Menghindari Bahaya Lebih Besar dengan Bahaya Lebih Kecil

Menghindari Bahaya Lebih Besar dengan Bahaya Lebih Kecil

اَلضَّرَرُ اْلأَشَدُّ يُزَالُ بِالضَّرَرِ اْلأَخَفِّ

“Mudharat yang lebih berat dihilangkan dengan mudharat yang lebih ringan”

Kedudukan dan Makna Kaidah

Kaidah ini masih merupakan bagian dari kaidah ‘la dharara wa la dhirara’ yang dibahas pada beberapa edisi sebelumnya.

Jika sebelumnya dijelaskan bahwa syariat Islam tidak memberikan ruang untuk suatu yang bisa atau kemungkinan besar berpotensi menimbulkan suatu mudharat atau kerugian, maka syariat Islam juga melarang usaha menghindari atau menghilangkan suatu mudharat dengan menimbulkan mudharat yang serupa atau yang lebih besar.

Ini berarti bahwa syariat membolehkan dan memberikan izin (dalam kondisi darurat) untuk melakukan mudharat yang lebih kecil dan ringan demi menghindari mudharat yang lebih besar dan lebih berat.

Kaidah ini berlaku untuk kondisi darurat di mana seseorang tidak bisa menghindari atau keluar dari mudharat tersebut kecuali dengan memilih mudharat yang lebih ringan. Ini dikarenakan mudharat memiliki tingkat dan kadar yang berbeda-beda. Perbedaan tingkat dan kadar mudharat tersebut umumnya disebabkan salah satunya merupakan mudharat yang lebih berat dan besar serta dampaknya lebih besar dibanding lainnya.

Perbandingan tingkat dan kadar mudharat itulah yang ditegaskan pada kaidah di atas. Oleh karena itu, syariat membolehkan untuk menghilangkan mudharat yang lebih besar dengan menanggung bahaya yang lebih kecil.

Adapun jika tingkat dan kadar mudharat itu sama, maka diperbolehkan untuk memilih salah satu dari keduanya. Seperti jika seseorang berada dalam sebuah kapal, kemudian kapal tadi terbakar yang menyebabkannya pasti hancur dan tenggelam, sementara ia tidak bisa berenang dan tidak mendapat benda yang dapat mengapungkannya. Ia boleh memilih terbakar bersama kapal atau terjun ke laut dan tenggelam, (al-Wajiz fi Idhahi Qawa’idil Fiqh al-Kuliyyah, hlm. 84).

Kaidah yang Semakna

Selain kaidah di atas, kaidah lain yang semakna dengan kaidah tersebut di antaranya adalah:

يُخْتَارُ أَهْوَنُ الشَّرَّيْنِ

“Yang paling ringan dari dua keburukan lah yang dipilih”

اَلْأَخْذُ بِأَخَفِّ الضَّرَرَيْنِ

“Mengambil mudharat yang paling ringan”

إِذَا تَعَارَضَ مَفْسَدَتَانِ رُوْعِيَ أَعْظَمُهُمَا ضَرَرًا بِارْتِكَابِ أَخَفِّهِمَا

“Jika ada dua mafsadat yang bertemu (yang harus dikerjakan salah satunya), maka yang dihindari adalah mudharat yang lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.”

Contoh Aplikasi Kaidah

  • Seseorang mengerjakan shalat dalam kondisi luka akibat kecelakaan atau lainnya, yang jika ia mengerjakan gerakan-gerakan shalat seperti berdiri, ruku’, sujud, dan lainnya menyebabkan lukanya mengeluarkan darah. Pada kondisi ini, ia diperbolehkan untuk mengganti gerakan-gerakan tersebut dengan isyarat dan juga shalat dengan duduk atau berbaring. Dengan alasan, tidak melakukan gerakan-gerakan itu lebih kecil mudharatnya dibandingkan mengerjakan shalat dalam kondisi hadats, khususnya bagi madzhab yang berpendapat bahwa keluarnya darah dapat membatalkan wudhu’. Selain itu, dengan tidak melakukan gerakan-gerakan tersebut, ia  terhindar dari mudharat keluarnya banyak darah dari tubuhnya.
  • Jika seseorang mengerjakan shalat dengan berdiri menyebabkan tersingkap auratnya yang menyebabkan shalat yang dikerjakannya tidak sah, sementara jika dia mengerjakannya dengan duduk auratnya tidak tersingkap, maka ia diperbolehkan untuk mengerjakan shalat dengan duduk. Ini karena mengerjakan shalat dengan duduk, tidak dengan berdiri, lebih ringan dibanding shalat dengan berdiri tetapi auratnya tersingkap, (al-Wajiz fi Idhahi Qawaidil Fiqh al-Kulliyyah, hlm. 83).
  • Jika ayam milik seseorang menelan sebutir mutiara berharga milik orang lain, maka pemilik mutiara tersebut berhak untuk memiliki (membeli) ayam itu dari pemiliknya untuk disembelih dan mengeluarkan mutiara dari perutnya, (al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa Ma Tafarra’a ‘Anha, 532).
  • Diperbolehkan untuk membedah perut wanita hamil yang telah meninggal untuk mengeluarkan janin di dalamnya, jika memang janin tadi diprediksi masih bernyawa dan mampu bertahan hidup, (Syarhul Qawa’id al-Fiqhiyyah, 202).
  • Jika seseorang yang dalam ancaman bunuh diberikan pilihan untuk mati dibunuh atau bunuh diri, maka ia harus bersabar untuk melawan semampunya dan akhirnya terbunuh, dibanding melakukan bunuh diri dengan cara apa pun. Sebab, seseorang tidak diperbolehkan untuk bunuh diri meski dalam ancaman bunuh, (al-Wajiz fi Idhahi Qawaidil Fiqh al-Kulliyyah, hlm. 83).
  • Bagi orang yang khawatir mati karena kelaparan, maka ia diperbolehkan mengambil makanan orang lain agar menghilangkan rasa laparnya, meskipun harus dengan memaksa pemiliknya, kecuali apabila pemilik makanan itu juga memerlukan seperti dirinya. Namun, ia harus mengganti harga makanan tersebut jika ia mampu.
  • Seorang yang dalam kondisi terpaksa karena sangat lapar, kemudian berhasil menemukan bangkai dan makanan milik orang lain, maka ia hendaknya memakan bangkai dan tidak memakan makanan milik orang lain, (al-Wajiz fi Syarhil Qawa’idil Fiqhiyyah fisy-Syariah al-Islamiyyah, 94-95).
  • Diperbolehkan untuk membuka bendungan atau tanggul untuk menyelamatkan daerah yang tenggelam, sekalipun hal itu menyebabkan tenggelamnya sebagian tanah atau tanaman.
  • Jika seseorang yang jiwanya dilindungi bersembunyi di rumah seseorang supaya terhindar dari orang zhalim yang ingin membunuhnya, maka apabila orang zalim bertanya kepadanya, pemilik rumah dibolehkan berbohong, bahkan ada yang berpendapat bahwa ia wajib berbohong, (Al-Wajiz fi Syarhil Qawa’idil Fiqhiyyah fisy-Syariah al-Islamiyyah, 95-97).

Pengecualian

  • Jika seseorang meng-ghashab (mengambil secara paksa dan tanpa izin) sebidang tanah milik orang lain, kemudian membangun rumah atau menanam tanaman di atasnya, maka apabila pemilik tanah tadi meminta tanah itu dikembalikan, orang yang meng-ghashab diperintahkan untuk merobohkan bangunan dan mencabut tanaman tersebut, meski nilai bangunan dan tanaman itu lebih berharga dari tanah, kecuali jika tanah tersebut bisa rusak jika bangunan dan tanaman itu dihancurkan. Pada kondisi ini, pemilik tanah berhak memiliki bangunan dan tanaman itu dengan mengganti nilai harganya,
  • Barang siapa meng-ghashab beberapa bongkah batu atau beberapa balok kayu kemudian digunakan untuk membuat bangunan, sebagian fuqaha berpendapat bahwa, pemilik batu dan kayu tersebut diberikan pilihan antara merobohkan tangunan tersebut untuk mengambil batu dan kayunya, atau mengambil nilai batu dan kayu tersebut dari orang yang meng-ghashab.
  • Jika seseorang meng-ghashab sepohon tanaman, kemudian ia tanam di tanah miliknya, maka jika pemilik pohon itu ingin mengambilnya, ia boleh menggalinya dan tidak dikenakan ganti rugi apa pun, (al-Qawa’id al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatiha fil Madzahib al-Arba’ah, hlm. 225)

baca juga: Menakar Kadar Darurat

Referensi:

Al-Burnu, Muhammad Shidqi bin Ahmad. 1404 H/ 1983 M. Al-Wajiz fi Idhah Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah. Beirut: Muassasah ar-Risalah.

As-Sadlan, Shalih bin Ghanim. 1417H. Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa Ma Tafarra’a ‘Anha. Riyadh: Dar Balansiyyah.

Az-Zarqa, Ahmad bin Muhammad. 1409H/1989M. Syarhul Qawa’id al-Fiqhiyyah. Damaskus: Darul Qalam.

Az-Zuhaili, Muhammad Mushthafa. 1427 H/ 2006 M. al-Qawa’id al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatiha fil Madzahib al-Arba’ah. Damaskus: Darul Fikr.

Zaidan, Abdul Karim. 1422H/2001M.Al-Wajiz fi Syarhil Qawa’idil Fiqhiyyah fisy-Syariah al-Islamiyyah. Beirut: Muassasah ar-Risalah.

%d bloggers like this: