Memperbaiki Akad Fasid

Memperbaiki Akad Fasid

Telah dijelaskan pada edisi sebelumnya perihal perbedaan antara transaksi batil dan fasid. Ada sisi lain yang perlu diketahui bahwa pada transaksi fasid ada kemungkinan untuk dilakukan tashih atau perbaikan. Sehingga transaksi yang dilakukan menjadi sah. Hal ini tidak berlaku untuk transaksi yang batil.

Memahami Makna Tashih

Tashih secara etimologi adalah pecahan dari kata shahhaha (صحّح) yang merupakan antonim dari kata sakit. Maknanya adalah hilangnya penyakit atau bersih dari segala cacat dan keraguan. Maka tashih dapat diartikan dengan menghilangkan penyakit dari orang yang sakit. (Ali bin Muhammad al-Jurjani, Kitab at-Ta’rifat, (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, cet-1, 1983), 82)

Sedangkan secara terminologi ada perbedaan pendapat di antara para ulama berdasarkan ilmu yang ditekuni. Sedangkan pembahasan kali ini dalam masalah fikih. Menurut ulama fiqih makna tashih adalah menghilangkan sesuatu yang merusak ibadah atau transaksi. (Wizarah al-Auqaf wa Syuun Kuwait, Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah kuwaitiyah, (Mesir: Dar Ash-Shafwah, TT), 12/55)

Tashih disini berarti menjadikan sesuatu yang tidak sah menjadi sah dengan menghilangkan faktor perusak keabsahannya. Secara umum berarti merubah sesuatu yang tidak syar’i menjadi syar’i dengan sebab yang syar’i. Dan lebih spesifik lagi berarti menghilangkan sesuatu yang merusak transaksi secara hakikat dan hukum. (Artikel Dr. Ahmad Yasin al-Qaralah dengan judul Tashih at-Tasharufat al-Fasidah fi al-Fiqh al-Islami, Jurnal Syariah wa al-Qanun, Vol. 391 Edisi Rajab 1430 H/Juli 2009 M, hal. 318)

 

Mengapa harus tashih?

Dalam al-Quran disebutkan,

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” (Muhammad: 3)

Secara umum ayat ini menunjukkan adanya larangan membatalkan berbagai amalan dan tindakan. Dan keengganan untuk merubah transaksi yang memungkinkan untuk diperbaiki secara syar’i termasuk dalam keumuman larangan tersebut. Oleh sebab itu menjaga amal agar tidak batal hukumnya wajib. (Abu Bakr Asy-Syarkhasi, Al-Mabsuth, (Dar al-Ma’rifah, TT), 3/69)

Termaktub juga dalam hadits adanya tashih transaksi yang dilakukan oleh beliau SAW. Dalam hadits disebutkan bahwa beliau SAW memberikan 1 dinar kepada Urwah Al-Bariqi untuk membeli seekor domba.

Kemudian dia justru membeli 2 ekor domba dan menjual salah satunya. Selanjutnya kembali kepada Rasulullah dengan seekor domba dan 1 keping dinar. Melihat hal tersebut Rasulullah mendoakan keberkahan bagi dirinya dalam berniaga. (Lihat hadits riwayat Bukhari, No: 3642)

Dalam hadits tersebut tampak Rasulullah melakukan tashih pada transaksi fasid yang dilakukan oleh Urwah al-Bariqi. Sebab Urwah melakukan apa yang tidak diperintahkan oleh Rasulullah. Terlebih lagi dia menjual salah satu kambing yang bukan miliknya, dan tanpa seijin pemiliknya.

Namun, melihat hal tersebut Rasulullah memberikan izin atas tindakannya. Terbukti dengan doa keberkahan beliau atas apa yang dilakukan oleh Urwah. Izin beliau inilah yang membuat transaksi Urwah menjadi sah. Selain itu transaksi seorang mukallaf yang berakal sangat memungkinkan untuk dijaga keabsahannya (Lihat ‘Alauddin Abu Bakr Ath-Thaasaani, Badai’ ash-Shanaai’ fi Tartibi asy-Syaraai’, (Beirut: Dar Kutub al-Arabi, TT), 5/149).

Disebutkan juga dalam satu hadits dari Ummahatul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha tentang tashih transaksi fasid. Yaitu riwayat tentang perjanjian antara Barirah dengan tuannya. Barirah ingin memerdekakan dirinya dengan 9 uqiyah, yang dibayar pertahunnya 1 uqiyah.

Kemudian ia datang menemui ‘Aisyah radhiallahu ‘anha untuk meminta bantuannya. Saat itu, ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha mengatakan padanya, “Kembalilah pada tuanmu dan katakan, kalau mereka mau, aku akan membayarkan tunai seluruh hargamu, lalu kumerdekakan dirimu dan nanti wala`mu untukku.”

Barirah pun kembali untuk menyampaikan keinginan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Namun hasilnya nihil. Mereka menolak sembari mengatakan, “Kalau dia mau mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan bantuannya padamu, maka hendaknya dia lakukan, sementara wala`mu tetap untuk kami.”

Barirah mengadukan penolakan mereka kepada ‘Aisyah RA, “Aku telah menawarkan hal itu kepada mereka, namun mereka menolak, kecuali bila wala`ku untuk mereka.”

Hal itu didengar oleh Rasulullah SAW. Beliau pun bertanya, “Apa permasalahan Barirah?” ‘Aisyah menceritakan apa yang terjadi. Mendengar penuturan ‘Aisyah, Rasulullah SAW bersabda, “Belilah dia, lalu merdekakan. Sesungguhnya wala` itu bagi orang yang memerdekakan.” (HR. Bukhari, No: 2060)

Dalam hadits ini nampak bahwa Rasulullah SAW melakukan tashih pada transaksi fasid. Sebab ada syarat yang rusak dalam transaksi tersebut. Yaitu memberikan wala’ kepada selain orang yang memerdekakan budak. Kemudian datanglah Rasulullah SAW melakukan tashih dengan membatalkan syarat tersebut. (Lihat Tashih at-Tasharufat al-Fasidah, 339)

 

Cara Tashih secara Umum

Perlu diketahui bahwa fuqaha hanafiyah menetapkan kaidah, “bilamana sebab rusaknya transaki itu hilang atau digugurkan maka transaksinya berubah menjadi sah” (Ibnu Najim, Al-Bahru ar-Raiq Syarhu Kanzi ad-Daqaaiq, (Dar al-Ma’rifah, Cet-3, 1413 H), 6/97)

Ada beberapa hal yang menyebabkan rusaknya transaksi yang dilakukan. Di antaranya adalah jahalah, adanya paksaan, adanya syarat yang rusak dan tidak mampu diserahkan.

Jika faktor perusaknya berupa jahalah (ketidaktahuan), maka dapat terjadi pada barang, harga, tempo penyerahan dan sarana pengikat kepercayaan. Secara umum transaksi dapat berubah menjadi sah apabila sifat jahalahnya hilang, yaitu dengan adanya serah terima barang atau harga dan juga kepastian tempo, harga dan sarana pengikat kepercayaan.

Faktor selanjutnya adalah paksaan. Tehnik tashih nya adalah dengan adanya izin dari pihak yang berwenang. Baik ketika transaksi berlangsung atau setelah hilangnya paksaan. (120)

Dalam syarat fasid ada 2 macam bentuk. Pertama syarat yang menyerupai riba. Artinya ada tambahan pada salah satu pihak tanpa adanya ganti. Pada kasus ini cara tashihnya adalah menghilangkan syarat tersebut.

Kedua, syarat yang tidak termaktub dalam nash. Pada kasus ini syarat tersebut akan menjadi shahih jika sudah menjadi adat kebiasaan orang banyak. Dan juga tidak menyelisihi ketentuan syariat.

Faktor berikutnya adalah tidak mampu untuk diserah terimakan. Maksudnya adalah akan ada madharat yang menimpa penjual apabila objek transaksi diserahkan kepada pembeli. Pada kasus ini, transaksi akan menjadi sah apabila; pertama, penjual rela menanggung madharat tersebut.

Kedua objek yang ditransaksikan jelas. Ketiga, objek diserahkan sebelum ada pembatalan transaksi dari pihak pembeli. Sebab jika transaksi dibatalkan maka pembeli tidak terikat dengan transaksi tersebut dan penjual tidak ada kewajiban menyerahkan barang. (Lihat Tashih at-Tasharufat al-Fasidah, 104 – 122)

baca juga: Syarat-syarat Tashih Al-Aqd

Demikian beberapa cara tashih pada transaksi yang rusak. Perlu dicamkan lagi bahwa suatu transaksi itu dikatakan rusak atau fasid apabila berkaitan dengan sifat-sifat yang melekat pada objek. Bukan pada perkara esensi, yang menyebabkan transaksi tidak dapat dilakukan. []

 

%d bloggers like this: