Meninjau Waktu Wukuf

Meninjau Waktu Wukuf

Ketentuan dan pelaksanaan ibadah haji telah ditetapkan oleh syariat. Namun, dengan berbagai alasan Masdar F Mas’udi, Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hadir dengan mempertanyakan kembali perihal waktu pelaksanaan haji. Tak ayal lagi, idenya ini menimbulkan keresahan di kalangan umat terkait dengan pelaksanaan ibadah haji yang tidak pernah diutak-utik oleh para ulama selama lebih dari 14 abad.

 

IDE NYELENEH MASDAR

­Berangkat dari berbagai fenomena yang ada dalam pelaksanaan ibadah haji, berupa kesulitan dan kepayahan yang dialami para jamaah haji, Masdar berusaha memberikan “solusi” guna lancarnya perjalanan ibadah haji di Mekah.

Berawal dari ayat 197 dari Surat Al-Baqarah, Masdar menyatakan bahwa Ayat ini dengan jelas menegaskan bahwa waktu pelaksanaan ibadah haji adalah beberapa bulan yang sudah maklum (asyhurun malumat). Para mufassir dan para ulama mengatakan bahwa yang dimaksud adalah bulan Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Menurut ulama Madzhab Hanbali, waktu haji yang dimaksud adalah keseluruhan hari selama tiga bulan tersebut. Menurut ulama madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i yang dimaksud adalah seluruh hari-hari bulan Syawwal dan Dzulqa’dah ditambah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Selanjutnya Masdar menyatakan bahwa seluruh prosesi (manasik) haji, mulai dari memakai pakaian ihram hingga potong rambut, sebagai satu paket peribadatan yang sah dilaksanakan secara berurutan, pada hari mana saja selama asyhurun ma’lumat (3 bulan) tersebut.

Kesimpulan tersebut berdasar pada analogi ibadah haji terhadap shalat isya. Hal mana kedua ibadah tersebut dalam praktek pelaksanaannya tidak sepanjang waktu yang disediakan. Dalam istilah fikih disebut dengan wajib muwasa’. Artinya waktu yang disediakan syara’ dan sah untuk pelaksanaan ibadah yang dimaksud, lebih panjang dibanding dengan waktu yang secara riil dibutuhkan.

Selanjutnya Masdar menjelaskan bahwa hadits sahih yang berbunyi, “Khudzû ‘annî manâsikakum (Ambil atau contohlah dariku manasik kalian)”, ini harus dipahami sebatas menyangkut prosesi (manasik) ibadah haji. Dan juga hadits Nabi, “Al-hajju ‘arafah (Haji adalah Arafah)”, ini juga harus dipahami bahwa puncak ibadah haji adalah wukuf di Arafah saja. Jangan dikaitkan dengan hari mana atau tanggal berapa haji dilaksanakan. Sebab menurut Masdar, jika tidak dipahami seperti itu maka akan  kontradiktif dengan ayat 197dari surat al-Baqarah, (islamlib.com/ meninjau ulang waktu pelaksanaan haji).

 

MELURUSKAN PEMAHAMAN

Dari Surat al-Baqarah ayat 197 dapat kita ketahui waktu pelaksanaan haji. Yaitu diawali dari bulan syawal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. Dan apa yang dikutip oleh Masdar tentang 3 bulan haji, itu sebagaimana dijelaskan oleh para ulama fikih. Dan dalam kitab-kitab tafsir banyak dijelaskan tentang perkara ini ketika membahas ayat 197 dari surat Al-Baqarah. (Ibnu Katsir, Tafsir al-Quran al-Karim, 1/401-404)

Kekeliruan Masdar mulai nampak ketika menganalogikan Ibadah Haji dengan Ibadah shalat. Dengan menyatakan bahwa keduanya termasuk ibadah wajib muwasa’, hal mana waktu pelaksanaan yang diberikan lebih panjang dari waktu yang dibutuhkan.

Memang benar bahwa ibadah shalat dilihat dari waktunya termasuk ibadah wajib yang muwasa’. Misal, dalam rentang waktu pelaksanaan shalat Isya, seseorang dapat melakukan ibadah lain yang sejenis. Misalkan shalat rawatib atau bahkan shalat wajib, seperti qadha shalat Maghrib.

Beda halnya dengan ibadah haji. Haji termasuk kategori yang lain, yaitu dzu syibhaini. Yaitu ibadah yang memiliki waktu yang panjang di satu sisi, sementara di sisi lain tidak. Artinya ibadah haji jika dilihat dari rentang waktu 3 bulan yang disediakan, lebih panjang dari waktu riil yang dibutuhkan, yaitu 3 hari. Namun, dilihat dari sisi pelaksanaan wukuf, tidak ada ibadah lain yang dapat dilakukan di saat pelaksanaan wukuf di arafah. (Lihat Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul al-Fiqh, (Maktab Ad-Dakwah Al-Islamiyah, Cet-8, hal. 107)

Selanjutnya kesalahan Masdar adalah menganggap nash dari al-Quran kontrakdiktif dengan nash dari hadits, kemudian melakukan jama’ (penggabungan). Padahal Hadits-hadits tersebut adalah sebagai penjelas dari ayat yang ada. Terbukti bahwa perintah wukuf diarafah sendiri termaktub pada ayat 198 dari surat al-Baqarah.

baca juga: Riba Dalam Dana Talangan Haji

Sedangkan tentang waktu wukuf, telah ada ijma’ dari para ulama bahwa wukuf di Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah hingga terbenamnya matahari hari itu yang menandai masuknya tanggal 10 Dzulhijjah. (Muhammad Amin Asy-Syanqithi, Adhwa’ al-Bayan, 4/434).

Ijma’ tersebut berdasarkan hadits hasan shahih yang diriwayatkan oleh Tirmizi dari sahabat Urwah bin Mudhris, (Abdullah An-Najdi At-Tamimi, Mufid al-Anam wa Nur Az-zulam fi Tahrir al-Ahkam Lihajji Baitillah al-Haram, 2/39).

Selanjutnya hadits yang memuat perintah Nabi untuk mencontoh manasik beliau, sebagaimana dijelaskan oleh Mufti Mesir Dr. Nasr Farid Wasil, mengandung makna bahwa pada hakikatnya manasik haji itu adalah perkara tauqifi. Sehingga tidak boleh ada ijtihad di dalamnya. Beliau menambahkan—sebagaimana dimuat dalam onislam.net—bahwa perubahan yang diperbolehkan dan tidak melanggar syar’i adalah perubahan terkait perbaikan sarana-sarananya yang ada saja. Wallahu a’lam. []

 

ilyas

%d bloggers like this: