Mengusap Seluruh Kepala dan Kedua Telinga

Mengusap Seluruh Kepala dan Kedua Telinga

مِنْ سُنَنِ الْوُضُوْءِ: مَسْحُ جَمِيْعِ الرَّأْسِ وَ مَسْحُ الأُذُنَيْنِ ظَاهِرِهِمَا وبَاطِنِهِمَا بِمَاءٍ جَدِيْدٍ.

“Di antara sunnah-sunnah wudhu lainnya adalah mengusap seluruh kepala dan mengusap dua telinga baik bagian luar atau dalamnya dengan air yang baru.”

MENGUSAP KEPALA

Amalan yang disunnahkan dalam wudhu selanjutnya adalah mengusap seluruh kepala dan mengusap dua telinga baik bagian luar maupun bagian dalam. Pada edisi yang ke-9 bulan September telah disinggung bahwa mengusap kepala adalah amalan yang difardukan dalam wudhu, berdasarkan firman Allah, “Dan usaplah kepalamu.” (QS. Al-Maidah: 6).

Di sini perlu diketahui, bahwa mengusap kepala yang difardhukan menurut mazhab Syafi’i adalah mengusap sebagian saja, adapun mengusap secara keseluruhan maka masuk dalam lingkup amalan yang disunnahkan sebagaimana disebutkan dalam matan di atas. Dan sebagian ulama lain berpendapat bahwa mengusap kepala keseluruhan adalah amalan yang difardhukan dalam wudhu.

Abdullah bin Zaid ketika ditanya tentang wudhu Rasulullah ia menjawab, “… kemudian beliau mengusap kepala dengan tangannya, menyapunya ke depan dan ke belakang. Beliau memulainya dari bagian depan kepalanya ditarik ke belakang sampai ke tengkuk kemudian mengembalikannya lagi ke bagian depan kepalanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas secara detail menjelaskan bagaimana Rasulullah mengusap kepala dalam wudhu, yaitu dengan mengusap kepala dengan telapak tangan yang telah dibasahi air dari arah depan ke belakang (tengkuk), kemudian membalikkan usapan dari belakang ke depan.

MENGUSAP TELINGA

Setelah mengusap seluruh kepala adalah mengusap dua telinga baik bagian luar maupun dalam. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat, menurut mazhab Hanbali dan sebagian mazhab Maliki menyatakan sebagai amalan fardhu wudhu, berdasarkan firman Allah, “Dan usaplah kepalamu.” (QS. Al-Maidah: 6). Menurut mereka, telinga adalah bagian dari kepala.

Namun menurut jumhur ulama mengusap telinga adalah sunnah dalam wudhu. Alasannya, tidak ada dalil khusus dari Nabi yang menunjukkan atas perintahnya, yang ada hanyalah praktek beliau dan itu tidak serta-merta menunjukkan kewajibannya.

Ibnu Hubairah menjelaskan para ulama sepakat bahwa mengusap bagian luar dua telinga dan bagian dalamnya adalah sunnah wudhu, kecuali Imam Ahmad memandang sebagai amalan fardhu dalam wudhu. Imam al-Qurthubi juga menjelaskan bahwa para ulama membenci seorang yang berwudhu tidak mengusap dua telinga, mereka menganggap sebagai bentuk meninggalkan salah satu sunnah Nabi, dan mereka tidak mewajibkan untuk mengulanginya kecuali pendapat Ishaq. (Al-Ifshah, 1/74, Al-Qurthubi, Jami’u Ahkamil Qur’an, 6/90).

Dalam mazhab Syafi’i, disunnahkan mengambil air yang baru untuk mengusap telinga, bukan air dari sisa mengusap kepala. Demikian ini juga merupakan pendapat jumhur ulama mazhab Maliki dan Hanbali. Berbeda dengan mazhab Hanafi, menurutnya tidak dianjurkan mengambil air yang baru untuk mengusap telinga namun cukup dengan sisa mengusap kepala. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 43/365 – 366).

Mengusap telinga bagian dalam dan bagian luar secara keseluruhan, berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas, ia mengkisahkan wudhu Rasulullah, “… kemudian beliau mengusap kepalanya dan kedua telinganya, bagian dalam dengan jari telunjuk dan bagian luar dengan jempol.” (HR. An-Nasa’i).

Dalam riwayat lain dari Abdullah bin ‘Amr, ia menceritakan tata cara wudhu Nabi, “Beliau memasukkan kedua jari telunjuknya di telinganya, lalu beliau mengusap bagian luar telinga dengan jempolnya dan beliau mengusap dalam telinga telunjuk.” (HR. Abu Dawud)

MENUSAP SURBAN DAN JILBAB

Diperbolehkan mengusap surban pada kepala bagian depan lalu disempurnakan sampai bagian atasnya. Hal ini untuk memudahkan pengguna surban, karena pada zaman dahulu surban adalah penutup kepala yang digemari dan menjadi kebutuan. (Ibnu Taimiyyah, Majmu’ Fatawa, 21/218).

Bagi seorang wanita yang berwudhu di tempat umum, di mana banyak laki-laki asing sehingga tidak memungkinkan baginya untuk melepas jilbab, maka diperbolehkan baginya untuk mengusap permukaan jilbab sebagai ganti dari mengusap kepala. Ibnu Mundzir menjelaskan bahwa wanita boleh mengusap permukaan jilbabnya yang melingkar sampai ke leher. Karena Ummu Salamah pernah mengusap bagian atas jilbabnya. (Syarhu Muntaha Al-Iradat, 1/60).

baca juga: Berkumur Dan Menghirup Air

Dalam Fatwa Islam disebutkan pula tidak perlu baginya mengusap telinga, mengingat kerudung itu menutupi kedua telinga maka cukup mengusap di atas kerudung. Dan tidak wajib memasukkan kedua tangan ke bawah kerudung untuk mengusap telinga. (Fatwa Islam, no. 72391). []

 

(Arif Hidayat)

 

%d bloggers like this: