Memilih Pemimpin Bukan karena Uang, tapi Karena Iman

Memilih Pemimpin Bukan karena Uang, tapi Karena Iman

اَلْحَمْدُ لِلّهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا صِرَاطَهُ الْمُسْتَقِيْمَ، صِرَاطَ اْلأَنْبِيَاءِ وَ الْمُرْسَلِيْنَ وَ الصِّدِيْقِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ وَ الصَّالِحِيْنَ وَ حَسُنَ أُوْلٓـئِكَ رَفِيْقاً. أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ.

فَيَا عِبَادَ اللّٰه أوْصِيْكُمْ وَ إِيَّايَا نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ وَ تَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقوَى، قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاءَنِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَيْطَانِ الرَّجِيْمِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

Saya wasiatkan kepada diri saya dan kepada ikhwan fiddin rahimakumullah. Marilah bersama-sama kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Alloh SWT. Dengan berusaha melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Serta berusaha dengan sekuat tenaga untuk memilih pemimpin yang beriman kepada Allah SWT, Rasulullah n, dan mau menegakkan kalimatullah di muka bumi ini. Sehingga kita tidak terseret kedalam neraka lantaran salah dalam memilih seorang pemimpin.

Ikhwan fiddin arsyadakumullah,

Pemimpin yang beriman, jujur, punya rasa takut kepada Allah SWT, bisa mengantarkan umatnya kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebaliknya pemimpin yang tidak beriman  akan menyengsarakan umatnya dunia dan Akhirat. Allah SWT mengingatkan di dalam Surat al-Ahzab ayat 66-68,

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَالَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا (66) وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا (67) رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا (68(

Yaa Allah penyebab semua ini. Dimasukkannya kami kedalam neraka karena dahulu kami mematuhi pemimpin-pemimpin kami, pembesar-pembesar kami. Kemudian kami mereka sesatkan dari jalan yang benar. Yaa Alllah berikanlan kepada pemimpin-pemimpin kami dua kali seiksa yang ditimpakan kepada orang banyak serta laknatilah mereka dengan laknat yang besar

Bisa jadi, orang-orang yang menyesatkan kami adalah orang-orang yang membaca syahadat, mengerjakan shalat, melaksanakan shiyam, membayar zakat, bahkan haji dan umroh setiap tahun. Tetapi Al-quran hanya mereka manfaatkan ketika mereka dilantik menjadi pejabat, diletakkan di atas kepala. Sehabis itu, mereka letakkan di bawah kaki. Undang-undang  Allah, hukum Allah, syariat Allah mereka injak-injak tanpa ada perasaan bersalah. Bahkan, ada perasaan berbangga-bangga dengan perbuatan itu.

Yaa Allah, kami telah patuh kepada pemimpin-pemimpin kami, pembesar-pembesar kami. Kemudian mereka sesatkan kami. Al-quran hanya dijadikan sebagai  bahan musabaqoh. Bahkan, ketika disuatu tempat diadakan musabaqoh para peserta dari berbagai propinsi tinggal dirumah orang Kristen. Sebaliknya, ketika orang Kristen mengadakan lomba paduan suara mereka menginap di rumah-rumah orang  Islam.

Yaa Allah, kami patuhi pimpinan-pimpinan kami, pembesar-pembesar kami. Kemudian mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar. Yaa Allah, timpakan kepada mereka siksa dua kali lipat.

Ikhwan fiddin arsyadakumullah,

Sungguh sangat naïf. Sungguh sangat hina. Kalau disebabkan persoalan yang mungkin dimata orang banyak sangat remeh dan kecil, menyebabkan kita dimasukkan Allah SWT kedalam neraka. Itulah sebabnya, Allah SWT memberikan rambu-rambu, sekaligus juplak bagaimana dan siapa pemimpin yang boleh dipilih dan siapa pemimpin yang tidak boleh dipilih. Surat Al-maidah, Surat kelima ayat 55 secara tegas mengatakan.

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

Sesungguhnya wali kalian. Kalau kita buka terjemahan Al-quran cetakan departemen agama diterangkan. Wali jamaknya auliya’ artinya teman akrab, pemimpin, pelindung, bisa juga penolong Allah SWT.

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ

Sesungguhnya teman akrab kalian, pelindung kalian, penolong kalian adalah Allah dan Rasulnya. Semuanya sudah maklum. Tetapi kelanjutannya menerangkan,

وَالَّذِينَ آمَنُوا

Innama kata orang arab  adalah adawatul hasr yang artinya huruf pembatas. hanya itu, tidak boleh ditambah dengan yang lain.

Memilih Pemimpin

Pemimpin kalian adalah Allah SWT, Rasulullah, dan orang-orang yang beriman. Artinya orang Syiah tidak boleh diangkat menjadi pemimpin. Karena Syiah adalah bukan Islam. Begitu juga orang Ahmadiyah, orang Inkarusunnah dan JIL. Karena semuanya  bukan Islam. Bahkan,  melanggar ajaran Islam.

Meskipun penampilan mereka sarat dengan atribut-atribut keislaman. Dahi mereka yang hitam, jenggot mereka yang panjang, celana mereka yang cingkrang, mereka letakkan kain di atas pundaknya. Tapi kerena mereka menolak A-lquran, mengkafirkan Abu Bakar dan Umar dengan mengatakan sebagai shonama Quraisy (dua berhala orang Quraiys), serta mengkafirkan istri-istri Rasulullah n. Mereka semua tidak boleh dipilih menjadi pemimpin.

Pemimpin kalian adalah Allah SWT, Rasulullah n dan orang-orang yang beriman. Orang beriman seperti apa yang boleh diangkat menjadi pemimpin? Tentu saja orang beriman ahlu sunnah waljamah. Allah memberikan tiga kriteria orang yang beriman;

Yang pertama, orang-orang beriman yang kalian diperbolehkan mengangkat sebagai pemimpin yaitu orang-orang ahlusunnah yang menegakkan shalat. Sholatnya seperti yang dikerjakan oleh Rasulullah n, seperti yang dicontohkan Rasulullah n kepada para sahabat.

Rasulullah n tidak pernah mengerjakan sholat fardhu berjamaah  dirumah dengan istri-istri beliau. Rasulullah n tidak pernah melaksanakan sholat fardhu sendirian kecuali ada udzur syar’i seperti hujan, atau sakit.. Rasulullah n senantiasa mengerjakan shalat secara berjamaah di masjid.

Bahkan, ketika ada seorang laki-laki buta yang datang menghadap Rasulullah n, Abdullah bin Ummi Maktum meminta untuk diberikan kemurahan kepada Rasulullah n. Yaa rasulallah, rumah saya jauh dari masjid Nabawi, mata saya buta, jalannya berliku-liku, banyak binatang berbisa, ada kalajengking, ada ular dan lain-lain. Izinkan saya untuk shalat di rumah. Pertamakali Rasulullah n mengizinkan dan kemudian dilanjutkan dengan kata-kata hal tasmaunnida? Apakah kamu mendengar suara adzan? “Dengar” jawab Abdullah bin Ummi Maktum. Maka Rasul mengatakan, “Kamu wajib mendatanginya”,

Ikhwan fiddin arsyadakumullah,

Bahkan, pernah saya angkat dari mimbar ini. Dalam suasana perang yang mencekam. Tidak ada pilihan lain selain membunuh atau dibunuh. Tidak ada suasana yang lebih mencekam, yang lebih menggoncangkan hati dibandikan ketika suasana berhadapan secara langsung dengan musuh di medan perang.

Surat An-nisa ayat 102 secara tegas. Meskipun suasana tegang, suasana perang. Shalat tetap diperintahkan untuk dilaksanakn secara berjamaah bersama imam dan pasukan-pasukan yang lain. Ini syarat yang pertama.

Jadi, kalau ada diantara calon pemimpin yang menyatakan dirinya Islam, yang berpaham Ahlusunnah Waljamaah, yang kita tinggal satu kampung dengan dia. Kita lihat ia melaksanakan shalat lima waktu berjamaah di masjid bersama imam. Ada kemungkinan bagi yang bersangkutan untuk kita pilih sebagai pemimpin karena persyaratan nomor satu yang tercantum di dalam Surat Al-maidah terpenuhi.

Tapi kalau yang bersangkutan tidak pernah shalat. Shalat tapi cuman hari jumat, datang awal pulang akhir. Dan tidak ada ceritanya ia berbaur dengan masyarakat untuk melaksanakn sholat ashar. Meskipun hajinya sudah tiga kali, meskipun dia melaksanakn siyam Muharram bahkan dawud. Meskipun setiap tahun umrah. Tetapi kalau suatu hari ia tidak mendatangi masjid lima kali sehari kecuali ada udzur syari. Haram hukumnya memilih mereka sebagai pemimpin.

Ini syarat yang pertama, adapun yang kedua dan ketiga akan kita angkat pada pertemuan selanjutnya insyaallah.

Khutbah kedua

Aksioma yang diangkat oleh Al faruq Umar bin Khatab yang oleh orang-orang Syiah disebut sebagai salah satu berhalanya orang Quraisy,

مَنْ ضَيَّعَهَا فَهُوَ لِمَا سِوَاهَا أَضْيَعُ

Barangsiapa meremehkan shalat. Apa artinya? mestinya shalat dikerjakan diawal waktu tapi dikerjakan diakhir waktu, mestinya dikerjakan berjamaah dikerjakan sendirian, mestinya ia mampu mengerjakanya di masjid ia kerjakan di rumah. Barangsiapa yang meremehkan shalat maka kepada urusan selainya, ia akan lebih meremehkan.

Seorang pemimpin yang meremehkan shalat, datang ke masjid cuman maghrib dan isya, datang ke masjid cuman maghrib, isya dan subuh. Apalagi cuman sepekan sekali. Dia remehkan waktu dzuhur, dia remehkan waktu ashar.

baca juga: HUKUM MEMABYAR ZAKAT KEPADA PEMIMPIN NON MUSLIM

Kalau shalat saja sudah diremehkan, anjuran shalat berjamaah diremehkan. Maka sebagai seorang pemimpin, pasti akan meremehkan rakyatnya. Itulah sebabnya MUI dalam fatwanya yang ditandatangi  oleh KH. Ma’ruf Amin, sebagai ketua. Drs. H. Sholahudin Al-Aiyub, M.Si sebagai sekertaris di Padang Panjang tanggal 26 Januari 2009 memberikan fatwa sebagai berikut:

– Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunya kemampuan (fathonah), dan memperjuangkan kepentingan umat Islam hukumnya adalah wajib.

– Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.

Kita renungi sekali lagi. Jangan sampai Allah SWT menjerumuskan kita kedalam neraka, hanya karena salah memilih pemimpin. Apalagi apabila pilihan kita itu hanya diiming-imingi selembar fotonya bung Karno dan bung Hatta. Bahkan seandainya 1 juta foto bung Hatta, tetap tidak. Neraka lebih menakutkan daripada semuanya. Jannah lebih menggiurkan daripada apa yang telah anda berikan kepada saya. Mudah-mudahan Allah membimbing kita diatas jalan yang lurus.

الَلّٰهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ  وَغَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ، رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ، رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

# Memilih Pemimpin Bukan karena Uang, tapi Karena Iman # Memilih Pemimpin Bukan karena Uang, tapi Karena Iman # Memilih Pemimpin Bukan karena Uang, tapi Karena Iman #

%d bloggers like this: