Menikahi Lima Wanita Atau Lebih Dalam Waktu Bersamaan

Menikahi Lima Wanita Atau Lebih Dalam Waktu Bersamaan.

Nabi SAW memiliki lebih dari empat istri sekaligus. Imam Nawawi menyebutkan bahwa istri Nabi SAW berjumlah sembilan [al-Majmu’ 16: 137]. Mungkin berawal dari sini, ada yang berpendapat boleh memiliki istri lebih dari empat dalam waktu bersamaan.

Kenyataannya, dua tahun lalu, Eyang Subur memiliki delapan istri dalam waktu bersamaan. Fenomena ini sempat menjadi trending topic di media massa nasional. Namun, akhirnya memang Eyang Subur menceraikan empat istrinya. Tentu setelah desakan ormas Islam dan MUI yang memfatwakan sesat.

Ditinjau dari sisi fikih, ternyata kebolehan poligami lebih dari empat istri ini tercatat dalam kitab al-Mughni 7/436. Pendapat ini dinisbatkan kepada al-Qosim bin Ibrahim. Pendapat seperti ini jelas nyleneh lagi menyimpang.

Kasus beristri lebih dari empat, misalnya sembilan istri sekaligus, ada banyak sebab. Bila sebab tersebut karena berdasarkan agama lain, aliran kepercayaan atau karena nafsu belaka tidak akan kita bahas di sini. Namun, bila pembenaran pendapat ini mengatasnamakan syariat Islam atau mengikuti pendapat ulama, maka kita akan coba dudukkan masalahnya.

Salah Tafsir

 ….فَانكِحُوا مَاطَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَآءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ …..

“.. Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat.” (QS. an-Nisa’ [4] : 3). Sebenarnya, ayat ini jelas menunjukkan bolehnya berpoligami atau menikahi wanita maksimal hanya empat saja. Tidak boleh melebihi empat dalam satu waktu.

Namun, ada yang memahami salah. Huruf wau [و] dalam kata مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ mengandung makna al-jam’u, dihimpun atau penambahan. Jadi, ayat tersebut bermakna dua ditambah tiga ditambah empat, berarti sembilan. Boleh menikahi wanita maksimal sembilan orang dalam waktu bersamaan.

Pendapat ini cacat dan tertolak oleh Jumhur umat Islam dan kesepakatan seluruh Madzhab Ahlussunah waljama’ah. Makna yang benar, huruf wau [و] dalam ayat tersebut bermakna at-takhyir, pilihan yaitu dibolehkan memilih 2, 3, atau 4 wanita sebagai istri dan tidak boleh lebih dari empat istri dalam waktu yang bersamaan.

Terdapat beberapa hadits yang menjelaskan batasan empat istri dalam waktu yang bersamaan, di antaranya:

عَنْ قَيْسِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ أَسْلَمْتُ وَعِنْدِى ثَمَانِ نِسْوَةٍ فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ: اخْتَرْ مِنْهُنَّ أَرْبَعًا. (رواه أبو داود و ابن ماجة)

Dari Qais bin al-Harits, ia berkata, “Ketika aku masuk Islam, aku memiliki delapan istri. Aku pun mengatakan kepada Nabi SAW tentang hal tersebut, lalu beliau bersabda, ‘Pilihlah empat saja dari kedelapan istrimu tersebut.” (HR. Abu Daud no. 2241 dan Ibnu Majah no. 1952. Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani).

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنََّ غَيْلاَنَ بْنَ سَلَمَةَ الثَّقَفِىَّ أَسْلَمَ وَلَهُ عَشْرُ نِسْوَةٍ فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَأَسْلَمْنَ مَعَهُ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يَتَخَيَّرَ أَرْبَعًا مِنْهُنَّ. (رواه الترمذي)

Dari Ibnu Umar bahwa Ghailan bin Salamah ats-Tsaqafi baru masuk Islam dan ia memiliki sepuluh orang istri pada masa Jahiliyah. Istri-istrinya pun masuk Islam bersamanya, lantas Nabi SAW memerintahkan agar ia memilih empat orang dari istri-istrinya. (HR. Tirmidzi no. 1128. Syaikh al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih).

Imam Nawawi dalam alMajmu’ 16: 137, menyatakan,”Diperbolehkan bagi seorang laki-laki mengumpulkan empat orang istri. Lebih dari itu tidak diperbolehkan, karena dalam ayat hanya menyebutkan: dua, tiga, atau empat.”

Jadi, bila ada orang yang mempunyai istri lebih dari empat sekaligus, berarti telah melanggar hadits-hadits Nabi di atas. Na’udzubillah min dzalik. Apa pun alasannya, haram menikahi lima orang istri atau lebih dalam waktu yang bersamaan.

Zakat Fithri Tidak Disyariatkan

Dalam kitab al-Bayan 3/350 karya al-Imrani asy-Syafi’i, disebutkan bahwa Asham, Ibnu Alaih, dan sebagian ulama Bashrah berpendapat bahwa zakat Fithri tidak disyariatkan alias tidak diwajibkan bagi kaum muslimin.

baca juga: Pernikahan Muyassar, Apa Hukumnya?

Wa’llahu alam, tidak jelas dalil yang dijadikan pijakan, tapi pendapat ini nyleneh dan menyelishi ijma’ para ulama. Syariat zakat Fithri dijelaskan dalam hadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat Fithri dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa. Zakat tersebut diperintahkan untuk dikeluarkan sebelum orang-orang keluar untuk melaksanakan shalat ‘Ied.” (HR. Bukhari no. 1503 dan Muslim no. 984)

Jadi, pendapat sebagian ulama bahwa zakat Fithri tidak disyariatkan adalah pendapat yang batil dan menyelisihi ijma’ serta hadits Nabi SAW.

 

 

.

%d bloggers like this: