Menolak Lamaran Lelaki Shalih

Ustadz, benarkah seorang perempuan atau walinya tidak boleh menolak lamaran lelaki shalih? Saya pernah membaca hadits yang maknanya, “Apabila lamaran lelaki shalih ditolak maka akan timbul fitnah dan kerusakan yang besar?” Terima kasih atas jawabannya. (Abu Nabil—Sukoharjo)

Hadits yang dimaksud berbunyi,

“Apabila seorang laki-laki yang kau ridhai agama dan akhlaknya melamar (putri)mu, (terimalah dan) nikahkanlah. Jika kamu tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang merata.”

Hadits di atas diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 1084, Ibnu Majah no. 1967, ath-Thabarani dalam al-Awsath no. 446, Ibnu Hibban dalam al-Majruhin 2/141-142, al-Hakim dalam al-Mustadrak 2/164-165, dan beberapa perawi lainnya. Meskipun hadits di atas diriwayatkan oleh beberapa perawi, bukan berarti pasti shahih. Untuk hadits ini, para pakar hadits berbeda pendapat mengenai keshahihannya. Ada yang berpendapat dha’if (lemah)—di antaranya adalah Imam al-Bukhari dan Yahya bin Ma’in; namun ada pula yang berpendapat hasan lighayrih (semula lemah tetapi menjadi kuat karena adanya hadits lain yang menguatkannya)—di antaranya adalah Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani.

Terlepas dari shahih tidaknya hadits di atas, memilih calon suami yang baik agama dan akhlaknya sesuai dengan prinsip-prinsip syariat. Namun, itu bukan berarti seorang perempuan atau walinya tidak boleh menolak lamaran. Rasulullah n pun pernah menolak lamaran Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khathab untuk Fatimah az-Zahra. Siapa kiranya sahabat yang agama dan akhlaknya lebih baik daripada keduanya? Wallahu a’lam.[]

 

Memandikan Jenazah yang Terbakar

Ustadz, telah terjadi kebakaran yang memakan korban seisi penghuni rumah. Kondisi jenazah sangat mengenaskan dimana jika dimandikan akan mengelupaslah daging-dagingnya. Apakah jenazah dalam kondisi seperti itu tetap harus dimandikan? (Andrie—Balikpapan)

 

Para ahli fikih menjelaskan, pada asalnya jenazah seorang muslim harus dimandikan sebelum dikafani, dishalati, dan dikubur. Jika dimandikan mendatangkan mudarat baginya atau tidak didapati air, maka harus ditayamumi. Caranya, orang yang hendak menayamuminya menepuk debu dengan kedua tangannya—bukan tangan jenazah—lalu mengusapkannya pada wajah dan kedua tangan jenazah, sama seperti jika ia bertayamum untuk dirinya sendiri.

Imam an-Nawawi menulis, “Apabila tidak memungkinkan untuk memandikan jenazah lantaran langka air atau jenazah terbakar yang apabila tetap dimandikan maka daging-dagingnya akan lepas, jenazah tidak perlu dimandikan tetapi ditayamumi. Tayamum ini wajib. Sebab ia adalah upaya mensucikan yang tidak berhubungan dengan menghilangkan najis sehingga wajib beralih kepada tayamum saat tidak mungkin menggunakan air.” (al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, 5/128)

Ibnu Qudamah menyatakan, “Jenazah orang yang terkena virus berbahaya sehingga dagingnya mudah lepas, orang yang terbakar, dan orang tenggelam, jika memungkinkan untuk dimandikan harus dimandikan. Jika dikhawatirkan dagingnya akan lepas maka cukup disiram air, tidak perlu disentuh. Jika dikhawatirkan dagingnya akan lepas saat terkena air, maka ditayamumi, seperti orang yang hidup yang tidak dapat menggunakan air. Jika tidak didapati air, jenazah ditayamumi. Jika penggunaan air pada sebagian anggota badan tidak memungkinkan, maka yang memungkinkan dimandikan/disiram air sedangkan untuk yang tidak tersiram air jenazah ditayamumi.” (Al-Mughni, 2/209)

Wallahu a’lam. []

%d bloggers like this: