Menjual Bangkai, Untung Sesaat Rugi Hingga Kiamat

Menjual Bangkai, Untung Sesaat Rugi Hingga Kiamat

Bangkai (Arab: Mayyitah) adalah hewan yang mati tanpa disembelih secara syar’i, baik mati dengan sendirinya atau karena perbuatan manusia. Organ yang dipotong dari hewan yang masih hidup juga disebut bangkai. Bangkai merupakan item pertama yang diharamkan langsung oleh Allah dalam al Quran, selain darah, daging babi dan sembelihan yang ditujukan untuk selain Allah. Status haram bangkai sangat jelas disebutkan dalam beberapa ayat Al Quran, misalnya, al Baqarah:173, al Maidah:3, al An’am:145.

Semua bangkai haram kecuali bangkai ikan dan belalang.

Sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia, tak mengherankan jika bangkai dihukumi haram dan najis dalam islam. Selain menjijikkan, bangkai mengandung banyak bakteri dan penyakit. Darah yang tak membeku dalam tubuh hewan yang tak disembelih merupakan media bakteri paling subur. Dan dari segi rasa, daging bangkai tak lagi selezat daging segar dari hewan yang disembelih.

Karena haram dan najis, bangkai haram pula diperjualbelikan. Sayangnya, demi meraup untung, tidak sedikit oknum pedagang yang nekat menjual bangkai. Seperti yang dilakukan salah satu oknum pedagang di Gunung Kidul pada Ramadhan, 2014 lalu. Diberitakan, Kepolisian Resor Gunung Kidul berhasil menangkap seorang pedagang yang tengah membawa bangkai seekor sapi yang akan dikirim ke Jogja. (arsip tempo.co/2014).

Tak hanya daging sapi, bangkai ayam atau yang biasa disebut ayam tiren (mati kemarin) juga kerap dijual. Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (Dispeterikan) di berbagai daerah kerap menemukan ayam tiren dalam razia-razia yang dilakukan. Ayam tiren dijual secara utuh maupun dicampur dengan daging segar. Harganya yang bisa mencapai 50% lebih murah dari daging segar membuat pedagang nakal tergoda menjualnya.

baca juga: Waspadai Aksesoris Najis

Mengapa Mereka tega menjual bangkai?

Yang pertama jelas demi meraih untung. Pedagang nakal akan meraup untung berlipat dengan menjual daging bangkai. Baik dijual langsung maupun dicampurkan ke dalam daging segar atau bisa pula dijadikan bahan olahan seperti ayam goreng, bakso dan sebagainya. Demi keuntungan pribadi, tidak sedikit orang yang tega merugikan orang lain.

Kedua, Tak mau rugi. Sapi, kambing atau ayam yang mati sebelum disembelih tentu sangat merugikan peternak. Peternak nakal akan merasa sayang untuk membuang hewan ternak tersebut karena ia telah mengeluarkan biaya untuk pemeliharaan. Dia pun nekat menjualnya meski dengan harga murah. Harapannya, ada sedikit modal yang bisa kembali.

 

Siapa untung siapa rugi?

Meski secara nominal, menjual bangkai memang menguntungkan. Namun, secara faktual sebenarnya tak satupun yang diuntungkan alias semua pihak dirugikan baik penjual apalagi konsumen.

Bagi pedagang, menjual daging bangkai merupakan perbuatan menzhalimi orang lain. Apabila ada konsumen yang tanpa sadar membeli dan mengonsumsi bangkai yang ia jual, berarti ia telah menjejalkan bangkai ke mulut saudaranya. Ini merupakan satu bentuk dosa. Dan apabila konsumen akhirnya sakit, maka si penjual juga menanggung dosa menyakiti orang lain. Ini dosa kedua. Jika daging tersebut dikonsumsi satubkeluarga dan akhirnya sakit semua, berarti ia telah menzhalimi seluruh keluarga tersebut.

Dan di hari kiamat, perbuatan zhalim ana menjadi petaka paling dahsyat. Kezhaliman dapat membuat seseorang menjadi muflis alias orang yang bangkrut. Bukan lain karena pahala si zhalim akan diberikan kepada orang yang dizhalimi dan jika pahala telah terkuras, sebagian dosa orang yang dizhalimi akan dibebankan kepada si zhalim. Jelas kerugian di hari kiamat merupakan kerugian yang nyata.

Selain itu, apabila seorang pedagang ketahuan menjual bangkai dengan sengaja, ia kan kehilangan kepercayaan dari pembeli. Dalam dunia perdagangan, tidak ada yang lebih merugikan seorang pedagang sleain turunnya tingkat trust atau kepercayan konsumen pada dirinya. Dangangan yang hilang atau bahkan kios yang terbakar sekalipun masih bisa dibeli dan dibangun kembali. Tapi kepercayaan pelanggan tak bisa dibeli dan bakal sulit membangun kembali jika runtuh.

Jadi, menjual bangkai hanya memberikankeuntungan sesaat. Benar-benar sesaat karena dunia memang hanya sementara dan sesaat karena tak lama setelah kecurangannya terbongkar, pelanggan akan lari darinya.

Adapun konsumen, meskipun dirugikan karena telah memakan bangkai, namun tidak ada hukuman akhirat baginya karena ketidaktahuannya. Ia rugi secara kesehatan. Hal ini jelas lebih ringan bagi pribadinya daripada kerugian yang diderita si penjual. Ia tidak menanggung dosa apapun, sedangkan si penjual menanggung dosa yang amat berat. Jadi, secara hakikat, penjual lebih dirugikan oleh ulahnya sendiri daripada konsumen.

Daging tiren; warna daging pucat dan membiru, amis, tidak ada bekas darah di leher.

 

Tetap harus hati-hati

Namun bagaimananpun, konsumen juga perlu berhati-hati. Memakan makanan haram seperti bangkai akan sangat berbahaya bagi kesehatan. Jika hal itu terjadi karena sikap ketidak hati-hatian, tetap ada sanksi yang akan Allah berikan. Yaitu, doanya akan sulit terkabul. Untuk itu, hndaknya kita pandai memilah dan memilih daging atau masakan daging yang hendak kita konsumsi.

Carilah informasi bagaimana cara membedakan daging yang segar dengan daging tiren atau bangkai. Lebih selektif dalam membeli daging dan usahakan membeli daging dari penjual muslim yang terpercaya.

Jangan mudah tergiur dengan harga yang sangat murah. Pepatah Jawa mengatakan, ono rega ono rupa, ada harga ada rupa. Barang yang sangat murah biasanya kualitasnya memang buruk, demikian sebaliknya, meskipun tidak selalu demikian kenyataanya. Daging bangkai akan dijual murahmurah karena memang pada dasarnya tak berharga lagi. Dibeli berapapun sudah untung.

Pedagang yang nakal akan selalu ada. Satu mati, diganti yang lain lagi. Kita tak kuasa menghilangkan mereka sama sekali karena seperti itulah sunah ilahi. Akan terus ada orang yang jahat, sebagaimana akan terus ada pula orang yang baik hati. Kita hanya perlu meningkatkan kewaspadaan atas semua yang kita konsumsi, jangan sampai ada zat haram yang masuk dan menodai diri. Semoga Allah menjaga kita semua dari zat-zat haram dan apabila kita khilaf, Allah berkanan mengampuni.

%d bloggers like this: