Menghadap Kiblat Ketika shalat

Menghadap Kiblat Ketika shalat

…فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ…

…Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya…” (QS. al-Baqarah: 144)

Oleh: Luthfi Fathoni

Hukum Menghadap Kiblat

Kaum muslimin sepakat bahwa menghadap ke kiblat (Ka’bah di Masjidil Haram) ketika shalat adalah syarat sah shalat. (Maratibul Ijma’, Ibnu Hazm, hlm.48). Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

…وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ…

…Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram…” (QS. al-Baqarah: 149).

Nabi SAW bersabda:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ

“Jika engkau hendak mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudhumu lalu menghadaplah ke kiblat, kemudian bertakbirlah.” (HR. Bukhari no. 6251 dan Muslim no. 912).

Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Hadits ini mengandung faedah yang amat banyak. Perlu diketahui bahwa hadits ini menerangkan kewajiban-kewajiban dalam shalat, bukan yang sunnah.” Beliau melanjutkan, “Hadits ini menunjukkan tentang wajibnya thaharah (bersuci), menghadap kiblat, takbiratul ihram dan membaca al-Fatihah.” (al-Minhaj Syarh Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, 4/107).

Orang yang melihat Ka’bah, maka wajib baginya untuk menghadap secara tepat ke arah Ka’bah, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama dalam hal ini. Ibnu Qudamah dalam bukunya al-Mughni mengatakan, “Jika seseorang melihat Ka’bah secara langsung, maka wajib baginya menghadap tepat ke Ka’bah. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan ulama mengenai hal ini. Ibnu ‘Aqil mengatakan, ”Jika melenceng sedikit dari Ka’bah, maka shalatnya tidak sah.” (al-Mughni, Ibnu Qudamah al-Maqdisi, 1/490).

baca juga: MENCINTAI ALLAH DI ATAS SEGALANYA

Menghadap Kiblat Bagi Orang yang Tidak Melihat Ka’bah

Adapun orang yang tidak melihat Ka’bah, dalam hal ini para ulama pendapat, apakah cukup menghapat ke arah Ka’bah (wijhatul qiblah) atau harus menghadap tepat pada  Ka’bah (‘ainul qiblah). (Bidayatul Mujtahid wan Nihayatul Muqtashid, Ibnu Rusyd, 1/ 95 dan al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 32/ 302).

Pendapat pertama, pendapat ulama madzhab Hanafiyah, ini merupakan pendapat yang paling kuat menurut  ulama madzhab Malikiyah dan Hanabilah, dan ini adalah pendapat Imam asy-Syafi’i, mereka berpendapat bahwa bagi orang yang berada jauh dari Makkah, cukup baginya menghadap ke arah Ka’bah (tidak harus tepat Ka’bah). Jadi, cukup menurut persangkaan kuatnya bahwa arah yang di depannya adalah arah Ka’bah, walaupun ia tidak mampu menghadap tepat ke arah bangungan Ka’bah. Pendapat mereka berdasarkan firman Allah Ta’ala:

 …وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ …

“…Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya…” (QS. al-Baqarah: 144).

Menurut pendapat pertama ini, kata “syatrah” dalam ayat tersebut bermakna arah yaitu arah Ka’bah. Jadi, yang dimaksud bukan tepat menghadap ke Ka’bah, namun cukup menghadap ke arahnya, yaitu cukup menghadap ke arah barat sudah dikatakan menghadap kiblat.

Pendapat mereka juga berdasarkan sabda Nabi SAW:

مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ

“Arah antara timur dan barat adalah kiblat.” (HR. Ibnu Majah no. 1011, dan Tirmidzi no. 342, dan Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shahih).

Jadi, bagi siapa saja yang tidak melihat Ka’bah secara langsung, maka dia cukup menghadap ke arahnya saja, dan tidak mengapa jika tidak tepat menghadap ke Ka’bah.

Pendapat kedua,  diwajibkan menghadap tepat ke bangunan Ka’bah dan tidak cukup hanya sekedar menghadap ke arahnya Ka’bah saja. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh ulama madzhab Syafi’i, Ibnul Qasshar ulama madzhab Maliki, salah satu pendapat Imam Ahmad, dan pendapat Abul Khattab ulama madzhab Hambali. Hal ini berdasarkan firman Allah:

وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

“Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke Ka’bah.” (QS. al-Baqarah: 144).

Menurut pendapat kedua ini, maksud kata “syathrah”dalam ayat ini adalah Ka’bah. Jadi seseorang harus menghadap tepat ke Ka’bah. Pendapat ini dikuatkan dengan hadits al-Bukhari dan Muslim bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat dua rakaat di depan Ka’bah, lalu beliau bersabda:

هَذِهِ الْقِبْلَةُ

“Inilah kiblat.” (HR. Bukhari no. 398 dan Muslim no. 1330).

Dalam hadits ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa inilah kiblat. Kata “ini” menunjukkan pembatasan, sehingga tidak boleh menafsirkan “syathrah” dengan arah Ka’bah. Maka dari itu, menurut pendapat kedua ini, maksud dalam surat al-Baqarah di atas adalah perintah menghadap tepat ke bangunan Ka’bah. Bahkan menurut mereka, perintah menghadap ke arah kiblat berarti adalah menghadap ke arah kiblat tepat dan ini sesuai dengan kaidah bahasa Arab. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 4/ 67).

Kesimpulannya adalah wajib menghadap tepat ke Ka’bah bagi mereka yang melihat Ka’bah. Sedangkan bagi yang tidak melihat Ka’bah secara langsung, ulama berselisih pendapat. Masing-masing pendapat memiliki dasar yang kuat.

Kondisi Diperbolehkan Shalat Tidak Menghadap Kiblat

                Ulama telah sepakat bahwa salah satu syarat sah shalat adalah menghadap kiblat, sehingga ketika seseorang shalat dan tidak menghadap kiblat, maka shalatnya tidak sah. Akan tetapi, ada kondisi-kondisi tertentu seseorang diperbolehkan untuk tidak menghadap Ka’bah ketika shalat. Kondisi-kondisi tersebut adalah:

Dalam kondisi lemah, maksudnya adalah tidak memiliki kemampun untuk menghadap kiblat baik karena sakit atau yang lainnya, dan tidak ada orang lain yang bisa dimintai pertolongan untuk menghadapkan ia ke arah kiblat. Dalam kondisi seperti ini, gugurlah kewajibannya menghadap kiblat. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala yang artinya, “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu”. (QS. at-Taghabun: 16)

Rasulullah SAW bersabda, “Apabila saya memerintahkan kalian, maka kerjakan menurut kemampuan kalian.” (HR. Bukhari, no. 7288).

Dalam kondisi sangat takut, misalnya ketika berperang atau dikejar musuh, lari dari kejaran binatang buas, atau lari dari banjir yang dapat menenggelamkannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالاً أَوْ رُكْبَاناً فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

“Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. al-Baqarah: 239)

Dalam firman Allah di atas, khususnya kalimat “فَإِنْ خِفْتُمْ” adalah kalimat yang sifatnya umum, artinya mencakup segala bentuk takut, sehingga ayat ini menunjukkan kebolehan untuk tidak menghadap kiblat ketika shalat karena rasa takut.

Ketika shalat sunnah di atas kendaran, Bagi seorang musafir yang hendak melaksanakan shalat sunnah di atas kendaraan, diperbolehkan untuk tidak menghadap kiblat. Ibnu ‘Umar berkata, “Rasulullah SAW biasa mengerjakan shalat sunnah di atas kendaraannya dengan menghadap arah yang dituju kendaraannya, beliau juga melaksanakan witir di atasnya. Akan tetapi, beliau tidak pernah mengerjakan shalat wajib di atas kendaraan.” (HR. Bukhari no. 1098 dan Muslim no. 1652). (Majmu’ Fatawa wa Rasail, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 12/ 433-434).

%d bloggers like this: