Menentukan Waktu Shalat

Menentukan Waktu shalat

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. an-Nisa’: 103).

Salah satu syarat sah shalat adalah masuk waktu. Jika seseorang shalat padahal belum masuk waktunya, maka shalatnya tidak sah. Oleh karena itulah, mengetahui waktu-waktu shalat merupakan sesuatu yang sangat urgen bagi seorang muslim. Dengan demikian, seseorang dapat melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Pada edisi kali ini, kita akan membahas tentang waktu-waktu shalat dan beberapa hal yang berkenaan denganya.

Shalat Zhuhur

Para ulama sepakat bahwa tanda masuk waktu shalat Zhuhur adalah tergelincirnya matahari. Dalam al-Qur’an, Allah SWT menegaskannya:

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir.” (QS. al-Isra’: 78).

Rasulullah bersabda yang artinya, “Waktu shalat zhuhur, apabila matahari telah tergelincir dari perut (bagian tengah) langit selama belum datang waktu Ashar.” (HR. Muslim: 1388).

(Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Ibnu Rusyd al-Andalusi, vol. 1, hlm. 80).

Tergelincirnya matahari adalah apabila matahari mulai condong ke barat dari posisinya semula di tengah-tengah langit. Apabila matahari bergeser dari timur ke barat, maka berlakulah proses tergelincir (zawal) ini.

Tergelincirnya matahari dapat diketahui dengan melihat bayangan benda yang berdiri tegak, seperti tiang lurus yang ditancapkan di tanah. Apabila bayangnya semakin bertambah ke timur, maka matahari sudah tergelincir atau berarti posisi matahari telah condong ke barat.

Adapun tanda waktu shalat Zhuhur akan berakhir, ketika panjang bayangan suatu benda sama dengan benda aslinya, menurut Jumhur ulama. (Fiqhul Islam wa Adilatuhu, Wahbah az-Zuhaili, vol. 1, hlm. 552).

Shalat ‘Ashar

Para ulama madzhab kecuali madzhab Hanafi, bersepakat bahwa permulaan waktu shalat ‘Ashar adalah pada saat panjang bayangan suatu benda sama dengan benda aslinya. Sedangkan menurut madzhab Hanafi, permulaan waktu shalat ‘Ashar adalah pada saat panjang bayangan suatu benda, dua kali lipat panjang benda aslinya. (Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Ibnu Rusyd al-Andalusi, vol. 1, hlm. 82).

Sedangkan tanda waktu ‘Ashar  akan berakhir adalah beberapa saat sebelum matahari tenggelam, berdasarkan hadits:

“Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat shalat ‘Ashar sebelum matahari terbenam, maka ia mendapatkan shalat ‘Ashar.” (HR. Muslim)

(Fathul Bari, Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Vol.2, hlm. 20-32; Maratibul Ijma’, Ibnu Hazm, hlm. 26; Mughni al-Muhtaj, al-Khatib as-Sarbini, vol. 1, hlm. 334).

Shalat Maghrib

Waktu masuknya atau tanda awal waktu shalat Maghrib adalah terbenamnya matahari, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْمَغْرِبَ حِيْنَ غَابَتِ الشَّمْسُ

“Kemudian Rasulullah menyuruhnya (Bilal bin Rabah) untuk melaksanakan (mengumandangkan adzan) shalat maghrib ketika matahari terbenam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas diperkuat oleh hadits lain yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abdullah bin Umar yang artinya, “Waktu shalat Maghrib adalah selama syafaq (mega merah) di ufuk barat belum hilang.” (HR. Muslim).

Syafaq menurut Abu Yusuf, Muhammad Hasan asy-Syaibani, ulama madzhab Hambali, dan ulama madzhab Syafi’i adalah cahaya merah. (Fiqhul Islam wa Adillatuhu, Wahbah az-Zuhaili, vol.1, hlm. 554).

Waktu Shalat ‘Isya

Tanda masuknya waktu shalat ‘Isya adalah hilangnya syafaq (mega merah), sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim dari Buraidah, Rasulullah SAW bersabda:

ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْعِشَاءَ حِيْنَ غَابَ الشَّفَقُ

“Kemudian Rasulullah menyuruhnya (Bilal bin Rabah) untuk melaksanakan (mengumandangkan adzan) shalat ‘Isya ketika syafaq (mega merah) telah hilang.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari keterangan hadits tersebut di atas, dapat dipahami bahwa tanda masuknya waktu shalat ‘Isya adalah hilangnya syafaq atau mega merah di langit ufuk barat. Adapun akhir waktu shalat ‘Isya adalah terbitnya fajar shadiq. Maksudnya adalah beberapa saat sebelum terbitnya fajar shadiq. Berdasarkan hadits Rasulullah SAW, dari Abu Qatadah, “Tidak termasuk meremehkan (shalat) karena tertidur, yang termasuk meremehkan adalah mengakhirkan shalat (dengan sengaja) hingga masuk waktu shalat yang lain.”

Adapun waktu pilihan (al-waqtu al-mukhtar) untuk melaksanakan shalat ‘Isya adalah sepertiga malam atau separuh malam berdasarkan beberapa hadits, diantaranya:

Dari Anas, bahwasanya ia berkata, “Nabi SAW mengakhirkan shalat ‘Isya hingga pertengahan malam.”  (HR. Bukhari).

Dalam hadits yang lain, “Seandainya tidak menyusahkan umatku, niscaya aku akan menyuruh mereka untuk mengakhirkan shalat ‘Isya hingga sepertiga malam atau separuh malam.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

(Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Ibnu Rusyd al-Andalusi, vol. 1, hlm. 84; Fiqhul Islam wa Adillatuhu, Wahbah az-Zuhaili, vol. 1, hlm. 555).

Waktu Shalat Shubuh

Menurut ijma’ Ulama, permulaan waktu shalat Shubuh adalah terbitnya fajar shadiq hingga terbitnya matahari. Fajar shadiq adalah cahaya putih terang yang berada sejajar dengan garis lintang ufuk. Ia berbeda dengan fajar kadzib yang naik bentuknya memanjang mengarah ke atas di tengah-tengah langit seperti ekor srigala hitam.

Adapun akhir waktu shalat Shubuh adalah terbitnya matahari di ufuk timur. Sedangkan menurut pendapat yang diriwayatkan dari Ibn Qosim dan sebagian Ashabusy Syafi’i mengatakan bahwa akhir waktu shalat Shubuh adalah bersinarnya matahari.

(Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Ibnu Rusyd al-Andalusi, vol.1, hlm. 84; Fiqhul Islami wa Adillatuhu, Wahbah az-Zuhaili, vol. 1, hlm. 555).

baca juga: WAKTU-WAKTU DILARANG SHALAT

Menggunakan Jadwal Shalat

Sejak ditemukan alat-alat modern dan dibuatnya jadwal waktu shalat, para ulama berijma’ akan kebolehannya, tidak seorang pun ulama yang mengingkari hal ini. Termasuk di antaranya Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, beliau tidak mempermasalahkan penentuan waktu shalat dengan menggunakan ilmu hisab. Hal ini bisa kita lihat dari jawaban beliau ketika ditanya tentang jadwal shalat yang ada pada kalender Ummul Qura.

“Segala puji bagi Allah semata, dan shalawat serta salam tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga, dan para sahabatnya, amma ba’du.

Ketika banyak orang yang membicarakan jadwal (waktu shalat) dalam kalender Ummul Qura pada akhir-akhir ini, ada yang mengatakan bahwa ada kesalahan di dalamnya, khususnya waktu shalat Subuh yang dianggap lebih cepat 5 menit atau lebih bila dibandingkan dengan waktu yang sebenarnya, maka saya menugaskan tim khusus dari kalangan ulama untuk pergi keluar dari batas kota Riyadh, jauh dari cahaya-cahaya (buatan), agar mereka dapat memantau terbitnya fajar dan mengecek akurasi penentuan jadwal yang dimaksud dengan kenyataan.

Tim khusus tersebut, dengan kesepakatan menetapkan bahwa jadwal waktu-waktu tersebut telah sesuai dengan terbitnya fajar, dan tidak benar jika ada anggapan bahwa jadwal tersebut lebih cepat dari terbitnya fajar. Untuk menghilangkan kerancuan yang membuat sebagian orang ragu akan sahnya shalat mereka, maka inilah penjelasannya. Semoga Allah memberi taufiq dan menunjukkan kepada kita jalan yang lurus.” (Thulu’ al-Fajr ash-Shadiq Baina Tahdidil Qur’an wa Ithlaq al-Lughah, Ibrahim bin Muhammad ash-Shabihi, hlm. 31-32).

Jawaban beliau menunjukkan bahwa menggunakan jadwal-jadwal tersebut diperbolehkan oleh para ulama. Di antara ulama yang lain adalah Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Syaikh Shalih al-Fauzan, dll. (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts Ilmiyah wal Ifta’, vol. 6, hlm. 141; al-Liqo’ asy-Syahri, Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, vol. 33, hlm.  11).

 

%d bloggers like this: