Menjunjung Tinggi Syariat Menegaskan Masyaqqah

Menjunjung Tinggi Syariat Menegaskan Masyaqqah

(bagian 1)

المَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ

“Kesulitan menyebabkan adanya kemudahan”

Kaidah di atas merupakan kaidah ketiga dari lima kaidah pokok fikih yang bersifat universal (al-qawa’id al-kulliyyah al-kubra) yang dibahas pada majalah ini. Kaidah tersebut sebenarnya merupakan penjelasan dari salah satu Maqashid Syariah, yaitu tidak memberikan beban taklif di atas kemampuan mukallaf dan memberikan mereka kemudahan.

Kaidah di atas memilki dua kata kunci yaitu masyaqqah dan taisir. Ini berarti bahwa dengan memahami dua kata kunci tersebut dengan benar, akan diperoleh pemahaman yang baik mengenai kaidah tersebut.

Masyaqqah berasal dari bahasa Arab yang berarti kesulitan dan kepayahan yang berada di atas batas normal yang mampu dipikul oleh seseorang. Sementara kata kunci kedua yang juga berasal dari bahasa Arab, yaitu taisir, berarti kemudahan dan kelembutan, (As-Sadlan, Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa Ma Tafarra’a ‘Anha, h. 219).

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa, secara etimologi, yang dimaksud dengan Al-Masyaqqatu Tajlibut Taisir yaitu, adanya suatu kesulitan dan kepayahan merupakan sebab adanya kemudahan. Adapun arti kaidah tersebut dalam terminologi syariat adalah, adanya suatu kesulitan dan kepayahan yang berada di atas ambang batas normal yang mampu dipikul oleh mukallaf tatkala merealisasikan dan mengaplikasikan perintah-perintah syariat, maka syariat pun memberikan keringanan dan kemudahan dengan perintah yang mampu dilaksanakan mukallaf.Kesulitan dan kepayahan tersebut baik menimpa diri mukallaf maupun hartanya, (Al-Burnu, Al-Wajiz fi Idhah Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah, h. 218).

Pijakan Dalil Kaidah

Dasar pijakan dalil yang menjelaskan kaidah di atas banyak dijelaskan dalam Al-Qur`an dan Sunnah, selain juga dari prinsip umum syariat Islam yang menegasikan kesulitan bagi mukallaf, mensyariatkan rukhshah (keringanan) bagi mereka, serta juga ijma’ (konsensus) bahwa dalam Islam tidak terdapat syariat yang memberatkan dan menyulitkan mukallaf di luar kemampuan mereka.

Di antara dalil Al-Qur`an yang menegaskan kaidah di atas adalah firman Allah swt, “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. Al-Baqarah: 185). Dan, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya” (QS. Al-Baqarah: 286). Juga firman-Nya, “Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesulitan” (QS. Al-Hajj: 78).

Sedangkan dalil Sunnah di antaranya adalah sabda Nabi saw,

إِنِّي أُرْسِلْتُ بِحَنِيفِيَّةٍ سَمْحَةٍ

“Sesungguhnya Aku diutus dengan agama yang lurus lagi toleran” (HR. Ahmad, no. 24855, Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir, no. 7883)

Juga hadits Aisyah ra, ia meriwayatkan,

مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ، أَحَدُهُمَا أَيْسَرُ مِنَ الْآخَرِ، إِلَّا اخْتَارَ أَيْسَرَهُمَا، مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا

Tidaklah Rasulullah saw diberikan dua pilihan kecuali beliau akan memilih yang paling mudah di antara keduanya, selama hal itu tidak termasuk dosa” (HR. Al-Bukhari, no. 6786 dan Muslim, no. 2327)

Macam-macam Masyaqqah

Ulama menerangkan bahwa ada dua macam masyaqqah yang dikenal dalam syariat Islam:

Pertama, masyaqqah yang pada umumnya memang tidak bisa terpisahkan dari perintah-perintah syariat. Dalam ungkapan lain, masyaqqah itu ada bersamaan dengan adanya perintah.

Contoh masyaqqah seperti ini di antaranya: masyaqqah sedikit merasakan kedinginan saat berwuduk dan mandi janabah, terkhusus ketika akan melaksanakan shalat Shubuh; masyaqqah shiyam (puasa) di siang hari yang panas lagi panjang; masyaqqah safar yang pada umumnya memang tidak terpisahkan tatkala seorang mukallaf melaksanakan haji dan jihad; masyaqqah melakukan perjalanan dan kesungguhan dalam menuntut ilmu; masyaqqah dalam pelaksanaan rajam bagi pezina yang pernah menikah dan pelaksanaan hukuman hudud yang lain; masyaqqah bekerja dan memperoleh penghasilan demi menghidupi keluarga; serta masyaqqah lain yang semisal.

Perlu diketahui bahwa dalam setiap taklif atau kewajiban yang dibebankan dalam syariat memang terkandung masyaqqah. Namun masyaqqah tersebut masih dalam batas normal yang mampu ditanggung oleh mukallaf. Masyaqqah seperti ini pun memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Masyaqqah seperti ini tidak bisa menyebabkan gugurnya suatu kewajiban ibadah, bukan sebagai penghalang pelaksanaannya, dan juga bukan mengharuskan adanya keringanan dan kemudahan. Karena memang masyaqqah itu tidak mungkin dapat dipisahkan darinya.

Kedua, masyaqqah yang pada umumnya bukan konsekuensi dari suatu taklif atau kewajiban yang diperintahkan syariat, atau pada dasarnya memang ia tidak terdapat pada taklif atau kewajiban itu sendiri. Masyaqqah tipe kedua ini memiliki beberapa tingkatan:

  1. Masyaqqah yang sangat berat lagi membebankan. Atau dalam ungkapan lain dinamakan dengan masyaqqah yang berada di luar kemampuan mukallaf. Contohnya seperti masyaqqah yang disebabkan timbulnya rasa kekhawatiran atas ancaman yang akan menimpa jiwa dan jasad seorang mukallaf. Jenis masyaqqah ini dinegasikan atau dinafikan dalam syariat, dan juga menjadi penyebab adanya suatu taisir (keringanan atau kemudahan).
  2. Masyaqqah ringan, seperti sedikit rasa nyeri di jemari, pusing ringan di kepala, dan atau sedikit tidak fitnya kondisi tubuh seorang mukallaf. Masyaqqah seperti ini belum dapat menyebabkan adanya taisir yang diberikan syariat kepada mukallaf yang mengalaminya.

Ringkasnya, masyaqqah yang harus ditanggung oleh mukallaf tatkala ia melaksanakan suatu taklif atau kewajiban adalah bertingkat-tingkat, sesuai dengan tingkat taklif atau kewajiban itu sendiri. Boleh jadi, sebagian besar maslahat suatu taklif atau kewajiban syariat justru dikaitkan dengan masyaqqah yang ada padanya, seperti pelaksanaan hukuman hudud, dan melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, masyaqqah tipe ini tidak bisa menyebabkan adanya keringanan. Yang menyebabkan adanya keringanan adalah masyaqqah yang berada di atas ambang batas normal, yang disebabkan oleh sesuatu yang tidak lazim, (Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa Ma Tafarra’a ‘Anha, h. 229-230)

Syarat Mengamalkan Kaidah

Dari pemahaman yang benar berkaitan dengan masyaqqah tersebut, ulama lantas menyebutkan beberapa syarat agar bisa mengaplikasan kaidah di atas. Berikut syarat-syaratnya:

  1. Masyaqqah tersebut tidak bertentangan dengan nash syar’i. Seperti enggan melaksanakan hukum hudud lantaran bertentangan dengan rasa kemanusiaan.
  2. Masyaqqah tersebut berada di atas ambang batas normal. Karena selama masih berada dalam ambang batas normal belum bisa menyebabkan keringanan.
  3. Masyaqqah tersebut bukan termasuk masyaqqah yang pada umumnya terdapat pada suatu ibadah, seperti masyaqqah shiyam, dan tidak termasuk masyaqqah yang memang taklifnya mengandung masyaqqah, seperti masyaqqah dalam melaksanakan jihad, pelaksanaan hudud, dan memerangi pengacau dan pemberontak, (Az-Zuhaili, al-Qawa’id al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatiha fil Madzahib al-Arba’ah, 258). Wallahu A’lam, (bersambung). []

 

baca juga: Tiga Tingkatan Syariat

Referensi:

Muhammad Shidqi bin Ahmad al-Burnu. Al-Wajiz fi Idhah Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah. Beirut: Muassasah ar-Risalah. 1404 H/ 1983 M.

Shalih bin Ghanim as-Sadlan. Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa Ma Tafarra’a ‘Anha. Riyadh: Dar Balansiyyah. 1417H.

Muhammad Mushthafa az-Zuhaili. al-Qawa’id al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatiha fil Madzahib al-Arba’ah. Damaskus: Darul Fikr. 1427 H/ 2006 M.

 

 

Ali Shodiqin

 

%d bloggers like this: