Mengobati Paceklik dengan Shalat Istisqa’

Mengobati Paceklik dengan Shalat Istisqa’

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan hingga akhir bulan Juli 2015, sedikitnya ada 12 provinsi dan 77 kabukaten/kota dengan 526 kecamatan di Indonesia yang telah mengalami kekeringan. Diperkirakan juga sekitar 25 ribu hektar sawah puso dan 200 ribu hektar pertanian rawan kekeringan.

Daerah-daerah di selatan khatulistiwa akan mengalami dampak kekeringan yang lebih parah dibandingkan daerah lainnya di Indonesia. Daerah-daerah tersebut antara lain wilayah Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan bagian barat daya Maluku.

Beberapa propinsi telah mengalami masa kekeringan panjang sejak waktu yang lama. NTB dan NTT telah memasuki musim kemarau sejak Maret 2015 dan diprediksi berlangsung hingga November 2015. Sementara Jawa memasuki musim kemarau sejak April 2015 dan diprediksi berlangsung hingga Oktober 2015.

Hal ini disebabkan adanya fenomena alam El Nino yang terjadi mulai Juli dan akan mencapai puncaknya pada November 2015.  El Nino adalah gejala gangguan iklim yang diakibatkan oleh naiknya suhu permukaan laut Samudera Pasifik sekitar khatulistiwa bagian tengah dan timur.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa pada sektor pertanian, El Nino berdampak pada panjangnya masa paceklik atau gagal panen. Pada sektor kehutanan, El Nino dapat berdampak pada kebakaran hutan dan lahan. Sementara, pada sektor kesehatan, El Nino berdampak pada kurangnya ketersediaan air bersih dan meningkatnya demam berdarah. Dampak El Nino paling besar adalah puso yaitu gagal panen, dan bera yaitu lahan yang tidak dikerjakan akibat perubahan faktor cuaca.

Dihadapkan pada musim paceklik panjang ini, semua pihak berharap hujan segera turun seperti normalnya musim penghujan. Dalam tinjauan fiqih, semua ulama bersepakat bahwa istisqa’, yaitu berdoa, beristighfar, dan memohon turunnya hujan kepada Allah adalah amalan yang disunnahkan. Namun para ulama berbeda pendapat tentang disunahkan atau tidaknya shalat Istisqa’.

Pendapat Pertama: cukup memperbanyak doa dan istighfar, tak perlu shalat istisqa’

Imam Abu Hanifah berpendapat tidak ada kesunnahan melaksanakan shalat Istisqa’ (meminta hujan) secara berjama’ah. Hal yang diperintahkan syariat adalah memperbanyak doa dan istighfar.

Abu Hanifah berkata, “Adapun meminta hujan dengan shalat secara berjama’ah, maka tidaklah ada dasarnya. Yang ada adalah perintah memperbanyak doa dan istighfar. Jika mereka menunaikan shalat (Istisqa’) sendiri-sendiri, maka tidak mengapa.” (Badai’u Ash-Shanai’, 2/256)

Diantara argumentasi beliau adalah:

  1. Allah SWT hanya memerintahkan istighfar, tanpa shalat Istisqa’, dalam firman-Nya, “Maka aku (Nuh) katakan: ‘Hendaklah kalian meminta ampunan Rabb kalian, sesungguhnya Ia Maha Pengampun. Niscaya Ia akan mengirimkan hujan yang lebat kepada kalian.” ( Nuh [71]: 10-11)
  2. Hadits-hadits shahih hanya menyebutkan doa dan istighfar, tanpa menyebutkan shalat Istisqa’. Diantaranya hadits dari Anas bin Malik berkata, “Seorang laki-laki memasuki masjid pada hari Jum’at dari arah pintu yang menuju mimbar, pada saat Rasulullah SAW sedang menyampaikan khutbah. Laki-laki itu berdiri dan menghadapkan wajahnya kepada beliau, lalu berkata ‘Wahai Rasulullah, binatang-binatang ternak telah mati dan jalan-jalan penghidupan telah terputus. Karena itu berdoalah kepada Allah agar Allah menurunkan hujan kepada kami’. Maka Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya dan berdoa, ”Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan.” ( Bukhari no. 1013 dan Muslim no. 897)
  3. Sunnah Umar bin Khathab, beliau berdoa tanpa melakukan shalat Istisqa’. Dari Anas bin Malik bahwasanya saat terjadi musim paceklik panjang, Umar bin Khathab berdoa meminta hujan kepada Allah dengan perantaraan Abbas bin Abdul Muthalib. Umar berkata, “Ya Allah, dahulu kami meminta hujan kepada-Mu dengan perantaraan nabi kami, lalu Engkau memberi kami hujan. Maka saat ini kami meminta hujan kepada-Mu dengan perantaraan paman nabi kami, maka berilah kami hujan!” Dengan doa itu, mereka pun mendapat kiriman hujan. ( Bukhari no. 1010)

 

Pendapat Kedua: disunnahkan melaksanakan shalat Istisqa’

Imam Malik, Syafi’i, dan Ahmad berpendapat disunnahkan melaksanakan shalat Istisqa’ secara berjama’ah. Diantara argumentasi mereka adalah:

  1. Dari Abdullah bin Zaid berkata, “Nabi SAW keluar menuju lapangan tempat shalat, beliau meminta turunnya hujan, menghadap kiblat, membalikkan letak syalnya, dan melaksanakan shalat dua raka’at.” ( Bukhari no. 1012 dan Muslim no. 894)
  2. Dari Aisyah berkata: “Masyarakat mengadukan kepada Rasulullah SAW paceklik panjang, maka beliau memerintahkan dibuat mimbar, yang kemudian diletakkan di lapangan tempat shalat. Beliau menjanjikan satu hari khusus bagi masyarakat untuk keluar ke lapangan. Rasulullah SAW keluar menuju lapangan pada saat sinar matahari mulai meninggi. Beliau duduk di atas mimbar, lalu bertakbir dan bertahmid, kemudian bersabda: “Sesungguhnya kalian telah mengeluhkan kekeringan yang menimpa negeri kalian dan keterlambatan hujan dari waktu yang biasanya. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk berdoa, dan menjanjikan pengabulan doa bagi kalian…

Beliau kemudian turun dari mimbar dan melaksanakan shalat dua raka’at. Maka Allah memunculkan awan-awan tebal, petir, dan kilat, kemudian turun hujan dengan izin Allah.” (HR. Abu Daud no. 1173, Ibnu Hibban, Al-Baihaqi, dan Ath-Thahawi. Sanadnya hasan)

 

Kajian Pendapat

Dalil-dalil yang diajukan oleh kedua pendapat diatas adalah dalil-dalil yang shahih. Dalil-dalil tersebut sebenarnya tidak mengandung kontradiksi, sebab masing-masing dalil mengisahkan kondisi berbeda yang dialami oleh Nabi SAW dan generasi sahabat. Nabi SAW dan para sahabat pernah mencukupkan diri dengan doa dan istighfar, dan dalam kesempatan yang lain beliau dan para sahabat juga melakukan shalat Istisqa’.

Imam Asy-Syafi’ dan An-Nawawi mengkompromikan dalil-dalil tersebut dengan menyatakan bahwa meminta turunnya hujan kepada Allah (Istisqa’) itu ada beberapa cara:

  1. Cara minimalnya adalah dengan berdoa secara sendiri-sendiri atau bersama-sama di masjid atau tempat lainnya, tanpa melakukan shalat Istisqa’ dan bukan dilakukan setelah shalat lainnya. Lebih utama jika yang berdoa adalah orang-orang shalih.
  2. Cara pertengahan adalah dengan berdoa dalam khutbah Jum’at, atau setelah selesai shalat Jum’at, atau setelah shalat-shalat lainnya.
  3. Cara paling utama adalah berdoa dengan melakukan shalat Istisqa’ dua raka’at disertai dua kali khutbah. Sebelum shalat Istisqa’ diadakan, disunahkan untuk banyak beristighfar, bertaubat, bersedekah, melakukan shaum selama 3 hari, dan amal-amal shalih lainnya. (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab, 5/67)

Dengan demikian, kedua pendapat di atas saling melengkapi, dan harus sama-sama diamalkan sebagai usaha mempercepat terkabulnya doa turun hujan. Wallahu a’lam bish-shawab.

baca juga: Di Mana Ada Kesullitan di Situ Ada Kemudahan

Sumber:

Ala’uddin Al-Kasani al-Hanafi, Badai’u ash-Shanai’ fi Tartib asy-Syarai’, Kairo: Darul Hadits, 1426 H.

An-Nawawi asy-Syafi’i, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Beirut: Darul Fikr, 1417 H.

Ibnu Rusyd al-Maliki, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, 1416 H.

Ibnu Qudamah al-Hambali, Al-Mughni Syarh Mukhtashar al-Khiraqi, Riyadh: Dar ‘Alam al-Fawaid, 1417 H.

 

 

 

%d bloggers like this: