Menunda Pembagian Harta Warisan

Menunda Pembagian Harta Warisan

Tatkala salah seorang di antara anggota keluarga meninggal, sedangkan ia meningalkan harta warisan, karena beberapa sebab akhirnya harta warisan tersebut tidak segera dibagikan kepada yang berhak. Baik karena dianggap kurang etis, atau memang yang berhak membagi harta warisan belum mau membagikannya. Bahkan terkadang penundaan terebut berlarut-larut hingga waktu yang lama. Bagaimana pandangan Islam dalam penundaan pembagian harta waris seperti hal di atas? Di bawah ini kami cantumkan beberapa keterangan dari para Ulama mengenai hal tersebut.

Muhammad al-Mukhtar asy-Syinqiti berkata,

لَا يَجُوْزُ لِمًنْ يَقُوْمُ عَلَى أَمْوَالِ الْمَوْتَى وَإِرْثِهِمْ، كَالْإِخْوَانِ الْكِبَارِ وَالْأَعْمَامِ وَنَحْوِهِمْ -مِمَّنْ يَلِي الْأَمْوَالَ وَالتِرْكَاتِ- لَا يَجُوْزُ لَهُ أَنْ يُؤَخِّرَ قِسْمَةَ الْأَمْوَالِ دُوْنَ وُجُوْدِ عُذْرٍ شَرْعِي، أَوْ رِضاً مِنَ الْوَرَثَةِ، فَإِذَا رَضَي الْوَرَثَةُ، وَقَالُوْا: رَضَيْنَا بِأَنْ نَبْقَى شُرَكَاء فِيْ هَذِهِ الْعِمَارَةِ، أَوْ رَضَيْنَا أَنْ نَبْقَى شُرَكَاءُ فِيْ هَذِهِ الْمَزْرَعَةِ، فَهُمْ وَرِضَاهُمْ، وَلَا بَأْسَ بِإِبْقَاءِ الْمَالِ.

Bagi orang yang mengurusi harta waris orang yang meninggal, seperti anak yang paling tua, paman dsb -dari orang-orang yang mengurusi harta warisan-. Tidak diperbolehkan baginya menunda pembagian harta waris tanpa ada udhur syar’i atau kerelaan dari para ahli waris. Apabila para ahli waris telah rela dan mereka berkata, “kami telah rela dengan tetapnya perserikatan dalam bangunan ini,” atau “kami telah rela dengan tetapnya perserikatan dalam ladang ini.”  Maka tidak mengapa harta tesebut masih tetap (tidak dibagi). (Syarhu Zadi al-Mustaqni’, Muhammad al-Mukhtar asy-Syinqiti, 7/ 249)

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh Mufti,

أَكَّدَ سَمَاحَةُ الشَّيِخِ عَبْدُ الْعَزِيْزِ بِنْ عَبْدُاللهِ آلُ الشّيْخِ الْمُفْتِي الْعَامِ لِلْمَمْلَكَةِ وَرَئِيْسُ هَيْئَةِ كِبَارِ الْعُلَمَاءِ أَنَّ الْوَاجِبَ عَلَى أَوْصِيَاءِ الْمَيِّتِ الْمُبَادَرَةَ فِيْ تَوْزِيْعِ تِرْكَةِ الْمَيِّتِ بَعْدَ إِحْصَائِهَا، وَتَسْدِيْدِ الدُّيُوْنِ، وَإِخْرَاجِ الْوَصِيَّةِ إِنْ كَانَتْ هُنَاكَ وَصِيَّةً، لَافِتًا أَنَّ تَأْخِيْرَ تَوْزِيْعِ الْمِيْرَاثِ يُؤَدِّي لِاخْتِلَافِ نُفُوْسِ الْوَرَثَةِ، وَدُخُوْلِ الْخِلَافَاتِ وَالشَّحْنَاءِ.

Yang mulia Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh Mufti Umum kerajaan dan ketua lembaga Kibarul ‘Ulama, bahwasanya wajib bagi orang yang diserahi mengurus harta waris orang yang meninggal untuk bersegera dalam pembagian harta peninggalan orang yang meninggal tersebut setelah selesai penghitungannya, tertutup hutang dan tertunaikan wasiat apabila ada wasiat. Sesungguhnya menunda pembagian harta warisan dapat menyebabkan perselisihan, percekcokan dan permusuhan para ahli waris. (http://www.al-madina.com/node/285201)

BACA JUGA: Siapakah Yang Berwenang Menentukan Kadar Pembagian Harta Warisan

  1. Abdullah al-Fakih berkata,

وَأَمَّا تَأْخِيْرُ تَقْسِيْمِ التِّرْكَةِ إِذَا طَلَبَهُ أَحَدُ الْوَرَثَةِ، وَكَانَ يَتَضَرَّرُ بِالتَّأْخِيْرِ فَإِنَّهُ لَا يَجُوْزُ، لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّم: لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ.

Adapun menunda pembagian harta warisan karena ada salah satu ahli waris yang meminta untuk ditunda, sehingga karena penundaan tersebut menyulitkan (yang lain) maka hal ini tidak diperbolehkan. Karena sabda Nabi n : “Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri ataupun orang lain”. (Maktabah Syamilah, Abdullah al-Fakih, 8/ 6429, http://fatwa.Islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=57707)

وَأَمَّا تَوْزِيْعُ التِّرْكَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ يُتِمَّ مُبَاشَرَةً بَعْدَ اسْتِكَمَالِ الْإِجْرَاءَاتِ الْمَطْلُوْبَةِ لِلْقِسْمَةِ مِنْ حَصْرِ الْوَرَثَةِ وَالْمُمْتَلِكَاتِ وَتَنْفِيْذِ الْوَصَايَا النَّافِذَةِ شَرْعًا وَلَا يَنْبَغِي تَأْخِيْرُهُ -وَخَاصَةً إِذَا طَلَبَ بَعْضُ الْوَرَثَةِ حَقَّهُ- إِلَّا إِذَا كَانَ التَّأْخِيْرُ لِمَصْلَحَةٍ وَبِرِضَى الْوَرَثَةِ الذِيْنَ يُعْتَبَرُ رِضَاهُمْ مِنَ الرَّشَدَاءِ الْبَالِغِيْنَ فَإِنَّهُ لَا حَرَجَ فِيْهِ.

Adapun pembagian harta waris, maka harus disempurnakan (diselesaikan pembagiannya) secara langsung setelah selesainya perkara-perkara yang mengharuskan untuk dibagikan dari bagian harta warisan, barang-barang yang dimiliki dan melaksanakan wasiat yang diperbolehkan secara syar’i.  Tidak seharusnya hal-hal tersebut ditunda pelaksanaannya -terkhusus apabila ada sebagian ahli waris yang menuntut haknya- kecuali apabila mengakhirkan pembagian lantaran sebuah maslahat dan atas kerelaan ahli waris seluruhnya yang keridhoan mereka diakui yaitu mereka yang baligh dan berakal. Maka menunda pembagian harta warisan tidaklah mengapa.(http://fatwa.Islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=97117) Wallahu a’lam. []

%d bloggers like this: