Mencegah Mafsadat, Menuai Maslahat

Mencegah Mafsadat, Menuai Maslahat

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ

Menghindari mafsadat lebih diprioritaskan dari meraih maslahat

Kedudukan dan Makna Kaidah

Kaidah di atas masih merupakan bagian atau turunan dari kaidah “La dharara wa la dhirara”. Pada dasarnya, syariat hadir untuk memberikan maslahat pada umat manusia dan menghindarkan mereka dari kemudaratan. Akan tetapi, jika terjadi benturan antara mafsadat dan maslahat dalam suatu perbuatan, maka yang diprioritaskan adalah menghindari mafsadat dibandingkan meraih suatu maslahat. Inilah yang ditegaskan dalam kaidah di atas.

Ini berlaku manakala diperkirakan (ghalabatuzh zhahn) bahwa timbulnya mafsadat akan lebih besar atau minimal seimbang dengan maslahat yang ingin dicapai, (az-Zarqa, Syarhul Qawa’id al-Fiqhiyyah, hlm. 205). Namun, jika diperkirakan bahwa efek yang besar adalah maslahat, maka mendahulukan maslahat yang lebih besar menjadi prioritas dibanding menghindari mafsadat yang lebih kecil, (al-Burnu, al-Wajiz fi Idhah Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah, hlm. 266).

Demikian itu dikarenakan syariat menginginkan agar mukallaf lebih mengutamakan meninggalkan dan menjauhi mafsadat serta larangan-Nya daripada mengerjakan dan melaksanakan perintah-Nya, (Syarhul Qawa’id al-Fiqhiyyah, hlm. 205).

Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Apa yang aku larang dari kalian, jauhilah; Dan apa yang aku perintahkan kepada kalian, kerjakanlah sesuai kemampuan kalian.” (HR. Muslim, no. 1337)

Selain juga bahwa dengan mengerjakan suatu larangan berakibat pada timbulnya bahaya atau mudarat yang menegasikan hikmah Allah swt dalam melarang larangan tersebut, (al-Wajiz fi Idhah Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah, hlm. 266)

Dalil Kaidah

Secara khusus, kaidah di atas merupakan intinbath (kesimpulan) fuqaha dari firman Allah swt:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

Dan janganlah kamu mencela sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan mencela Allah dengan melampaui batas tanpa dasar ilmu …” (QS. al-An’Am: 108)

Dari ayat di atas, ulama menjelaskan bahwa sebenarnya perbuatan mencela sembahan-sembahan orang kafir mengandung kemaslahatan, yaitu merendahkan agama mereka dan juga pemeluknya lantaran mereka menyekutukan Allah swt. Namun, ketika  mafsadat yang ditimbulkannya lebih besar, mereka membalas mencela Allah tanpa dasar ilmu, maka Allah melarang orang-orang beriman untuk melakukannya.

Cotoh Aplikasi

  • Orang yang tinggal di sebuah apartemen atau flat, di antara mereka ada yang tinggal di lantai atas dan bawah, masing-masing mereka tidak boleh melakukan sesuatu yang bisa menimbulkan bahaya atau kerugian bagi yang lain. Meski hal itu mereka lakukan pada barang milik mereka sendiri dan bermanfaat bagi mereka, (Syarhul Qawa’id al-Fiqhiyyah, h. 205).
  • Seseorang dilarang untuk menjual sesuatu yang diharamkan oleh syariat, seperti khamar dan setiap yang memabukkan, meski hal itu mendatangkan keuntungan ekonomis baginya, (as-Sadlan, al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa Ma Tafarra’a ‘Anha, 522).
  • Seorang wanita yang sedang janabah namun tidak menemukan sesuatu yang bisa menutupinya dari pandangan laki-laki, maka mandi janabahnya dapat ditunda. Ini karena tersingkapnya aurat wanita di depan laki-laki adalah suatu mafsadat yang besar. Namun, berbeda jika yang mengalami janabah tersebut laki-laki. Jika ia tidak mendapatkan sesuatu yang bisa menutupinya dari pandangan laki-laki, maka ia tidak boleh menunda atau mengakhirkan mandi janabah tersebut, (al-Wajiz fi Idhah Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah, 266).
  • Hewan yang berasal dari perkawinan campuran antara hewan yang dihalalkan dan hewan yang diharamkan, menurut pendapat yang rajih, dagingnya tidak diperbolehkan dimakan, (ibid).
  • Jika seseorang melepas anjing terlatih untuk berburu, namun ternyata dalam pemburuan tersebut terdapat anjing lainnya yang tidak terlatih, maka ia diharamkan untuk memakan hasil buruan kedua anjing tersebut, (ibid).
  • Jika seorang Majusi atau Ateis meletakkan tangannya di atas tangan seorang Muslim saat ia menyembelih, maka sembelihan tersebut tidak halal untuk dimakan, karena terjadi percampuran antara halal (sebelihan Muslim) dan haram (sembelihan Majusi dan Ateis), (ibid).
  • Jika tercampur antara daging sembelihan dan bangkai, daging sapi dan daging babi, air minum dan air kencing, maka tidak diperbolehkan memakan atau meminum sesuatu yang tercampur tersebut dan juga tidak diperbolehkan berijtihad, (ibid).
  • Dilarang mendirikan warung makan atau bengkel besi (yang bisa menimbulkan aroma yang tidak enak) berdekatan dengan toko kain, (az-Zuhaili, al-Qawa’id al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatiha fil Madzahib al-Arba’ah. 239). Hal ini karena bisa menyebabkan kain tersebut berbau tidak enak atau menjadi rusak dan berlobang lantaran terkena percikan api.

Pengecualian

Sebagaimana disinggung di depan bahwa manakala terjadi benturan antara mafsadat dan maslahat serta diperkirakan efek yang ditimbulkan lebih besar maslahatnya, maka pada kondisi itu meraih maslahat lebih diutamakan atau diprioritaskan daripada menghindari mafsadat, (al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa Ma Tafarra’a ‘Anha, hlm. 524). Inilah adalah pengecualian dari kaidah dasar di atas.

Adapun contohnya:

  • Diperbolehkan berdusta demi mendamaikan dua orang yang sedang bermusuhan. Hal ini karena mafsadat berdusta hanya kembali pada pelakunya, sementara perdamaian menimbulkan maslahat bagi dua orang, (Syarhul Qawa’id al-Fiqhiyyah, 206).
  • Jika seseorang menembak seekor burung lalu melukainya dan terjatuh, maka ia diperbolehkan untuk memakannya, meski burung tadi mati sebelum sempat disembelih. Walaupun ada kemungkinan bahwa burung tadi mati akibat terjatuh membentur tanah (dan jatuhnya tersebut merupakan keniscayaan), namun hal ini ditolerir dan dimaafkan. Berbeda jika burung tadi terjatuh di air, (al-Wajiz fi Idhah Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah, 267).
  • Diperbolehkan bagi orang yang berhadats memegang kitab tafsir, kecuali jika justru yang paling banyak adalah ayat al-Qurannya, (ibid, hlm. 268).
  • Seseorang yang tidak memungkinkan bisa mengerjakan shalat dalam keadaan suci, seperti wanita mustahadhah dan orang yang tidak bisa mengontrol buang airnya, maka ia diperbolehkan mengerjakannya dalam kondisi tersebut. Tentunya setelah ia berusaha bersuci terlebih dahulu. Hal ini karena menjaga maqashid shalat (mengerjakan shalat meski tidak dalam keadaan suci) lebih diprioritaskan daripada maslahat bersuci atau membersihkan diri dari najis dan kotoran, (Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa Ma Tafarra’a ‘Anha, 525).
  • Asalnya, menggali mayat yang sudah dikubur adalah suatu yang diharamkan. Namun, hal itu bisa menjadi wajib jika ternyata mayat tadi dikubur sebelum dimandikan atau dikubur dengan tidak menghadap kiblat. Dengan syarat bahwa rentang waktu antara penguburan dan penggalian kembali belum terlalu lama yang menyebabkan kondisi mayat sudah berubah, (ibid). Wallahu A’lam.

baca juga: Seribu Maslahat Dalam Shalat

Referensi:

Al-Burnu, Muhammad Shidqi bin Ahmad.. Al-Wajiz fi Idhah Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah. (Beirut: Muassasah ar-Risalah. 1404 H/ 1983 M)

As-Sadlan, Shalih bin Ghanim. Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa Ma Tafarra’a ‘Anha. (Riyadh: Dar Balansiyyah, 1417H)

Az-Zarqa, Ahmad bin Muhammad, Syarhul Qawa’id al-Fiqhiyyah. (Damaskus: Darul Qalam. 1409H/1989M)

Az-Zuhaili, Muhammad Mushthafa, al-Qawa’id al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatiha fil Madzahib al-Arba’ah. (Damaskus: Darul Fikr. 1427 H/ 2006 M)

 

 

Ali Shodiqin

%d bloggers like this: