Menyucikan Ragi Pembuat Minuman Keras

Menyucikan Ragi Pembuat Minuman Keras

Pembuatan minuman keras melibatkan ragi khusus yang masuk dalam genus: Saccharomyces Cerevisiae. Ragi ini biasa disebut khamir atau pembuat khamer. Setelah menghasilkan bir dan wine, jamur atau yeast akan dipisahkan. Yeast ini tidak sudah tidak aktif dan tidak mampu melakukan aksi fermentasi sehingga tidak bisa digunakan untuk pengembang adonan roti. Namun, sisa atau hasil sampingan berupa yeast tak aktif ini masih memiliki banyak manfaat. Ragi hasil samping olahan bir ini disebut brewer yeast.

Brewer yeast memiliki kandungan gizi tinggi dan beberapa kegunaan. Brewer yeast digunakan dalam industri pangan, khususnya untuk membuat flavour atau perisa sebagai perisa daging-dagingan. Perisa daging-dagingan dapat kita temukan pada makanan seperti sosis, nugget, dan beberapa snack. Dalam kosmetika dan food suplement, brewer yeast digunakan sebagai makanan suplemen untuk anti jerawat. Juga sebagai suplemen untuk memenuhi kebutuhan vitamin B komplek.

Brewer Yeast juga digunakan sebagai suplemen untuk mengusir kutu pada anjing dan kucing. Zat thimane akan diserap dan dilepas melalui kulit. Zat ini tidak disukai oleh kutu sehinga kulit hewan lebih sehat.

Dalam bidang medis, brewer yeast digunakan untuk membantu pengobatan diabetes. Kandungan kromium dalam brewer yeast dapat menurunkan level insulin. Penggunaan brewer yeast harus dengan dosis tertentu, sebab selain memiliki manfaat ada pula efek samping yang cukup berbahaya bagi tubuh.

Sebagai khamir dalam pembuatan minuman keras, tentunya brewer yeast berinteraksi dan bahkan masih mengandung zat khamer (bir atau wine). Padahal, minuman keras adalah zat yang hukumnya haram. Sebagian ulama mengategorikannya sebagai benda yang najis dan karenanya harus dihilangkan saat mengenai anggota tubuh atau pakaian yang digunakan shalat.

Sesuai fatwa dari MajeLis Ulama Indonesia (MUI) dalam fatwa no. 10 tahun 2011, ekstrak ragi dari sisa pengolahan bir (brewer yeast) dapat disucikan dengan cara menghilangkan tiga sifat dari benda najis: rasa, bau, dan warna.

Keputusan ini didasarkan pada beberapa dalil, di antaranya:

Dari Maimunah RA istri nabi SAW (artinya), “Nabi SAW ditanya tentang (hukum) tikus yang jatuh di keju kemudian mati di dalamnya. Beliau SAW menjawab, ‘Buang keju yang tertimpa tikus dan sekitarnya, kemudian makanlah yang lainnya!’.” (HR. Al-Bukhari)

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila tikus jatuh di dalam keju, (maka lihatlah), jika (keju tersebut) padat maka buanglah (keju yang tertimpa tikus) dan sekitarnya (lalu makanlah yang lainnya), tapi (jika keju tersebut) encer maka janganlah kamu mendekatinya!” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Juga mengacu pada beberapa pendapat ulama madzhab di antaranya:

Pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami, “Sesuatu yang terkena najis mutawassithah (najis sedang), jika najis ‘aini (najis zatnya) yaitu najis yang bisa terdeteksi dengan panca indera, maka wajib menghilangkan zat(najis)nya, yaitu dengan menghilangkan rasa, warna dan baunya. Dan jika untuk menghilangkan ketiganya harus menggunakan sabun maka harus menggunakannya. Dan tidak masalah masih terdeteksinya salah satu dari warna atau baunya jika sulit untuk menghilangkannya, seperti warna yang masih melekat setelah dicuci dan tidak berbekas kecuali bekasnya dan seperti bau khamr, karena alasan masyaqqah (sulit menghilangkannya). Tapi jika jika dua-duanya dari bau dan warna najis masih berbekas di tempat yang telah dicuci maka tetap dianggap najis, walaupun sulit menghilangkan keduanya. Begitu juga masih dianggap najis jika masih berbekas rasanya saja, karena sesungguhnya mudah menghilangkannya dan jarang yang kesulitan.”

Dalam fatwa ini dijelaskan bahwa ekstrak ragi (yeast extract) dari sisa pengolahan bir (brewer yeast) hukumnya mutanajjis (barang yang terkena najis) yang menjadi suci setelah dilakukan pencucian secara syar’i (tathhir syar’an).Pensucian secara syar’i adalah dengan salah satu cara sebagai berikut:

Pertama, mengucurinya dengan air hingga hilang rasa, bau dan warna birnya. Kedua, mencucinya di dalam air yang banyak hingga hilang rasa, bau dan warna birnya. Apabila telah dilakukan pencucian sebagaimana poin nomor dua secara maksimal, akan tetapi salah satu dari bau atau warna birnya tetap ada karena sulit dihilangkan maka hukumnya suci dan halal dikonsumsi.

baca juga: Arak Tidak Haram?

Dalam proses industri, brewer yeast dikumpulkan dari berbagai pabrik penghasil bir. Kemudian rasa phati dihilangkan melalui proses debittering dengan larutan natrium hidroksida dan natrium fosfat melalui jet separator. Lalu ekstrak akan dikeringkan dan keluar menjadi bubuk.

Intinya: brewer yeast dapat disucikan dengan metode tertentu yang dapat menghilangkan bau, rasa dan aroma. Penggunaan yeast setelah penyucian hukumnya boleh baik sebagai kosmetik maupun suplemen makanan. Wallahua’lam. []

 

Anwar

%d bloggers like this: