Membayar Zakat Usaha Bersama

Membayar Zakat Usaha Bersama

Kami empat bersaudara patungan membuat usaha dagang. Kami mengumpulkan modal yang sama, masing-masing 20 juta rupiah. Bagaimanakah kami harus membayar zakatnya setiap tahun; setelah keuntungan dibagikan atau sebelumnya? Kami sepakat untuk mengambil sebagian keuntungan setahun sekali. (Afif—Balikpapan)

 

Baca Juga: Dana Operasional Lazis dari Zakat, Bolehkah?

 

Pada dasarnya cara menghitung zakat perdagangan adalah dengan menjumlah uang kas, persediaan (harga jual), piutang yang mungkin ditagih (boleh juga yang bakal dibayar setahun ke depan), dikurangi utang (boleh juga yang bakal dibayar dalam setahun ke depan). Jika mencapai nishab (bisa emas—85 gram, bisa perak—595 gram) lalu dikalikan 2,5 persen. Hasilnya, itulah zakat yang harus dibayarkan.

Jika usaha bersama yang ditanyakan sudah berjalan satu tahun kalender Qamariyah, dan diasumsikan jumlah uang kas, persediaan, dan piutang dikurangi utang nilainya 100 juta rupiah, maka jika yang dipakai adalah nishab perak (595 gram perak yang saat jawaban ini ditulis harga pergramnya Rp. 10.900,00 sehingga nishab perak adalah Rp. 6.485.500,00), baik sesudah sesudah sebagian keuntungan dibagikan maupun sebelumnya, usaha tersebut sama-sama sudah mencapai nishab, sehingga wajib dikeluarkan zakatnya. Sebaiknya sebelum keuntungan dibagikan.

Jika yang dipakai adalah nishab emas (85 gram emas yang saat jawaban ini ditulis harga pergramnya Rp. 588.530,00 sehingga nishab emas adalah Rp. 50.025.050,00), maka menurut ulama yang mengharuskan pembayaran zakat sebelum harta dibagikan ke pemiliknya sudah mencapai nishab dan zakat pun wajib. Ulama madzhab Syafi’i dan sebagian madzhab Hambali berpendapat demikian.

Menghitung zakat dengan nishab perak, hari ini lebih baik. Sebab hal itu lebih berpihak kepada fakir miskin dan akan lebih banyak dana yang dapat dikumpulkan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Wallahu a’lam.

 

%d bloggers like this: