Menikahi Wanita Majusi Aatau Wanita Musyrik

Menikahi Wanita Majusi Aatau Wanita Musyrik

Nikah adalah akad sakral antara pria dan wanita. Akad inilah yang menjadikan dua mempelai saling halal untuk hidup bersama. Prinsip memilih wanita sebagai pasangan hidup dijelaskan Rasulullah melalui sabdanya,

“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR. Al-Bukhari)

Agama adalah pondasi utama dalam memilih pasangan hidup. Nikah beda agama akan berujung pada penyesalan dan perbedaan yang sulit disatukan.

Yang jelas, wanita Muslimah tidak boleh dinikahi pria non Muslim. Apapun keadaannya. Karena suami adalah sang nahkoda yang harus ditaati oleh istri.

 

BACA JUGA: SANKSI PERNIKAHAN SEJENIS

 

Namun, seorang Muslim boleh menikahi wanita nun-Muslim dari golongan Ahlul Kitab. Allah berfirman,

“Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu.” (QS. Al-Maidah: 5)

MENIKAHI WANITA MUSYRIK

Berbeda dengan Ahlul Kitab. Wanita-wanita musyrik tidak boleh dinikahi oleh seorang Muslim (Al-Mughni: VI/472). Allah berfirman,

“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.”  (QS. Al-Baqarah: 221)

Dalil tersebut sangat jelas dan tegas melarang menikahi wanita-wanita musyrik, baik wanita tersebut merdeka ataupun budak. Di sinilah terdapat perbedaan dan muncullah pendapat syadz (nyleneh) yang berpendapat bahwa majusi tergolong Ahlul Kitab yang boleh dinikahi.

MAJUSI ADALAH KAUM MUSYRIK

Majusi tidak memiliki kitab yang diturunkan sebagaimana Yahudi dan Nasrani. Agama ini dikenal sebagai pemuja api atau zoroaster.

Konon, agama ini dikenal sebagai agama yang mempercayai satu Tuhan (monotheisme), yaitu tuhan kebaikan (Ahura Mazda). Tuhan ini dilambangkan sebagai api. Maka, penganut agama ini sering dianggap sebagai penyembah api.

Majusi jelas menyekutukan Allah subhanahu wata’ala alias musyrik. Tidak mengesakan bahkan meniadakan-Nya. Lantas, apakah boleh menikahi wanita yang berkeyakinan seperti ini?

Mayoritas ulama menghukumi haram menikahi wanita Majusi yang musyrik. Mereka bukan Ahlul Kitab. Majusi tak memiliki kitab suci dan Nabi. Yahudi memiliki kitab Taurat, Nabi mereka Nabi Musa. Sedang Nasrani mempunyai kitab Injil, nabi mereka Nabi Isa q.

Madzhab Zhahiriah berpendapat nyleneh. Mereka berpendapat Majusi termasuk golongan Ahli kitab sehingga seorang Muslim boleh menikah dengan wanita-nya (lihat: Badaai’ Ash-Shanaai’, 2/272). Apakah benar demikian?

PIJAKAN YANG MASIH SYUBHAT

Pendapat yang membolehkan menikahi wanita majusi dan wanita musyrik berdalil dengan beberapa hadits Nabi ﷺ,

Rasulullah ﷺ bersabda,

سُنُّوا بِهِمْ سُنَّةً أَهْلِ الْكِتَابِ

“Berbuatlah kalian kepada mereka (orang-orang Majusi,-pent) sebagaimana berbuat kepada golongan Ahli Kitab” (Tanwiru Al-Hawalik Syarh Ala Muwaththa’ Malik. Kitab Az-Zakat, 1/264)

Hadits di atas menyiratkan bahwa penganut Majusi hendaknya disamakan perlakuannya dengan Ahlul Kitab. Mereka menarik kesimpulan dari hadits ini, bahwa Majusi termasuk golongan Ahlul Kitab.

Persepsi seperti ini kurang tepat. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَىٰ طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا

“(Kami turunkan Al-Qur’an itu) agar kamu (tidak) mengatakan: Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami” (QS. Al-An’am: 156)

Seandainya orang-orang Majusi termasuk golongan Ahli Kitab, pasti akan disebutkan bahwa Ahli kitab terdiri dari tiga kelompok; bukan dua golongan.

Alasan lain, terdapat riwayat bahwa Hudzaifah z pernah menikahi wanita Majusi, dan karena mereka masih ditetapkan terkena jizyah (pajak), sehingga status mereka mirip dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani.” (Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 6/591)

Mengenai riwayat Hudzaifah menikahi wanita majusi tidak lah shahih. Imam Ahmad telah mendha’ifkan (melemahkan). Sementara Ibnu Sirin mengatakan: “Konon, istri Hudzaifah beragama Nasrani.” (Al-Mughni, 6/592)

Sedangkan Jizyah berfungsi melindungi darah penganut agama Majusi, bukan memasukkan mereka ke dalam golongan Ahlul Kitab. Juga bukan dalil wanita musyrik boleh dinikahi.

KESIMPULAN

Pendapat yang rajih dan telah menjadi kesepakatan para ulama bahwa seorang Muslim tidak boleh menikahi pengikut majusi, para penyembah berhala, dan yang serupa dari golongan orang-orang kafir yang tidak memiliki kitab. Berdasarkan firman Allah subhanahu wata’ala,

Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir.” (QS. Al-Mumtahanah: 10)

Juga firman-Nya, “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman” (QS. Al-Baqarah: 221)

Daripada memilih wanita musyrik, bukankah masih banyak akhwat Muslimah yang shalihah? Wallahu a’lam [-]

 

 

%d bloggers like this: