Menyewa Orang Lain Untuk Mengerjakan Shalat

Menyewa Orang Lain Untuk Mengerjakan Shalat

Dalam ajaran Syiah, terdapat pendapat-pendapat yang nyleneh. Di antaranya adalah bolehnya menyewa orang untuk mengerjakan shalat atau ibadah lainnya bagi orang yang masih hidup atau sudah meninggal.

Pendapat ini merupakan fatwa syaikh rujukan utama Syiah. Berikut petikan fatwa tersebut yang diambil dari website www.lankarani.com.

“Setelah seseorang meninggal dunia, kita dapat menyewa seseorang dengan memberikan upah untuk mengerjakan seluruh shalat dan ibadah-ibadah lainnya yang tidak dia kerjakan selama hidupnya, dan jika seseorang mengerjakan itu semua tanpa bayaran sekalipun, maka hal itu adalah sah.”

“Seseorang dapat menyewakan dirinya bagi orang-orang yang masih hidup untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sunnah, seperti berziarah ke makam Rasulullah saw dan para imam ma‘shum as, dan begitu juga ia dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sunnah dan menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang sudah meninggal dunia atau yang masih hidup.”

Fatwa nyleneh ini berarti membolehkan pengikutnya menyewa seseorang untuk mengerjakan shalat atau ibadah lain bila sedang malas atau lupa. Selain itu juga, boleh menyewakan dirinya untuk mengerjakan amalan sunnah yang pahalanya untuk orang lain. La haula wal quwwata illa billah.

Memang, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama Ahlussunnah tentang mengqadha’ kewajiban yang belum sempat bagi mayit. Tapi, untuk menyewa seseorang mengerjakan shalat orang yang masih hidup jelas-jelas batil.

Tidak ada satu pun dalil yang menguatkan pendapat nyleneh ini. Bahkan sahabat Nabi SAW, Abdullah bin Umar berkata:

لاَ يَصُومُ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ، وَلاَ يُصَلِّ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ

“Tidak boleh seseorang puasa untuk orang lain dan tidak boleh pula seseorang shalat untuk orang lain.” (Muwatha’ Malik, III/ 434).

baca juga: Ikhtilaf Terpuji & Ikhtilaf Menyimpang

Dalam mewakilkan ibadah, ulama sepakat bahwa ibadah yang terkait dengan harta seperti zakat, shadaqah, dan kaffarat, maka hal itu boleh diwakilkan kepada orang lain, apakah orang yang dibebankan ibadah tersebut mampu melakukannya sendiri atau tidak. Sebab kewajiban yang berlaku atasnya adalah terkait dengan harta maka boleh saja diwakilkan kepada orang lain.

Sebagai contoh, jika seseorang memiliki kewajiban untuk mengeluarkan zakat mal (ternak, kebun, emas, dll) namun sebelum ia mengeluarkannya, ia meninggal. Maka dalam hal ini, kewajiban tersebut tetap berlaku dan ahli warisnya yang mengeluarkannya dari harta si mayit.

Adapun jika ibadah itu terkait dengan badan seperti shalat dan puasa maka menurut kesepakatan ulama hal itu tidak boleh diwakilkan kepada orang lain semasa hidupnya berdasarkan firman Allah SWT:

وَأَنْ لَيْسَ لِلإْنْسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى

“Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. an-Najm: 39).

Namun para ulama menambahkan bahwa yang disyariatkan adalah terkait pembebasan hutang kewajiban syar’i yang wajib diganti bukan pemberian pahala ibadah kepada orang lain. Waallahu’alam.

Shalat Sah Tanpa Membaca Al-Fatihah

Sebagian ulama’ seperti al-Hasan bin Shalih dan ‘Asham yang menukil dari al-Qadhi Abi Thayib dalam kitab al-Majmu’ berpendapat, bahwa membaca al-Fatihah dalam shalat lima waktu (baik berjamaah atau sendirian) sunnah.

Konsekuensi pendapat ini, shalat tetap sah tanpa membaca surat al-Fatihah. Berdasarkan makna sunnah, bila dikerjakan mendapatkan pahala bila ditinggalkan tidak berdosa. Pendapat seperti ini nyleneh karena menyelisihi hadits dan ijma’ ulama.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Fatihatul Kitab (al-Fatihah).” (HR. Bukhari no. 723, Muslim no. 394, 395. Abu Daud no. 822, at-Tirmidzi no.247, Ibnu Majah no. 837, Ibnu Hibban no. 1785, al-Baihaqi dalam Sunannya no.2193).

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,  “Barangsiapa yang shalat dan tidak membaca Ummul Quran (al-Fatihah) maka shalatnya tidak sempurna (khidaj), (kata khidaj diulang hingga tiga kali).” (HR. Muslim no. 395, Abu Daud no. 821, Ibnu Majah no, 838, an-Nasa’i no.909, at-Tirmidzi no. 2953).

Sebagai catatan, Jumhur ulama’ berpendapat wajib membaca surat al-Fatihah dalam shalat. Namun, berbeda pendapat apakah wajib di setiap rakaatnya atau hanya sekali dalam shalat. Begitu juga, bacaan al-Fatihah seorang makmum ketika shalat jahriyah masih diperselisihkan.

Jadi, pendapat membaca al-Fatihah hanya sunnah dalam shalat berjamaah atau sendirian adalah pendapat yang syadz (nyleneh) dan menyelisihi jumhur para ulama’.

Shalat Harus Diulang Karena Lupa Iqamat

Dalam al-Mughni karya Ibnu Qudamah, disebutkan suatu pendapat syadz (menyelisihi ijma’ para ulama) yaitu, shalat harus diulang karena lupa tidak iqamat.

Pendapat ini aneh karena memasukkan iqamat ke dalam syarat sah shalat. Tanpa iqomah berarti shalat tidak sah atau batal dan harus diulang.

Pendapat ini termasuk pendapat syadz karena tidak ditemukan dalil yang menjelaskan bahwa iqamat adalah syarat yang harus dilakukan dalam shalat. Tanpa iqamat berarti tidak sah shalatnya.

Contohnya, suami istri shalat berjamaah tanpa iqamat, maka tidak sah shalatnya. Kumpulan musafir yang shalat berjamaah dan shalatnya dijama’ ketika itu lupa dimulai tanpa iqamat. Keadaan-keadaaan ini, disepakati oleh para ulama’ bahwa shalatnya sah dan tak perlu diulang.

 

 

 

%d bloggers like this: