Menyucikan Najis Anjing Dan Babi

وَيُغْسَلُ الإِنَاءُ مِنْ وُلُوْغِ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيْرِ سَبْعَ مَرَّاتٍ إِحْدَاهُنَّ بِالتُّرَابِ وَيُغْسَلُ مِنْ سَائِرِ النَّجَاسَاتِ مَرَّةً تَأْتِي عَلَيْهِ وَالثَّلاَثَةُ أَفْضَلُ

“Bejana yang terkena jilatan anjing dan babi harus dibasuh 7 kali (dan) salah satunya dengan tanah. Sedang najis yang lain cukup dibasuh sekali namun 3 kali lebih baik.”

 

JILATAN ANJING

Rasulullah bersabda yang artinya, “Sucinya bejanamu yang dijilat anjing adalah dengan cara mencucinya sebanyak tujuh kali dan yang pertama dengan tanah.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Perkara najis dan tidaknya anjing memang diperselisihkan oleh para ulama, Imam Malik termasuk yang mengatakan bahwa anjing tidaklah najis, sekalipun itu air liurnya. Adapun sabda Rasulullah yang memerintahkan untuk mencuci najis jilatan anjing sebanyak tujuh kali maka itu adalah salah satu bentuk nilai ta’abud (ibadah yang ditetapkan syariat) semata, bukan karena kenajisannya.

Sedangkan menurut mayoritas ahli ilmu maka air liur anjing itu najis, termasuk yang berpendapat demikian adalah mazhab Syafi’i, dan ini merupakan pendapat yang dirajihkan oleh mayoritas para ulama.

Sebenarnya dalam mazhab Syafi’i sendiri terdapat dua pendapat, sebagian berpendapat najisnya seluruh tubuh anjing; termasuk kencing, bulu, darah, keringat, rambut, terlebih lagi liurnya. Tidak ada bedanya antara air liur atau bagian tubuh yang lain, sehingga berkesimpulan pada wajibnya mensucikan apa yang dikenai oleh tubuh anjing sebanyak tujuh kali cucian dan salah satunya dengan tanah.

Sebagian lain berpendapat bahwa yang wajib dicuci sebanyak tujuh kali adalah apa yang terkena air liur anjing saja, baik karena dijilat atau karena hal lain. Adapun anggota tubuh anjing yang lain maka cukup dicuci sebagaimana najis-najis biasa. Pendapat kedua ini dinilai lebih kuat dari segi dalil maupun maksud syariatnya. (Al-Majmu’ syarhu al-Muhadzab, An-Nawawi, 2/586)

 

Baca Juga: Teringat Najis Ketika Shalat

 

Imam an-Nawawi juga menegaskan perbedaan pendapat sebagaimana yang beliau sebutkan dalam al-Majmu’,

“Terjadi perbedaan pendapat dalam persoalan jilatan anjing. Menurut mazhab kami, semua yang terkena jilatan anjing adalah najis, wajib mencucinya sebanyak tujuh kali cucian dan salah satunya dengan tanah. Demikian ini juga merupakan pendapat mayoritas para ulama.”

Berangkat dari hadits di atas Imam an-Nawawi juga menegaskan bahwa najis jilatan anjing tidak dapat disucikan melainkan dengan mencucinya sebanyak tujuh kali; yang salah satunya dengan tanah. (Al-Majmu’ syarhu al-Muhadzab, An-Nawawi, 2/580)

Berkenaan menggantikan tanah dengan sabun atau sejenisnya, ada tida pendapat dalam mazhab Syafi’i:

Pertama: diperbolehkan, sebagaimana bolehnya menggantikan batu untuk beristinjak.

Kedua: tidak diperbolehkan, karena ini adalah syariat ibadah yang melibatkan tanah, sehingga tidak bisa digantikan dengan yang lain sebagaimana debu untuk bertayamum.

 

Baca Juga: Hukum Transaksi Benda Najis

 

Ketiga: apabila ada tanah maka tidak berlaku penggantinya dan apabila tidak ada tanah maka boleh menggantikannya dengan yang lain. Dari tiga pendapat ini, Imam an-Nawawi merajihkan pendapat yang pertama, yaitu boleh menggantikan tanah dengan sabun atau yang sejenisnya selama tujuannya tercapai. (Al-Majmu’ syarhu al-Muhadzab, An-Nawawi, 2/598. Kifayatu al-Akhyar, al-Hushni, 112)

Oleh karena najisnya jilatan anjing, maka sisa gigitan anjing pun menjadi najis, baik gigitan anjing yang tidak karena diperintahkan atau gigitan anjing yang diperintahkan; yaitu dalam berburu. Namun demikian, sebagian ulama mazhab Syafi’i mengecualikan pada gigitan anjing dalam perburuan, yaitu tidak wajib mencucinya sebanyak tujuh kali jika memang menyulitkan, sebab itu adalah bagian yang dimaafkan oleh syariat. (Al-Majmu’ Syarhu al-Muhadzab, an-Nawawi, 9/124)

JILATAN BABI

Adapun jilatan babi, maka ada dua pendapat dalam mazhab Syafi’i. Sebagian ulama mazhab Syafi’i menyamakan antara jilatan anjing dan jilatan babi, karena babi adalah binatang yang dzatnya memang sudah najis, tentunya kenajisan babi lebih “pantas” disucikan tujuh kali daripada anjing. Ini merupakan qaul jadid Imam asy-Syafi’i.

Sedangkan menurut pendapat qaul qadim, menyucikan jilatan babi hanya cukup dicuci sebanyak satu kali saja sebagaimana najis-najis biasa. Pendapat kedua ini dipilih dan dirajihkan oleh Imam an-Nawawi, alasannya adalah karena tidak ada dalil yang mewajibkannya, terlebih lagi mencuci najis jilatan anjing adalah persoalan ubudiyah yang tidak begitu saja dapat mengqiyaskannya pada jilatan babi. (Kifayatu al-Akhyar, Al-Hushni, 111)

Adapun selain najis jilatan anjing maka cukup dicuci satu kali, namun akan lebih utama jika dicuci sebanyak tiga kali, tentunya setelah memperhatikan hilangnya aroma; warna; dan rasa. Wallahu a’lam. [Arif Hidayat]

%d bloggers like this: