Mengazani dan Mengikamati Bayi Baru Lahir

Mengazani dan Mengikamati Bayi

Sering kami dapati pertanyaan mengenai amalan mengazani dan mengikamati telinga bayi yang baru lahir. Masih ada beberapa orang yang ragu mengenai hukum amalan ini. Maka dalam edisi ini kami menampilkan fatwa-fatwa para ulama tentang hal itu.

Muhammad asy-Syarbini al-Khatib asy-Syafi’i rahimahumullah menenjelaskan,

يُسَنُّ أَنْ يُؤَذَّنَ فِي أُذُنِ الْمَوْلُودِ الْيُمْنَى وَيُقَامَ فِي الْيُسْرَى لِخَبَرِ ابْنِ السِّنِيِّ مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي الْيُسْرَى لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ

Disunahkan mengazani telinga kanan dan mengikamati telinga kiri bayi yang baru lahir. Karena terdapat informasi dari Ibnu as-Siniy, “Barang siapa yang anaknya telah lahir, azanilah telinga kanan dan ikamatilah telinga kirinya, dengan begitu Ummu Sibyan (nama setan) tidak akan bisa mencelakainya.” (Al-Iqna’ fi hilli Alfazi Abi Syuja’, Muhammad asy-Syarbini al-Khatib, 2/595)

An-Nawawi asy-Syafi’i rahimahumullah juga menjelaskan,

السُنَّةُ أَنْ يُؤَذِّنَ فِيْ أُذُنِ الْمَوْلُوْدِ عِنْدَ وِلَادَتِهِ ذَكَرًا كَانَ أَوْ أُنْثَى وَيَكُوْنُ الْأَذَانُ بِلَفْظِ أَذَانِ الصَّلَاةِ …..، قَالَ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا يَسْتَحِبُّ أَنْ يُؤَذِّنَ فِيْ أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَيُقِيْمَ الصَّلَاةَ فِيْ أُذُنِهِ الْيُسْرَى

Sunah mengazani telinga bayi ketika dilahirkan, baik laki-laki atau perempuan. Adapun lafal azan sebagaimana lafal azan untuk shalat…. Sekelompok ulama dari mazhab kami berpendapat, “Mengazani telinga kanan dan mengikamati telinga kiri (bayi yang baru lahir) adalah dianjurkan.” (Al-Majmu’, Abu Zakariya Ahmad bin Syarf an-Nawawi, 8/442)

 

Baca Juga: Adzan Dengan Menggunakan Rekaman, Bolehkah?

 

Ibnu Abidin al-Hanafi rahimahumullah menjelaskan di dalam bukunya,

مَطْلَبٌ فِي الْمَوَاضِعِ الَّتِي يُنْدَبُ لَهَا الْأَذَانُ فِي غَيْرِ الصَّلَاةِ قَوْلُهُ لَا يُسَنُّ لِغَيْرِهَا أَيْ مِنْ الصَّلَوَاتِ وَإِلَّا فَيُنْدَبُ لِلْمَوْلُودِ.

Pembahasan tentang “Tempat-tempat yang disunahkan untuk mengumandangkan azan selain shalat (lima waktu).” Perkataannya, “Tidak disunahkan untuk selain itu,” maksudnya adalah selain untuk shalat lima waktu. Dan yang dikecualikan adalah (azan) untuk bayi yang baru dilahirkan (maka disunnahkan). (Raddul Mukhtar ‘Ala Ad-Durrul Mukhtar, Muhammad Amin Ibnu Abidin, 2/50)

Muhammad bin Muhammad bin Abdurrahman al-Maliki al-Maghribi menjelaskan,

وَكَرِهَ مَالِكٌ أَنْ يُؤَذَّنَ فِي أُذُنِ الصَّبِيِّ الْمَوْلُودِ

Imam Malik memakruhkan azan di telinga bayi yang baru lahir.

قَالَ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا: يُسْتَحَبُّ أَنْ يُؤَذِّنَ فِي أُذُنِ الصَّبِيِّ الْيُمْنَى، وَيُقِيمَ الصَّلَاةَ فِي أُذُنِهِ الْأُخْرَى، وَقَدْ رَوَيْنَا فِي سُنَنِ أَبِي دَاوُد وَالتِّرْمِذِيِّ عَنْ أَبِي رَافِعٍ، قَالَ: رَأَيْت رَسُولَ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ قَالَ التِّرْمِذِيُّ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Sekelompok ulama dari mazhab kami (Maliki) berpendapat, “Dianjurkan mengazani telinga kanan bayi dan mengikamati telinga kirinya. Sungguh kami meriwayatkan di dalam sunan Abu Daud dan at-Tirmidzi dari Abu Rafi’, dia berkata, ‘aku melihat Nabi n mengazani telinga al-Husain bin Ali setelah Fatimah melahirkannya dengan azan sebagaimana azan shalat.’ At-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih”.

Beliau juga menceritakan,

قَالَ الشَّيْخُ يُوسُفُ بْنُ عُمَرَ اسْتَحَبَّ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنْ يُؤَذِّنَ فِي أُذُنِ الصَّبِيِّ، وَيُقِيمَ حِينَ يُولَدُ

Syaikh Yusuf bin Umar barkata, “Sebagian para ahli ilmu menganjurkan untuk mengazani dan mengikamati telinga bayi ketika lahir.” (Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar asy-Syaikh Khalil, Muhammad bin Muhammad bin Abdurrahman al-Maliki al-Maghribi, 3/321)

Abdullah bin Ahmad bin Qudamah al-Maqdisi al-Hambali rahimahumullah menjelaskan,

قاَلَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ يَسْتَحِبُّ لِلْوَالِدِ أَنْ يُّؤَذِّنَ فِيْ أُذُنِ ابْنِهِ حِيْنَ يُوْلَدُ لِمَا رَوَى عَبْدُ اللهِ ابْنِ رَافِعِ عَنْ أُمِّهِ أَنَّ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أّذَّنَ فِيْ أُذُنِ الْحَسَنِ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ

Sebagian ahli ilmu berkata, “Dianjurkan bagi orang tua untuk mengazani telinga anaknya ketika lahir. Abdullah bin Rafi’ meriwayatkan dari ibunya bahwa Nabi n mengazani telinga al-Hasan ketika Fatimah melahirkannya.” (Al-Mughni, Abdullah bin Ahmad bin Qudamah al-Maqdisi, 11/120)

Al-Bahuti al-Hambali rahimahumullah juga mengatakan,

وَسَنَّ أَنْ يُؤَذِّنَ فِيْ أُذُنِ الْمَوْلُوْدِ الْيُمْنَى ذَكَرًا كَانَ أَوْ أُنْثَى حِيْنَ يُوْلَدُ وَأَنْ يُقِيْمَ فِيْ الْيُسْرَى

Dan telah disunnahkan untuk mengazani telinga kanan bayi yang telah dilahirkan dan mengikamati telinga kirinya, baik bayi laki-laki atau perempuan. (Kasyaful Qina’ ‘An Matnil Iqna’, Mansur bin Yunus bin Idris al-Bahuti, 3/28) Wallahu a’lam. []

 

Oleh: Luthfi Fathoni

 


Baca artikel menarik lainnya disini

 

 

dibuka peluang menjadi agen dikota anda,
info dan pemesanan majalah fikih hujjah
hubungi:

Tlp: 0821-4039-5077 (klik untuk chat)

facebook: @majalah.hujjah

Instagram: majalah_hujjah

%d bloggers like this: