Mensikapi “Kesulitan” Dalam Syari’at

Mensikapi “ Kesulitan ” Dalam Syari’at

At-Taisir (kemudahan) dan raf’u al-haraj (menghilangkan kesulitan) adalah ciri khas syari’at Islam. Dalam praktiknya, syari’at ini selalu memberi kemudahan dan menghilangkan al-haraj (kesulitan) bagi umatnya.

Secara istilah al-haraj adalah sesuatu yang menimbulkan masyaqqah (kesulitan), baik terjadi pada anggota tubuh, jiwa, keadaan dan harta. Imam asy-Syatibi mengatakan bahwa al-haraj adalah masyaqqah itu sendiri, artinya keduanya sama. Allah berfirman, Allah tidak hendak menyulitkan kamu, (QS. al-Maidah: 6). Dalam ayat yang lain Allah berfirman, Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. al-Baqarah: 185).

Sebagai bukti kemudahan yang diberikan Allah, beban-beban yang memberatkan umat Muhammad Saw dibuang. Sebagaimana firman Allah, Dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. (QS. al-A’raf:157).

Selain itu, Allah tidak membebani  umat ini dengan suatu syari’at melainkan atas kemampuannya dan Allah juga memberikan rukhshah (keringanan) ketika muncul kesulitan-kesulitan dalam pelaksanaannya. Kemudahan dalam syari’at-Nya tersebut meliputi perkara ibadah, mu’amalah, adat-kebiasaan, dan perkara-perkara lainnya.

Kesulitan Wajar (Masyaqqah Mu’tadah)

Tidak semua kesulitan mendapatkan rukhsah. Ada jenis kesulitan yang wajar dan masih mampu dilakukan manusia secara umum. Masyaqqah ini justru mendatangkan maslahat bagi diri manusia, yaitu masyaqqah mu’tadah.

Kesulitan yang bersifat biasa tidak selalunya disebut sebagai masyaqqah. Seperti mencari nafkah tidak selalunya disebut sebagai masyaqqah. Sebab, mencari nafkah adalah amalan yang tidak menghalangi tugas-tugas syar’i sebagai seorang hamba pada umumnya.

Pada dasarnya Allah tidak bermaksud memberi masyaqqah secara murni dalam syari’at-Nya, tetapi di balik adanya masyaqqah tersebut lahirlah kemaslahatan yang akan dirasakan oleh seorang hamba. Seorang dokter memberi obat yang pahit pada pasiennya, terkadang memotong salah satu anggota tubuhnya, membedah, dan lain sebagainya hanya untuk menuntun pasien pada kondisi yang lebih baik, bukan bermaksud menyakiti pasiennya. Begitu pula dengan Allah, Yang Maha Memberi kemaslahatan pada hamba-Nya. Seandainya para hamba mengetahui hal ini maka mereka tidak akan menyimpang dari syari’at dengan adanya masyaqqah tersebut.

Kesulitan yang sifatnya biasa, yang kadang muncul di tengah aktifitas seorang hamba tidak serta-merta menuntut adanya rukhshah atau gugurnya sebuah kewajiban ibadah. Al-Izz bin Abdussalam berkata, “Masyaqqah ada dua, salah satunya adalah masyaqqah yang tidak menggugurkan ibadah, seperti masyaqqah yang terjadi pada wudhu atau mandi dalam suasana dingin, masyaqqah dalam menjalankan shalat pada cuaca panas atau dingin; terlebih lagi shalat fajar, masyaqqah dalam ibadah puasa pada cuaca yang sangat panas dan waktu siang yang lebih panjang. Semua bentuk masyaqqah ini tidak mengakibatkan gugurnya sebuah ibadah. Seandainya masyaqqah seperti di atas memberi pengaruh pada ibadah maka kemaslahatan ibadah tersebut akan hilang setiap saat, …”

Allah Ta’ala memberi pahala pada seorang hamba atas masyaqqah tersebut. Sebagaimana Allah memberi pahala ketika tertimpa suatu musibah. Allah Ta’ala berfirman, “Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. at-Taubah: 120). Allah memberi pahala kepada mereka dengan adanya masyaqqah dalam jihad tersebut. Dengan itu akan meringankan seorang muslim yang mendapati kesulitan ketika hendak menjalankan ibadah apabila ia mengetahui akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari Allah.

Agar Tak Salah Menyikapi Masyaqqah

Ada rambu-rambu yang perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan kesalahan dalam menyikapi masyaqqah yang ada pada syari’at.

Pertama, bahwa pada dasarnya Allah Ta’ala tidak bermaksud menyertakan masyaqqah dalam syari’at-Nya. Point ini harus tertanam dalam pemahaman kita terlebih dahulu.

Kedua, namun terkadang, masyaqqah itu muncul di tengah pengamalan syari’at, tentunya semua itu terjadi atas kehendak Allah Ta’ala.

Ketiga, ada juga kesulitan yang sifatnya tidak biasa yang terjadi pada ibadah, tetapi masyaqqah tersebut mendapatkan keringanan, seperti sakit, safar dan lain sebagainya.

Inilah tiga rambu yang perlu diperhatikan dalam memahami masyaqqah dalam syari’at. Sehingga tidak semua masyaqqah dianggap menggugurkan tugas-tugas syar’i, namun masyaqqah memiliki ukuran tertentu untuk mendapatkan keringan-keringanan syari’at. Wallahu a’lam.

[Disarikan dari kitab: Maqshidu asy-Syari’ah wa ‘Alaqatuha bi al-Adillah asy-Syar’iyyah, Imam al-Yubi, hlm. 400-407]

%d bloggers like this: