Menghukumi Berdasarkan Apa Yang Dilafalkan

Menghukumi Berdasarkan Apa Yang Dilafalkan

لَا يُنْسَبُ إِلىَ سَاكِتٍ قَوْلٌ، وَلَكِنِ السُّكُوْتُ فِي مَعْرَضِ الْحَاجَةِ إلىَ اْلبَيَانِ بَيَانٌ

Tidak disandarkan suatu pernyataan pun pada orang yang diam. Akan tetapi, diamnya seseorang saat suatu keterangan dibutuhkan merupakan suatu keterangan

KEDUDUKAN KAIDAH

Dalam Islam, pada dasarnya, yang menjadi acuan dalam muamalah antar sesama adalah apa yang terlafalkan dari seseorang. Lafal yang keluar dari bibir seseorang ibarat cermin hati, duta perasaannya, dan suara dari keinginanannya. Oleh itu, apa yang terlafalkan umumnya tidak pernah keliru, tidak salah, dan tidak menyelisihi apa yang dikehendaki oleh seseorang. Karena itu, orang diam yang tidak melafalkan apa pun, pada asalnya tidak bisa dihukumi bahwa ia setuju dan ridha. Sebaliknya, juga tidak bisa dihukumi bahwa ia menolak atau mengingkari.

Namun, pada kondisi dan konteks tertentu, diamnya seseorang justru mengindikasikan dan menunjukkan persetujuan serta keridhaannya. Dalam kondisi ini, diamnya seseorang dihukumi bahwa ia mengizinkan dan membolehkan sesuatu. Contohnya adalah seperti diamnya Nabi n ketika beliau melihat atau diberitahukan suatu perbuatan sahabat. Begitu juga dengan diamnya seorang gadis tatkala walinya menanyakan pendapatnya terkait pinangan seorang pemuda.

Oleh ahli fikih, kaidah di atas dimasukkan menjadi turunan dari kaidah ‘al-yaqinu la yazulu bisy syakk’—suatu  yang yakin (pasti), tidak gugur dengan adanya keraguan. Ini lantaran tidak dihukuminya seseorang yang diam; tidak melafalkan apa pun, dengan suatu perbuatan apa pun seperti persetujuan dan keridhaannya, merupakan suatu yang bisa dijadikan acuan yang meyakinkan.

MAKNA KAIDAH

Kaidah di atas pada hakikatnya terdiri dari dua penggalan kaidah. Kaidah ‘tidak disandarkan suatu pernyataan pun pada orang yang diam’ sebagai kaidah asal, dan kaidah ‘akan tetapi, diamnya seseorang saat suatu keterangan dibutuhkan merupakan suatu keterangan’ yang dapat dikatakan sebagai pengecualian dari kaidah sebelumnya.
Untuk memahami kaidah ini dengan baik, pemahaman terhadap makna ‘diam’ dan kondisi ‘suatu keterangan dibutuhkan’ sangat diperlukan.

BACA JUGA: Hukum Asal, Mengukuhkan dan Pemberlakuannya

Diam (sukut) yang dimaksud dalam kaidah di atas dapat didefinisikan sebagai suatu sikap pasif; baik dengan tidak disertai dengan lafal atau ucapan, tulisan, isyarat, serta perbuatan apa pun, yang bisa mengindikasikan adanya suatu keinginan. [Shalih bin Ghanim as-Sadlan, Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa Ma Tafarra’a ‘Anha, 182]

Kondisi ‘diam’-nya seseorang dibagi menjadi dua:

Pertama, diam secara mutlak, yaitu kondisi diamnya seseorang yang lisannya tidak melafalkan apa pun; gestur tubuh tidak menunjukkan indikasi apa pun; begitupun dengan konteks saat ia diam. Diam seperti inilah yang dimaksud pada penggalan pertama kaidah di atas.

Kedua, diam secara lahir—tidak melafalkan apa pun, namun gestur tubuh atau konteks diamnya seseorang menghajatkan suatu keterangan. Diam semisal ini menunjukkan bahwa itu merupakan suatu keterangan. Ahli fikih mengistilahkan diam yang seperti ini dengan sukut mulabas [ibid]. Sementara bentuk keterangan yang seperti ini dinamakan ahli ushul fikih dengan bayan dharurah. Diam yang kedua inilah dalam pandangan sebagian besar ahli fikih dihukumi sebagai pemberian izin atau menunjukkan keridhaan. Diam jenis kedua ini juga yang dimaksud dalam penggalan kedua pada kaidah di atas.

Diam yang menjadi bagian dari keterangan seperti di atas, dapat diketahui dari kondisi dan konteksnya. Di antaranya yaitu diam pada kondisi di saat suatu keterangan dan penjelasan mutlak dibutuhkan. Hal ini seperti diamnya Nabi n saat melihat suatu perbuatan sahabat yang bersifat syar’i. Nabi n pasti akan mengingkari jika menyaksikan setiap perbuatan yang tidak dibenarkan syariat. Oleh karena Nabi n diam, hal ini menunjukkan bahwa beliau mengizinkan dan membolehkan perbuatan itu.

Keterangan seperti itu juga dapat diketahui dari kondisi dan kejiwaan seseorang. Seperti seorang gadis yang diam saja ketika walinya menanyakan terkait pinangan seorang pemuda. Menurut ahli fikih, diamnya seorang gadis menunjukkan persetujuannya [Muhammad Shidqi bin Ahmad al-Burnu, Al-Wajiz fi Idhah Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah. h. 205].

Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa makna kaidah di atas yaitu orang yang diam pada dasarnya tidak mengindisikan pada suatu keinginan dan kehendak; tidak juga menunjukkan penolakan atau pemberian izin. Namun dalam kondisi yang menghajatkan suatu keterangan, sikap diam menunjukkan pembolehan dan pemberian izin.

APLIKASI KAIDAH

Banyak turunan persoalan fikih yang ditetapkan hukumnya berdasarkan kaidah di atas. Untuk penggalan pertama kaidah di atas ‘tidak disandarkan suatu pernyataan pun pada orang yang diam’ di antara contohnya yaitu:

Seseorang menjual barang milik orang lain tanpa seizinnya. Jika pemiliknya diam saja melihat orang tersebut saat menjualnya, maka hal itu bukanlah sebuah izin bagi orang tersebut untuk menjual barang miliknya.
Demikian juga jika pemilik suatu barang diam saja melihat barangnya dirusak oleh orang lain. Hal itu bukanlah sebuah izin darinya agar orang tersebut merusak barangnya.

Jika seorang janda diam saat ditanyakan oleh walinya terkait pinangan seseorang, maka diamnya janda tersebut tidak menunjukkan persetujuan darinya.

Seseorang menempati sebuah ruangan atau rumah milik orang lain yang tidak digunakan untuk disewa. Jika pemiliknya diam, maka hal itu tidak menunjukkan bahwa ia menyewakan ruangan atau rumah itu. Untuk itu, ia tidak boleh meminta uang sewa kepada orang tersebut

Saat menjelang kematiannya, seseorang mengumpulkan beberapa orang. Orang itu meminta bahwa yang hadir di sana bersaksi bahwa ia tidak berhutang pada mereka. Lalu semuanya terdiam. Jika salah seorang di antara mereka pernah menghutangi orang itu, maka diamnya ia saat itu tidak menghalanginya untuk menuntut haknya setelah orang tadi meninggal dunia.

Adapun di antara contoh aplikasi penggalan kedua kaidah di atas ‘akan tetapi, diamnya seseorang saat suatu keterangan dibutuhkan merupakan suatu keterangan’ yaitu:

Seseorang menghibahkan atau meyedekahkan suatu barang milik orang lain. Jika pemiliknya diam saja melihat barang itu diterima oleh orang yang dihibahi atau disedekahi, maka hal itu menunjukkan pemberian izin darinya.
Seorang istri melahirkan seorang bayi. Jika suaminya hanya terdiam ketika itu dan saat diberi ucapan selamat atas kelahiran anaknya, maka hal itu menunjukkan bahwa pengakuannya bahwa bayi itu bisa dinasabkan padanya. Oleh itu, suami tidak boleh mengingkari bayi itu dinasabkan padanya kelak.

Seorang anak gadis bersumpah tidak mau menikah. Jika ayahnya kemudian menikahkannya dengan seorang lelaki, kemudian ia hanya terdiam, maka ia telah melanggar sumpahnya. Karena diamnya menunjukkan persetujuannya untuk menikah. Sementara hal itu bertentangan dengan sumpahnya. Wallahu A’lam. [ ]

REFERENSI

Abdul Karim Zaidan. 1422 H/2001 M. Al-Wajiz fi Syarh al-Qawa’id al-Fiqhiyyah fi asy-Syari’ah al-Islamiyyah. Muassasah ar-Risalah: Beirut.

Muhammad Shidqi bin Ahmad al-Burnu. 1416 H/ 1996 M. Al-Wajiz fi Idhah Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah. Beirut: Muassasah ar-Risalah.

Muhammad Mushthafa az-Zuhaili. 1427 H/ 2006 M. al-Qawa’id al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatiha fil Madzahib al-Arba’ah. Damaskus: Darul Fikr.

Shalih bin Ghanim as-Sadlan. 1417H. Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa Ma Tafarra’a ‘Anha. Riyadh: Dar Balansiyyah

%d bloggers like this: