Menjamak Shalat di Masjid Karena Hujan

Menjamak Shalat di Masjid Karena Hujan

Musim hujan tahun ini diwarnai dengan curah hujan yang tinggi. Banyak orang kesulitan pergi ke masjid saat hujan turun dengan lebat. Di sebagian masjid, imam menjamak dua shalat karena derasnya hujan. Bagaimana sebenarnya hukum menjamak shalat di masjid karena turunnya hujan yang lebat?

Dalam hal ini, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Pertama, tidak boleh menjamak dua shalat karena hujan.

Imam Abu Hanifah dan al-Muzani, salah seorang murid senior Imam asy-Syafi’i berpendapat tidak boleh menjamak shalat karena hujan, antara shalat Zhuhur dan Ashar maupun antara shalat Maghrib dan Isya’. (al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab, 4/264; al-Bayan fi Madzhab al-Imam asy-Syafi’i, 2/489 dan al-Mughni Syarh Mukhtashar al-Khiraqi, 3/132).

Kedua, boleh menjamak shalat Maghrib dan Isya’ karena hujan.

Imam Malik bin Anas dan Ahmad bin Hambal berpendapat boleh menjamak shalat Maghrib dan Isya’ karena hujan, namun tidak boleh menjamak shalat Zhuhur dan Ashar. Pendapat ini didasarkan kepada beberapa riwayat sahabat dan tabi’in berikut ini:

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا جَمَعَ الْأُمَرَاءُ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فِي الْمَطَرِ جَمَعَ مَعَهُمْ

Dari Nafi’ bahwasanya Abdullah bin Umar ikut menjamak bersama para gubernur jika para gubernur menjamak shalat Maghrib dan Isya’ saat hujan. (HR. Malik dalam al-Muwatha’ no. 357, Abdurrazzaq no. 4438, Ibnu Abi Syaibah no. 6321, dan al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra no. 5625. Sanadnya shahih)

Dari Hisyam bin Urwah bahwasanya ayahnya yaitu Urwah bin Zubair, dan Sa’id bin Musayyab serta Abu Bakar bin Abdurrahman bin Harits bin Hisyam bin Mughirah al-Makhzumi menjamak antara shalat Maghrib dan Isya’ pada malam yang hujan, apabila para gubernur menjamak antara kedua shalat tersebut. Mereka tidak mengingkari tindakan para gubernur tersebut.” (HR. al-Baihaqi no. 5627. Sanadnya shahih).

Dari Musa bin Uqbah bahwasanya Umar bin Abdul Aziz menjamak antara shalat Maghrib dan shalat Isya’ apabila hujan. Sa’id bin Musayyab, Urwah bin Zubair, Abu Bakar bin Abdurrahman dan para ulama zaman itu mengerjakan shalat bersama para gubernur dan tidak mengingkari tindakan (shalat jamak) tersebut.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 6323 dan al-Baihaqi no. 5626. Sanadnya shahih)

Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa praktik amalan yang dikenal oleh penduduk Madinah adalah menjamak antara Maghrib dan Isya’ karena faktor hujan. Imam Malik tidak mendapatkan dari penduduk Madinah praktik jamak antara Zhuhur dan Ashar karena faktor hujan.

Al-Atsram berkata, “Telah ditanyakan kepada Imam Abu Abdillah (Ahmad bin Hambal) bolehkah menjamak shalat antara Zhuhur dan Ashar saat turun hujan?” beliau menjawab, “Tidak boleh, saya tidak pernah mendengar hadits tentang hal itu.” Pendapat ini dipilih oleh Abu Bakar al-Khallal dan Ibnu Hamid, dan juga menjadi pendapat imam Malik.” (al-Mughni Syarh Mukhtashar al-Khiraqi, 3/132-133)

baca juga:  Menjama’ shalat Karena Hujan? Bolehkah?

Ketiga, boleh menjamak shalat Zhuhur dan Ashar Juga Maghrib dan Isya’ karena hujan.

Imam Syafi’i berpendapat jamak karena hujan boleh dilakukan untuk shalat Zhuhur dan Ashar, juga Maghrib dan Isya’. Yahya bin Syaraf An-Nawawi berkata, “Madzhab kami membolehkan jamak shalat Zhuhur dan shalat Ashar, juga shalat Maghrib dan Isya’. Ini juga menjadi pendapat Abu Tsaur dan sekelompok ulama.” (An-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 4/262).

Pendapat ini didasarkan kepada hadits-hadits shahih berikut ini:

عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: (جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فِي الْمَدِينَةِ مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ). قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ لِمَ فَعَلَ ذَلِكَ؟ قَالَ: كَيْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ.

Dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah SAW menjamak shalat Zhuhur dan Ashar, juga shalat Maghrib dan Isya’ di Madinah saat tidak dalam kondisi takut dan tidak dalam kondisi hujan.”

Sa’id bin Jubair bertanya kepada Ibnu Abbas, “Kenapa beliau melakukannya?” Ibnu Abbas menjawab, “Beliau tidak ingin memberatkan umatnya.” (HR. Muslim no. 705, Abu Daud no. 1211, at-Tirmidzi no. 178, an-Nasai no. 601, Ahmad no. 3323, ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra, no. 5620).

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani berkata, “Hadits ini mengisyaratkan bahwa menjamak shalat karena hujan adalah perkara yang sudah biasa dilakukan pada zaman Nabi SAW. Seandainya ia tidak biasa dilakukan, tentulah tidak ada manfaatnya penyebutan tidak turunnya hujan sebagai sebab yang membolehkan jamak shalat.” (al-Albani, Irwa’ul Ghalil fi Takhrij Ahadits Manaris Sabil, 3/40).

Dari Abu Sya’tsa’ Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas RA berkata, “Rasulullah SAW menjamak shalat Zhuhur dan Ashar, juga shalat Maghrib dan Isya’ di Madinah saat tidak dalam kondisi takut dan tidak dalam kondisi hujan.” Ibnu Abbas ditanya apa tujuan Nabi SAW melakukan hal itu? Ibnu Abbas menjawab, “Beliau tidak ingin menyusahkan umatnya.” (HR. Ahmad no. 1953, Syaikh Ahmad Syakir, Syu’aib al-Arnauth, dan al-Albani menyatakan bahwa sanadnya shahih).

Dari Shalih Mawla at-Tauamah dari Ibnu Abbas ia berkata, “Rasulullah SAW menjamak shalat Zhuhur dan Ashar, juga shalat Maghrib dan Isya’ di Madinah saat tidak dalam kondisi takut dan tidak dalam kondisi hujan.” Ibnu Abbas ditanya kenapa Rasulullah SAW melakukan hal itu? Ibnu Abbas menjawab, “Beliau ingin memberikan kelapangan kepada umatnya.” (HR. Ahmad, no. 1953 dan ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir. Syaikh al-Albani menyatakan sanadnya hasan sebagai riwayat penguat).

Tarjih

Dari pemaparan dalil dan argumentasi tiga pendapat ulama di atas, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat Imam Syafi’i, dengan beberapa alasannya.

Pertama, Imam Malik berargumen dengan amalan penduduk Madinah untuk menerima jamak shalat Maghrib dan Isya’. Para ulama mutaqqadimin Madzhab Maliki berpendapat amalan penduduk Madinah tersebut telah menjadi ijma’. Argumen ini dibantah dengan kesepakatan ulama wilayah Islam lainnya bahwa hal itu bukanlah ijma’ semua ulama Islam.

Adapun ulama mutaakhirin Madzhab Maliki berpendapat bahwa amalan penduduk Madinah tersebut diriwayatkan secara mutawatir. Argumen ini dibantah, bahwa amalan itu tidak dapat dikatakan mutawatir kecuali jika disertai riwayat yang berupa ucapan. Sebab, mutawatir adalah jalan periwayatan berita, bukan periwayatan perbuatan. Menjadikan perbuatan bisa sampai derajat mutawatir adalah perkara yang sulit, atau tidak mungkin. (Ibnu Rusyd al-Andalusi, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, 1/252).

Kedua, Imam Ahmad menyatakan tidak mendengar hadits tentang jamak shalat Zhuhur dan Ashar karena hujan. Akan tetapi, para ulama hadits lainnya meriwayatkan hadits-hadits tentang jamak shalat Zhuhur dan Ashar karena hujan. Dengan demikian, berlakulah kaedah al-itsbat muqaddam ‘ala an-nafyi (riwayat yang menetapkan didahukukan dan dimenangkan daripada riwayat yang meniadakan).

Ketiga, Jamak shalat Zhuhur dan Ashar karena hujan telah disebutkan dalam hadits-hadits yang juga menyebutkan jamak shalat Maghrib dan Isya’ karena hujan. Jika jamak antara Zhuhur dan Ashar ditolak karena hadits-haditsnya dianggap lemah, tentunya jamak antara Maghrib dan Isya’ juga harus ditolak, karena kedua jamak tersebut berasal dari hadits-hadits yang sama.

Kesimpulan

Hujan deras yang membuat pakaian basah kuyup dan tanah basah sehingga membuat orang-orang kesulitan saat harus berangkat ke masjid adalah udzur syar’i yang membolehkan jamak shalat Zhuhur dan Ashar, juga shalat Maghrib dan Isya’. Wallahu a’lam bish-shawab.

 

%d bloggers like this: