal. Harsono menuturkan, sertifikat halal dikeluarkan oleh komunitas dan organisasi muslim. Hanya saja, organisasi ini bukan organisasi resmi negara yang memiliki otorisasi untuk memberikan sertifikat halal sebagaimana halnya LPPOM MUI di Indonesia. Berbeda dengan muslim di UK, Prancis atau US yang memiliki badan resmi untuk sertifikat halal.

Untuk mendapatkan label halal, pemilik resto cukup meminta kepada organisasi muslim tertentu untuk melakukan inspeksi dan memberikan sertifikat. Misalnya, ada seorang muslim Turki yang ingin membuka resto atau toko. Dia bisa mengajukan sertifikasi kepada salah satu organisasi muslim. Organisasi ini akan melakukan inspeksi danmemberikan label halal. Ada juga organisasi yang menginduk ke sebuah organisasi besar di Turki dan label halalnya juga menginduk ke lembaga resmi yang ada di Turki.

Selain itu, tren vegetarian di Jerman cukup tinggi. Warga Jerman mulai banyak yang memilih menu makanan berbahan sayuran dan tanpa daging. Padahal dahulunya, sosis babi merupakan makanan favorit. Tren ini juga memudahkan muslim untuk mendapatkan makanan yang setidaknya, pasti tidak mengandung unsur hewan.

Informasi lebih lanjut mengenai produk-produk halal juga bisa didapat dari berbagai forum online muslim Jerman. Ada juga fanpage-fanpage facebook yang menyediakan info seputar produk dan resto halal di Jerman, misalnya fanpage: HalalCheck. Ada juga situs-situs penyedia info produk halal di Jerman seperti halalsertifikat.de dan muslim-markt-forum.de. Hari ini, informasi lebih mudah didapat dengan semakin mudahnya komunikasi melalui berbagai aplikasi seperti Whatsapp, Line, BBM dan lain sebagainya.

Di manapun berada, makanan halal adalah kebutuhan. Memperhatikan halalharam makanan adalah habit seorang muslim. Meskipun tinggal di negeri dengan mayoritas non muslim, seorang muslim harus tetap berusaha sekuat tenaga mencari makanan halal. Muslim sejati tidak akan mengabaikan halal-haram makanannnya. Barangkali sebagian orang ada yang berpikir, “Bukankah jika tidak tahu yang kita makan adalah makanan haram, kita tidak dosa?”

baca juga: Booming Sertifikasi Halal Di Seluruh Dunia

Benar, jika tidak tahu kalau makanan yang kita konsumsi sebenarnya haram, kita memang tidak terkena dosa. Namun, tidak tahu yang didasari sikap tidak mau tahu berbeda dengan tidak tahu tapi sudah berusaha mencari tahu. Makanan haram yang dikonsumsi akan tetap memberi dampak buruk. Doa sulit terkabul dan hilangnya keberkahan. Tentunya ini sangat merugikan.

Mencari dan menyeleksi yang halal dari yang haram barangkali akan membuat kita sedikit ribet. Di beberapa tempat, hal itu bahkan akan menyulitkan. Tapi mengingat besarnya manfaat yang diraih dan besarnya madharat yang bisa dihindarkan, semua itu layak. Wallahua’lam. [

%d bloggers like this: