Mengusap Sepatu Ketika Wudhu

Mengusap Sepatu Ketika Wudhu

Aneh. Dalam kitab al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, Abu Ja’far ath-Thahawi mencantumkan bab mashu al-khuffain (mengusap sepatu/alas kaki yang menutupi mata kaki) di dalam kitab beliau. Padahal tema ini adalah salah satu kajian dalam ilmu fikih.

Latar belakang pencantumannya adalah karena beliau hendak menangkal atau mengantitesa pemahaman sesat Syiah Rafidhah. Menurut mereka, tidak boleh mengusap khuf (sepatu/alas kaki yang menutupi mata kaki) ketika berwudhu. Bahkan, syariat ini haram dilaksanakan.

Syiah Menyelisihi Ijma’ Ulama

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin dalam Syarhul Mumti’ 1/97 menjelaskan, Syiah Rafidhah menyelisihi kebenaran seputar cara bersuci pada kaki dalam tiga hal:

  1. Mereka tidak mengalirkan air ke kaki mereka ketika berwudhu, tetapi mereka hanya membasahi tangan lalu mengusapkannya ke kaki.
  • Mereka mengusap kaki mereka ketika wudhu tidak sampai ke kedua mata kaki tetapi hanya sampai ke punggung kaki (bagian atas kaki).
  1. Mereka tidak mengusap kedua khuf (sepatu/sandal/alas kaki dsb), mereka memandang bahwa hal itu adalah haram.

 

Penyimpangan ini berawal dari qira’ah jarr ~dibaca kasroh~ pada lafal ‘wa arjulakum’ dalam ayat:

وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

Dan usaplah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” (QS. Al-Maidah : 6).

Ketika ‘wa arjulakum’ dikasrahkan, berarti “usaplah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki.”

Wal hasil, syiah berpendapat ayat di atas menghapus semua hadits yang menjelaskan tentang mengusap khuf/sepatu.

Pendapat nyleneh ini menyelisihi ijma’ para ulama ahlus sunnah. Imam Ahmad berkata, “Tidak ada dalam hatiku (keraguan) sedikitpun tentang mengusap (khuf). Ada empat puluh hadits dari para sahabat Nabi SAW yang membahas hal ini. Ada yang marfu’ (sampai pada Nabi SAW) dan ada yang mauquf (sampai para sahabat).” (Al-Mugni 1/361)

 

Antitesa Pendapat Nyleneh Ini

Surat Al-Maidah ayat 6 memang bisa dibaca jar/kasroh. Akan tetapi hal ini berlaku pada keadaan mengusap khuf (sepatu/alas kaki yang menutupi mata kaki), bukan saat mencuci kaki.

Rasulullah SAW mempraktekkan ayat ini dan dilihat oleh banyak sahabat. Yaitu praktek mencuci dengan mengalirkan air, bukan mengusap kaki. Begitu juga para sahabat menceritakan secara mutawatir tentang wudhu Rasulullah SAW ketika kaki terbuka. Adapun ketika bersepatu yang sampai menutup mata kaki dibolehkan ketika wudhu cukup diusap saja.

Dari Humran bin Aban, ia berkata, “Aku pernah menyaksikan ‘Utsman bin ‘Affan sedang berwudhu. Dia kemudian menuangkan (air) ke kedua tangannya dan membasuh keduanya… Kemudian membasuh kaki kanannya tiga kali, dan dilanjutkan dengan (membasuh) kaki kiri tiga kali. (HR. al-Bukhari no.159 dan Muslim no.226)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya terdapat hadits-hadits yang berderajat mutawatir dari Rasulullah SAW berkenaan dengan pensyariatan mengusap khuf, baik memuat ucapan maupun perbuatan (tentang itu). Kaum Rafidhah (Syiah) menyelisihi (umat Islam) dalam masalah ini, tanpa landasan apa-apa, padahal telah ada riwayat dalam Shahih Muslim (hadits no.276) dari riwayat Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib, sebagaimana tertuang dalam Shahihain dari Nabi tentang larangan menikah mut’ah, sementara mereka menghalalkannya”. (Tafsirul Qur`anil ‘Azhim 3/58).

Dari Hammam, ia berkata, “Jarir pernah buang air kecil, lalu ia berwudhu dan mengusap dua khufnya. Kemudian ada yang mempertanyakannya, “Kamu melakukannya?”. Dia menjawab, “Ya. Aku pernah menyaksikan Rasulullah buang air kecil, lalu beliau berwudhu dan mengusap dua khufnya”. (HR. al-Bukhari no.387 dan Muslim no.272).

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Barang siapa yang mengusap dua kaki (yang terbuka) dalam berwudhu, ia adalah seorang mubtadi’, menyalahi petunjuk hadits yang mutawatir dan nash al-Qur`an. Apabila kaki terbuka, maka wajib dibasuh, dan apabila (tertutup) di dalam sepatu/alas kaki yang menutupi mata kaki, maka hukumnya seperti yang dijelaskan dalam Sunnah (dengan mengusap khuf tersebut)…” (Majmu Fatawa 21/134).

baca juga: Membasuh Anggota Wudhu Secara Beruntun

Kesimpulan

Khuf adalah sepatu atau apapun yang dipakai yang menutupi hingga mata kaki. Ketika berwudhu, sepatu boleh diusap untuk orang yang mukim (tidak bersafar) 1 hari dan musafir 3 hari dengan syarat sebelum dipakai sudah suci terlebih dahulu. Seperti inilah ahlus sunnah wal jamaah.

Sedangkan pendapat tidak disyariatkannya mengusap khuf/sepatu ketika berwudhu adalah pendapat nyleneh lagi menyimpang dari Syiah Rafidhah.

Sebagai rukhsah bagi kita, maka mengusap khuf ketika wudhu tetap dibolehkan dengan beberapa rambu yang mesti diperhatikan. Wallahu alam.[]

%d bloggers like this: