Mengenal Makna Maqashid Lebih Dalam

Mengenal Makna Maqashid Lebih Dalam

Bagi seorang mujtahid, Maqashid Asy-Syari’ah tentu dibutuhkan dalam memahami teks-teks syari’at, dalam melakukan istimbath, tarjih, atau qiyas. Bagi kalangan awam, pengetahuan terhadap Maqashid Asy-Syari’ah tak kalah pentingnya. Karena, dengan memahami hikmah di balik pensyari’atan hukum, seseorang akan lebih mantap dalam menerima dan melaksanakan tata aturan syari’at tersebut. Banyak sekali nash Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang menegaskan bahwa Allah menciptakan alam dan segala instrumen kelengkapannya –termasuk tata aturan syari’at– tidak secara sia-sia, namun dengan tujuan dan sasaran tertentu. Allah Ta’ala berfirman,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لاَ تُرْجَعُونَ

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mukminun: 115).

Maqashid dalam Tinjauan Bahasa

Maqashid Asy-Syari’ah Al-Islamiyah. Tersusun dari tiga rangkaian kata, yaitu: Maqashid, Asy-Syari’ah dan disifati dengan kata Al-Islamiyah. Dari tiga kata tersebut menyimpan makna yang sangat dalam untuk mencapai inti dari pensyari’atan hukum.

Secara etimologi, maqashid berasal dari kata al-maqshad, yang bermakna penyandaran terhadap sesuatu, istiqamah terhadap suatu jalan, keadilan dan memecahkan. Dari keempat makna tersebut, makna pertama lebih sesuai dengan maksud secara istilahnya.

Adapun asy-syari’ah secara bahasa bermakna agama, manhaj, jalan dan sunnah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dalam Majmu’ Fatawa (19/306), memaknai asy-syari’ah secara istilah dengan: “Setiap yang Allah syari’atkan dari keyakinan dan amalan.” Ada pula yang mengartikan dengan: “Mengikuti para Rasul dan menta’ati mereka.” Ibnu Mas’ud Al-Yubi menuturkan, “Asy-syari’ah adalah seluruh yang Allah tetapkan untuk hamba-Nya berupa hukum-hukum melalui para Nabi dari Nabi-nabi Allah ‘alaihimussalam.

Yang ketiga adalah al-Islam, yaitu berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, mentaati-Nya dan bersih dari kesyirikan. Dengan ini asy-syari’ah al-islamiyah bermakna, “Seluruh yang Allah tetapkan untuk hamba-Nya berupa hukum-hukum melalui Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alihi wa sallam dan menjadikannya sebagai penutup para Rasul.” (Mas’ud Al-Yubi, Maqashidu Asy-Syari’ah wa ‘Alaqatuha bi Al-Adillah Asy-Syar’iyah, 25-31).

baca juga: Cara Mengetahui Maqashid Syariat

Pengertian Maqashid dalam Sebuah Disiplin Ilmu

Belum didapati pengertian maqashid dalam sebuah disiplin ilmu di dalam karya-karya ulama ushuliyin zaman dahulu. Bahkan mereka yang mempunyai peran besar dalam ilmu maqashid seperti imam Al-Ghazali dan imam Asy-Syatibi. Mereka hanya melakukan pembagian terhadap macam-macamnya.

Seperti halnya imam Al-Ghazali, beliau menuturkan soal maqashid, “Maksud syar’i dalam penciptaan ada lima, menjaga agama mereka, jiwa mereka, akal mereka, keturunan mereka, dan harta mereka. Maka semua hal yang dapat menjaga lima ushul tersebut disebut maslahat. Dan semua hal yang mengabaikan lima ushul tersebut disebut mafsadat. Mencegah terjadinya mafsadat disebut maslahat, …” (Al-Ghazali, Al-Mushtashfa, 251).

Dalam pengertian maqashid yang dituturkan, beliau tidak bermaksud untuk memberi pengertian terhadap maqashid secara detail dan teliti, namun beliau cukup membatasi maqashid dengan perkara yang beliau sebutkan tadi.

Demikian dengan imam Asy-Syatibi, beliau tidak menyebutkan pengertian maqashid meskipun beliau adalah pemerhati dan memiliki kefahaman yang dalam dengan disiplin ilmu maqashid ini. (Asy-Syatibi, Al-Muwafaqat, 1/56). Justru pengertian maqashid didapatkan dalam karya-karya ulama mutakhirin, yang menulis tema permasalahan ini, atau dalam karya ilmu ushul fikih mereka. Diantara mereka adalah:

Ibnu ‘Asyur, beliau mengatakan perihal maqashid asy-syari’ah, “Makna-makna yang dapat dilihat pada hukum-hukum yang telah disyariatkan, baik secara keseluruhan atau sebagian, sehingga tidak mengkhusukan perhatiaannya terhadap jenis khusus dalam hukum-hukum syari’at tersebut.” (Ibnu ‘Asyur, Maqashidu Syari’ah, 51).

‘Ilal Al-Fasyi juga menuturkan, “Maqashid asy-syari’ah adalah tujuan dari syari’at, rahaisa-rahasianya, yang ditetapkan oleh pembuat syari’at (Allah) terhadap seluruh hukum dari hukum-hukumnya.” (‘Ilal Al-Afasyi, Maqashid Asy-Syari’ah Al-Islamiyah wa Makarimuha, 3).

Imam Raisuni mengartikan, “Tujuan yang telah ditetapkan oleh syari’at untuk menciptakan kemashlahatan hamba.” (Ar-Raisuni, Nadhariyatu Al-Maqashid ‘inda Asy-Syatibi, 7).

  1. Wahbah Az-Zuhaili menuturkan, “Maqashid asy-syari’ah adalah makna atau sasaran yang hendak dicapai dalam semua atau sebagian besar kasus hukumnya. Atau ia adalah tujuan dari syari’at, atau rahasia di balik pencanangan tiap-tiap hukum oleh Allah dan Rasul-Nya.” (Az-Zuhaili, Ushulu Al-Fiqhi Al-Islami, 2/1017).

Dengan pemaparan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa di samping menjaga lima ushul yang telah disebutkan, maka maqashid asy-syari’ah juga dapat diartikan dengan: “Sejumlah makna, hikmah dan semisalnya yang dijaga oleh syari’ (Allah Ta’ala) dalam penetapan syari’at-Nya baik secara umum maupun khusus, dengan tujuan untuk menciptakan kemashlahatan-kemaslahatan hamba.” (Muhammad Sa’ad bin Ahmad bin Mas’ud Al-Yubi, Maqashidu Asy-Syari’ah wa ‘Alaqatuha bi Al-Adillah Asy-Syar’iyah, 36-37).

%d bloggers like this: