Memilih Pendapat yang Mendekati Kebenaran

Memilih Pendapat Yang Mendekati Kebenaran

Selain mengetahui nash-nash syar’i yang substansinya sekilas tampak kontradiksi (ta’arudh) dan cara memahami dan mengkompromikannya (jam’u), kemampuan lain yang seharusnya dimiliki oleh seorang fakih atau thalibul ilmi adalah men-tarjih nash-nash syar’i yang memang tidak memungkinkan untuk dikompromikan.

Definisi Tarjih

Secara bahasa (etimologi), tarjih diambil dari bahasa Arab, yaitu turunan dari kata ‘rajaha’ yang berarti kecondongan pada sesuatu. Jika disebutkan bahwa ‘seorang men-tarjih sesuatu’ maksudnya adalah seorang tadi menimbang sesuatu dan memperhatikan neraca manakah yang lebih berat. Karena tarjih merupakan bentukan kata kerja yang membutuhkan objek (transitif/muta’addi) sehingga tarjih secara bahasa diartikan dengan ‘menetapkan kecondongan pada sesuatu’.

Secara istilah (terminologi), tarjih adalah proses seorang mujtahid ketika lebih mendahulukan salah satu dari dua dalil zhanni yang saling kontradiksi atas dalil zhanni lainnya untuk diamalkan [Binyunis Al-Wali, Dawabithut Tarjiih ‘inda Wuquu’it Ta’aarudh laday al-Ushuliyyiin, 67]. Penyebutan kata ‘mujtahid’ dalam definisi tersebut menunjukkan bahwa tarjih merupakan kekhususan bagi seorang mujtahid, karena tidak setiap orang diperbolehkan untuk melakukan tarjih. Selain juga menunjukkan bahwa mujtahid merupakan pilar utama dari proses tarjih. Kata kunci lain dalam definisi yang berhak mendapat perhatian adalah kata ‘dalil zhanni’  yaitu nash syar’i yang kevalidan (tsubuut) sumbernya dan petunjuk (dalalah) teksnya tidak sampai pada tingkat pasti (qath’i). Pendapat yang kuat (rajih) menurut ulama Ushul Fikih bahwa, nash syar’i yang dipastikan kevalidan sumbernya (qath’iyyatuts tsubuut) dan kepastian petunjuk teksnya (qath’iyyatud dalaalah) tidak mungkin saling kontradiksi (ta’arudh).

Dalil Menurut Ulama Ushul Fikih

Menurut jumhur ulama Ushul Fikih, dalil secara umum dibagi menjadi dua, yaitu: (1) dalil naqli (al-Qur`an dan Sunnah) dan (2) dalil ‘aqli (nalar atau logika). Setiap bagian dalil tersebut masing-masing terbagi menjadi qath’i dan zhanni, sehingga jika dijumlahkan secara keseluruhan maka dalil akan menjadi empat, yaitu: (1) naqli qaht’i, (2) naqli zhanni, (3) ‘aqli qath’i, dan (4) ‘aqli zhanni.

Maksud dari qath’i di sini adalah dalil yang kevalidan sumbernya mencapai tingkatan pasti dan petunjuk teksnya bisa dipahami secara pasti, tidak memungkinkan adanya takwil, dan tidak bisa dipahami dengan pemahaman selain dengan apa yang tersurat. Secara sederhana, qath’i bisa dimaknai sebagai dalil yang sumbernya bisa dipastikan kebenarannya (qath’iyyatuts tsubuut) dan maksudnya juga bisa dipastikan (qath’iyyatud dalalah). Sementara zhanni merupakan lawan dari qath’i, sehingga zhanni dapat diartikan sebagai dalil yang kevalidan sumbernya tidak mencapai tingkatan pasti, dan petunjuk atau maknanya tidak dipastikan dan memungkinkan untuk ditakwil, serta bisa dipahami dengan pemahaman yang lain.

Untuk dalil naqli yang termasuk dalam ketegori qath’i berdasarkan validitas sumbernya adalah Al-Quran dan Sunnah yang diriwayatkan secara mutawatir. Hanya saja, qath’i berdasarkan validitas sumber tidak begitu saja menjadikan Al-Quran dan Sunnah mutawatir sebagai dalil naqli qath’i secara mutlak, karena perlu terlebih dahulu dipastikan apakah petunjuk atau makna dari Al-Quran dan Sunnah mutawatir bisa dipastikan dan tidak mungkin dipahami dengan pemahaman yang lain.

baca juga:  Pengaruh Hajat Terhadap Hukum Syar’ie

Sebagai contoh adalah firman Allah k, “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak.” (QS. an-Nisa’ : 12). Ayat ini sudah pasti qath’i berdasarkan kevalidan sumbernya, karena setiap ayat Al-Quran pasti qath’iyyatuts tsubuut. Selain itu, petunjuk atau makna dari ayat ini juga bisa dipastikan (qath’iyyatud dalalah) yaitu bahwa bagian suami dari harta warisan istrinya yang meninggal adalah setengahnya, jika memang istri tadi tidak memiliki anak. Untuk kelompok yang seperti ini biasanya fuqaha sepakat mengenai hukumnya bahkan terdapat ijma’ diantara mereka.

Untuk dalil naqli yang zhanni dalalah-nya –meski qath’iyyatus tsubut– adalah seperti firman Allah k, “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan menahan diri (menunggu) selama tiga quru” (QS. Al-Baqarah: 228). Fuqaha berbeda pendapat mengenai arti quru’ pada ayat ini. Fuqaha Malikiyah dan Syafi’iyah mengartikan quru’ artinya suci (terputusnya haid), sedangkan fuqaha Hanafiyah dan riwayat paling shahih dari Imam Ahmad berpendapat bahwa arti quru’ adalah haid. Karena memungkinkan untuk dimaknai lebih dari satu maka ini disebut zhanni. Kelompok zhanni merupakan bagian yang sering menjadi perbedaan pemahaman fuqaha sehingga menghasilkan pendapat yang berbeda juga.

Sedangkan untuk contoh dalil aqli qath’i seperti satu lebih kecil dari sepuluh, dan 2 + 2 = 4. Dan untuk dalil aqli zhanni contohnya adalah kina sebagai obat malaria. Pernyataan tersebut tidak bisa dipastikan bahwa kina adalah satu-satunya obat malaria, atau juga bahwa hanya kina yang bisa mengobati malaria.

Dalil Saling Kontradiksi yang Bisa Ditarjih

Menurut pendapat yang rajih dan masyhur di kalangan ulama ushul fikih, tidak mungkin terjadi ta’arudh antara dua dalil yang qath’i, baik dalil tersebut adalah naqli qath’i, atau aqli qath’i, atau antara keduanya. Sehingga dengan itu proses terjih tidak bisa dilakukan. Pun demikian dengan ta’arudh antara qath’i dan zhanni, pendapat rajih dan masyhur menurut jumhur ulama ushul fikih adalah bahwa antara keduanya tidak mengkin terjadi ta’arudh sehingga tidak bisa ditarjih.  Ta’arudh antara dalil yang memungkinkan untuk ditarjih menurut jumhur ulama ushul fikih adalah antara dalil-dalil zhanni, yaitu antara sesama dalil naqli zhanni, atau sesama dalil aqli zhanni, ataupun antara keduanya.

Metode Tarjih

Mentarjih dua dalil untuk mendapatkan suatu hukum syar’i dapat dilakukan dengan beberapa sudut pandang:

Pertama, kekuatan sanad. Jika memang dua dalil tidak memungkinkan untuk dikompromikan maka langkah pertama dalam mentarjih adalah kecendrungan memilih sanad yang lebih kuat. Oleh itu, hadits yang mutawatir lebih didahulukan dari hadits ahad; hadits muttashil (tersambung mata rantai sanadnya hingga Nabi b) lebih dikedepankan dari hadits mursal (mata rantai terakhirnya terputus) ; lebih condong pada hadits yang lebih banyak perawinya dari yang sedikit, dan lebih memilih perawi yang kuat hapalannya dibanding perawi yang di bawahnya.

Dua, kejelasan petunjuk dalil. Jika dua buah hadits memiliki sanad yang sama kuatnya maka langkah berikutnya adalah memilih petunjuk dalil yang lebih kuat dari yang lainnya. Dari sana maka dalil yang dipahami secara nash lebih didahulukan dari dalil yang dipahami secara zhahir dan takwil; dalil yang menunjukkan makna hakikatnya lebih dikedepankan dari yang menunjukkan makna kiasan (majaz); lebih condong kepada dalil yang illah-nya disebutkan secara jelas dibanding yang tidak; lebih mendahulukan hadits qauliyah (perkataan/sabda Nabi) dibanding fi’liyah  (perbuatan Nabi); dan lebih mendahulukan makna yang terucap (manthuq) dibanding dengan makna yang diisyaratkan (isyarah) dan dipahami (mafhum).

Tiga, ketegasan makna yang ditunjukkan dan wajib-tidaknya bagi seorang mukallaf. Jika dari dua sudut pandang sebelumnya belum diperoleh yang lebih rajih, maka proses tarjih beralih berdasarkan sudut pandang: nash yang berisi larangan lebih didahulukan dari yang memerintahkan seperti merajihkan nash yang melarang shalat shalat sunnah setelah Ashar dibanding yang membolehkannya; dan mengedepankan yang lebih dekat pada kehati-hatian dibanding dengan selainnya. (Ali Shodiqin)

 

 

 

%d bloggers like this: