Menyikapi Tulisan Seperti Menyikapi Ucapan

tulisan adalah

“Tulisan itu seperti ucapan”

Selain dengan ucapan lisan, cara lain yang digunakan oleh seseorang untuk mengungkapkan suatu maksud dan tujuannya adalah dengan tulisan. Sejak manusia mengenal tulisan untuk mengungkapkan suatu maksud dan tujuannya, maka sebenarnya sejak itu juga telah lahir suatu pengakuan dan tradisi bahwa apa yang tertulis sama dengan apa yang terucap secara lisan. Lantaran inilah, para ahli fikih memasukkan kaidah di atas dalam turunan kaidah induk al‘adah muhakkamah (adat bisa dijadikan pertimbangan hukum)

Kaidah ini berlaku untuk hampir semua jenis transaksi jual beli dan akadakad lainnya seperti pinjam-meminjam, pengalihan hutang, dan nikah. Hanya saja untuk keabsahan akad pernikahan tergantung dengan dibacakannya tulisan tersebut oleh si penerima surat dan mengumumkan persetujuannya dengan dihadiri oleh saksi-saksi.

MAKNA KAIDAH

Dalam bahasa Arab, kata ‘kitab’ berasal dari kataba-yaktubu ( ًبًتْكَ – ي َبَتَك) yang berarti menulis. Sehingga ‘kitab’ bisa diartikan dengan tulisan. Selain berarti tulisan, ‘kitab’ juga memiliki arti buku, surat, kertas tulis, takdir dan keputusan, serta kewajiban.

Secara khusus, ‘kitab’ (tulisan) yang dimaksud dalam kaidah ini adalah tulisan yang berisi ungkapan ijab (serah) atau qabul (terima) yang berasal dari salah seorang dari dua orang yang melakukan transaksi kepada orang lainnya. Seperti di dalamnya ada ungkapan dari seorang pembeli, “Saya membeli dari Anda barang itu dengan harga sekian” kepada seorang penjual. Sementara dalam tulisan yang berasal dari penjual ditemukan ungkapan, “Saya terima” atau “Saya jual kepada Anda barang tersebut sebagaimana harga yang Anda sebutkan.” (Shalih bin Ghanim asSadlan, Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa Ma Tafarra’a ‘Anha, h. 467)

Sedangkan kata ‘khithab’ berasal dari khathaba-yakhthubu yang berarti berbicara dan ucapan dengan lisan. Selain berarti ucapan dengan lisan, ‘khithab’ juga bisa diartikan dengan surat, yaitu ungkapan dengan menggunakan tulisan. Namun ‘khithab’ umumnya dipakai untuk makna yang pertama, yaitu sesuatu yang diungkapkan secara lisan.

Dari keterangan di atas, dapat dipahami bahwa maksud dari kaidah di atas yaitu suatu ungkapan berupa tulisan seperti ungkapan yang disampaikan lewat lisan. Oleh itu, konsekuensi yang berlaku untuk suatu ungkapan yang diucapkan secara lisan juga berlaku untuk ungkapan yang disampaikan melalui tulisan. (Muhammad Shidqi bin Ahmad al-Burnu, Al-Wajiz fi Idhah Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah, h. 301)

SYARAT TULISAN YANG DITERIMA

Akan tetapi, tidak semua tulisan bisa diterima dan dihukumi seperti ucapan. Ada dua syarat yang harus dipenuhi agar tulisan bisa diterima dan dapat dijadikan sebagai pijakan keputusan atau hukum. Kedua syarat itu yaitu: (1) tulisan itu jelas dan dapat dibaca; (2) tertulis dengan huruf yang umumnya berlaku dan di atas sarana yang umumnya dipakai untuk menulis.

Oleh itu, tulisan yang ditutupi dengan coret-coretan, atau sudah memudar sehingga sulit dibaca, atau ditulis di atas air dan di udara maka tulisan itu tidak bisa diterima. Karena tulisan seperti tulisan itu tidak jelas terlihat sehingga membuatnya tidak dapat dibaca.

BACA JUGA: Mempertimbangkan Kebiasaan Dalam Bedalil

Suatu tulisan juga tidak bisa diterima meski tulisan itu jelas terlihat namun sulit dibaca dan dipahami artinya. Seperti ditulis dengan suatu huruf sandi atau huruf rahasia yang hanya bisa dibaca dan dipahami oleh segelintir orang. Hal ini tidak lain karena tulisan itu ditulis dengan huruf yang tidak umumnya dipakai.

Demikian juga dengan tulisan yang meski jelas, bisa dibaca dan dipahami, namun tidak dituliskan di atas sarana yang umumnya digunakan untuk menulis, juga tidak bisa diterima. Seperti tulisan yang ada di dinding, tembok, batu, jalan raya, atau di atas daun. Ini karena tulisan itu semuanya tidak dituliskan di atas sarana yang umumnya digunakan, seperti di atas kertas dan buku tulis. (Muhammad Mushthafa az-Zuhaili, al-Qawa’id alFiqhiyyah wa Tathbiqatiha fil Madzahib alArba’ah, h. 339-340)

PEMBAGIAN TRANSAKSI YANG DILAKUKAN DENGAN TULISAN

Sebagaimana dengan lisan, transaksi yang dilakukan dengan tulisan juga dapat dibagi menjadi transaksi yang memerlukan persetujuan atau kerelaan kedua belah pihak (At-tasharrufat ghairul ahadiyyah) dan transaksi yang cukup persetujuan atau kerelaan dari salah satu pihak (At-tasharrufat al-ahadiyyah).

Untuk transaksi yang memerlukan persetujuan atau kerelaan kedua belah pihak yang mutlak disyaratkan adalah lafal ijab atau qabul dari keduanya. Contoh transaksi seperti ini di antaranya yaitu: jual beli dan nikah.

Untuk transaksi jenis ini, jika dipenuhi syarat dan ketentuannya, pendapat rajih dari dua pendapat ahli fikih bahwa hal itu sah jika keduanya melalui tulisan. Sebagaimana mereka juga berbeda pendapat jika kedua belah pihak hadir saat proses transaksi, akan tetapi kedua belah pihak memilih menggunakan tulisan, atau salah satu pihak mengungkapkan secara lisan sementara pihak lainnya menggunakan tulisan. Menurut pendapat yang rajih, tulisan tetap bisa digunakan untuk transaksi.

Pengecualian dari ini adalah akad pernikahan. Apabila kedua pihak hadir ketika akad nikah maka proses akadnya tidak boleh dilakukan dengan tulisan jika keduanya bisa mengucapkan dan melafalkannya. Hal ini merupakan kesepakatan para ahli fikih. Selain juga agar para saksi yang hadir bisa mendengar dan menyaksikan akad tersebut. Melafalkan akad nikah dengan lisan menggunakan kata ‘nikah’ merupakan pokok dalam pernikahan, yang tidak boleh diganti menggunakan tulisan kecuali karena darurat. Sedangkan kondisi darurat tidak didapati manakala kedua belah pihak hadir dan mampu melafalkannya.

Adapun untuk transaksi yang cukup persetujuan atau kerelaan dari salah satu pihak, maka menurut pendapat yang rajih juga bisa dilakukan dengan tulisan sebagaimana kaidah di atas. Contohnya adalah seperti talak dan iqrar (pengakuan).

Meski demikian, yang perlu diperhatikan bahwa keabsahan transaksi melalui tulisan tidak otomatis terjadi saat tulisan itu dibuat. Ia baru berlaku tatkala tulisan itu sampai ke tangan pihak lainnya dan telah membacanya. (Al-Qawa’id alFiqhiyyah al-Kubra wa Ma Tafarra’a ‘Anha, h. 469-673)

APLIKASI KAIDAH

Di antara aplikasi kaidah di atas dalam furu’ fikih, yaitu:

Jika Muhammad yang tinggal di Bandung menulis suatu surat yang berisi tawaran penjualan rumah yang lengkap dengan spesifikasi beserta harganya kepada Ahmad yang tinggal di Jakarta, lalu apabila Ahmad menulis surat balasan yang menyetujui panawaran tersebut, maka transaksi jual beli tersebut dihukumi sah.

Seorang hakim diperbolehkan memutuskan suatu keputusan berdasarkan data-data dan arsip-arsip hasil keputusan para hakim sebelumnya.

Seorang suami yang menulis surat kepada istrinya yang berisi bahwa ia menceraikan istrinya, maka talak pun jatuh. Begitu juga dengan surat dari seseorang kepada orang lain untuk menghibahkan sesuatu kepadanya, maka dengan adanya surat itu transaksi hibah pun dihukumi sah. Wallahu a’lam. []

REFERENSI

Muhammad Mushthafa az-Zuhaili. 1427 H/ 2006 M. al-Qawa’id al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatiha fil Madzahib al-Arba’ah. Damaskus: Darul Fikr.

Muhammad Shidqi bin Ahmad al-Burnu. 1404 H/ 1983 M. Al-Wajiz fi Idhah Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah. Beirut: Muassasah ar-Risalah.

Shalih bin Ghanim as-Sadlan. 1417H. Al-Qawa’id alFiqhiyyah al-Kubra wa Ma Tafarra’a ‘Anha. Riyadh: Dar Balansiyyah

%d bloggers like this: