Menyentuh Mayit Wajib Mandi

Menyentuh Mayit Wajib Mandi

Jika seseorang menyentuh tubuh jenazah yang telah mendingin dan belum dimandikan, maka ia harus melakukan mandi karena menyentuh jenazah, baik ia menyentuhnya dalam keadaan tidur atau terjaga, dengan pilihan sendiri atau terpaksa.

Ini pendapat salah satu ulama’ Syiah, Ayatullah al-Udzma Muhammad Fadhil al-Lankarani. Fatwa-fatwa nyelenehnya bisa dilihat di http://www.lankarani.com.

Pendapat ini juga dijelaskan dalam Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taharah, Masalah 102 yang dimuat di website http://www.icc-jakarta.com.

Dalil dan sumber pendapat nyeleneh ini tidak jelas. Barangkali sekedar taklid terhadap seseorang yang ditokohkan dalam aliran ini. Tidak ada satu hadits pun yang menerangkan kewajiban mandi setelah menyentuh mayit yang sudah dingin.

Ulama’ Ahlus sunnah memang berbeda pendapat tentang apa yang dilakukan setelah menyentuh mayit. Disunnahkan berwudhu atau tidak. Tapi tidak ada yang berpendapat wajib mandi.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ غَسَّلَ الْمَيِّتَ فَلْيَغْتَسِلْ وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Barangsiapa yang memandikan mayat, hendaklah ia mandi dan barangsiapa yang membawanya (termasuk di dalamnya menyentuh –red), hendaklah ia berwudhu” [HR. at-Tirmidzi no. 993].

Jadi, pendapat yang mewajibkan mandi setelah menyentuh mayit tidaklah benar. Pendapat yang rajih (kuat), sesuai dengan hadits di atas yaitu berwudhu. Wallahu a’lam.

 baca juga: WANITA DILARANG ZIARAH KUBUR?

 

Ibu Menjadi Wali Nikah

Ibu menjadi wali nikah pernah terjadi. Fenomena nyeleneh ini terjadi karenamenganggap keluarga (yang memungkinkan menjadi wali nikah) belum ikut kajian kelompoknya sehingga dianggap kafir. Sesuai fikih Islam, orang kafir tak boleh menjadi wali nikah.

Kisahnya, adik lelaki calon mempelai wanita belum dewasa. Pamannya dari pihak ayah maupun ibu masih hidup, hanya saja mereka semua tidak segolongan.
Akhirnya, ibu dari calon mempelai wanita tersebut memposisikan diri sebagai wali dan mengucapkan kata-kata penyerahan perwalian kepada imamnya (dalam satu golongan/harakah) secara lisan dan disaksikan oleh empat wakil imam.

Kejadian ini keterlaluan. Sekedar berbeda tempat mengaji dan berbeda organisasi, padahal masih dalam koridor Ahlus sunnah wal jamaah, dikafirkan. Bahkan, membuat kaidah baru, seorang perempuan menjadi wali nikah.

Di dalam al-Mughni bab an-Nikah, Ibnu Qudamah menjelaskan, di antara sekian wali yang paling berhak untuk menjadi wali mempelai wanita adalah: (1) ayahnya; (2) kakek dari pihak ayahnya atau ke atas; (3) anak laki-laki atau cucunya laki-laki dan seterusnya; (4) saudara laki-laki; (5) keponakan dari saudara laki-laki; (6) paman-paman dari pihak ayah; (7) anak laki-laki paman; (8) paman ayah si wanita dari pihak kakek (bapaknya ayah); (9) maula (orang yang memerdekakannya dari perbudakan), setelah itu barulah sulthan/penguasa. Urutan ini  seharusnya dilaksanakan.

Merupakan pendapat yang nyeleneh, bila mengkafirkan seseorang dan meloncati urutan yang berhak menjadi wali nikah hanya karena alasan tidak segolongan. Masih ada paman dari pihak ayah dan keluarga lainnya yang harusnya diutamakan. Lebih-lebih wali nikah seorang ibu bertentangan dengan ijma’ ulama’.

Selayaknya kita berhati-hati dalam masalah wali akad nikah, karena mempengaruhi keabsahan akad pernikahan dan kehalalan berhubungan badan. Bisa saja masih tercatat berzina di sisi Allah  SWT lantaran akad nikah yang batil. Naudzubillah min dzalik.

Rasulullah SAW bersabda:

لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ

“Tidak ada nikah kecuali dengan adanya wali.” (HR. al-Khamsah kecuali an-Nasa`i, dishahihkan al-Albani dalam al-Irwa` no. 1839).

أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ مَوَالِيْهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ

“Wanita mana pun yang menikah tanpa izin wali-walinya maka nikahnya batil, nikahnya batil, nikahnya batil.” (HR. Abu Dawud no. 2083, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abi Dawud).

 

Suami Meninggal, Istri  Tidak Ada Masa Iddah

Masa iddah adalah masa tunggu seorang wanita untuk memastikan bahwa dia tidak hamil, atau untuk menghilangkan rasa sedih atas sang suami, atau menangguhkan perkawinan [Mausû’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, 29/304].

Sekte sesat Baha’i (berkembang di Iran, juga ada di Indonesia) menyatakan bahwa ketika sang suami meninggal, istri tidak perlu menanti 4 bulan 10 hari untuk menikah lagi. Tak ada masa iddah dalam sekse sesat ini.

Tentu pendapat ini nyeleneh, sesat dan menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah berfirman, “Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. ath-Thalaq: 4).

Adapun yang ditinggal mati oleh suaminya sementara dia tidak dalam keadaan hamil, maka iddahnya adalah selama 4 bulan 10 hari. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala yang artinya, “Orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari.” (QS. al-Baqarah: 234).

 

 

%d bloggers like this: