Menjaga Akal Dengan Ilmu,, Bagaimana??

Menjaga Akal Dengan Ilmu.

Akal adalah nikmat besar yang Allah anugrahkan kepada manusia, dengan akal, kedudukan manusia lebih mulia daripada binatang. Oleh karena itu jika akal seseorang hilang maka keadaannya tidak jauh berbeda dengan binatang.

Menjaga Akal

Semua orang sepakat tentang pentingnya menjaga akal dari segala perusaknya. Bahkan semua syari’at yang pernah Allah turunkan pun menyeru untuk menjaga keselamatan akal ini. Dalam al-Qur’an disebutkan lebih dari 40 tempat yang menunjukkan untuk memelihara akal, tujuannya agar mampu memahami hukum-hukum Allah dengan baik.

Imam al-Ghazali menjelaskan, terpeliharanya akal adalah bagian dari tujuan syari’at, karena akal adalah alat untuk memahami, akal adalah alat untuk menyampaikan amanah, dan lebih dari itu, akal membuat seseorang cukup dianggap sebagai mukallaf atau tidak. [Al-Ghazali, Syifa’ul Ghalil, hal. 80]

KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU

Allah mewajibkan kepada hamba-Nya untuk mencari ilmu dan mempelajarinya agar akal mereka terpelihara dari berbagai kerusakan, serta akan mengangkat kedudukan orang yang berilmu bersama dengan orang yang beriman. Sebagaimana Allah berfirman, “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian serta orang-orang yang menuntut ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah: 11). Ditambah dengan sabda Rasululah, “Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah).

Para ulama sepakat bahwa dengan menuntut ilmu, akal akan terpelihara dalam kondisi yang baik. Cara yang paling mulia untuk mendapatkan ilmu adalah dengan mencermati dan memperlakukan ilmu tersebut dengan baik. Sehingga ilmu yang ia dapatkan akan bermanfaat untuk dirinya sendiri maupun orang lain.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan syar’i menuntut ilmu adalah untuk menjaga akal dari gelapnya kebodohan. Bila akal seseorang terjaga dengan baik maka ia akan jauh dari kebodohan terhadap hukum-hukum Allah, bahkan jauh dari gelapnya masa depan. Tujuan utama dari menuntut ilmu adalah untuk ma’rifatullah (mengetahui hakekat Allah) dan mengetahui perintah dan larangan-Nya. Karena ketaatan kepada Allah tidak dapat dicapai melainkan dengan mengetahui semua itu.

Oleh karena itu Imam asy-Syafi’i menjadikan ilmu sebagai sebab untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam salah satu nasehatnya beliau mengatakan, “Barangsiapa ingin mendapatkan dunia maka hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa ingin mendapatkan akhirat maka hendaklah dengan ilmu pula.” [Imam asy-Syafi’i, Ar-Risalah, hal. 19]

ILMU DAN PENDIDIKAN

Dua hal yang sangat penting, yaitu ilmu dan pendidikan. Adanya dua hal tersebut dalam diri seseorang akan menciptakan bakat akal yang baik, sehingga ia dapat menjalankan urusan agama dan dunianya dengan baik pula. Bahkan lebih dari itu, karena ilmu dan pendidikan hakekatnya adalah kebutuhan setiap naluri manusia, seseorang tidak mampu mempelajari berbagai macam ilmu hanya mengandalkan kefahaman atau kesadaran semata, tetapi ia membutuhkan bakat khusus, dan untuk mencapai bakat pada sebuah ilmu hanya dapat dilakukan dengan pendidikan. [Al-Maqashid Al-‘Ammah, 350-366]

Bertambahnya pengetahuan akan menambah ketajaman akal dan kecerdasannya, akan menunjukkan pembuktian-pembuktian yang benar, akan membuat seseorang baik dalam menyikapi urusan agama dan dunianya. Bila hal ini menjadi perhatian kaum muslimin maka akal generasi Islam akan bersih dari noda kebodohan, khurafat, keraguan, dan dengan itu kaum muslimin dapat memahami secara benar urusan agama maupun dunia mereka serta jauh dari bid’ah dan kesesatan.

Oleh karena itu, syari’at Islam mengajarkan pendidikan tujuannya untuk menjaga akal umatnya. Akal yang bodoh tidak ada nilainya, karena mudah tercampuri dengan keraguan dan kurafat, sehingga akal seperti ini tidak dapat berfikir tentang hakekat agama, juga tidak dapat meraih kemaslahatan dunianya.

NASEHAT IMAM ASY-SYAFI’I

Mari kita renungkan nasehat Imam asy-Syafi’i tentang anjuran menuntut ilmu, beliau mengatakan bahwa menuntut ilmu lebih utama daripada shalat nafilah, atau tidak ada amalan yang lebih utama setelah amalan wajib kecuali menuntut Ilmu. Dalam nasehat yang lain beliau berkata, “Barangsiapa tidak suka dengan ilmu maka tidak ada kebaikan baginya.” [Tahdzibul Asma’, 78]

baca  juga: Fase Perkembangan Ilmu Maqashid

Dalam kitab Al-Majmu’ disebutkan salah satu nasehat beliau, “Barangsiapa mempelajari al-Qur’an akan besar nilainya, barangsiapa mempelajari fikih akan mulia kedudukannya, barangsiapa mempelajari bahasa akan lembut tabi’atnya, barangsiapa mempelajari ilmu perhitungan akan fasih pikirannya, barangsiapa menulis hadits akan kuat hujjahnya, dan barang siapa yang tidak mampu memelihara jiwanya maka tidak akan bermanfaat ilmunya.” [An-Nawâwi, Al-Majmu’, 1/20]. Wallahu a’lam. []

%d bloggers like this: