Membasuh Anggota Wudhu Secara Beruntun

Membasuh Anggota Wudhu Secara Beruntun

مِنْ سُنَنِ الْوُضُوْءِ: المُوَالاَةُ

“Di antara sunnah wudhu (yang terakhir) adalah membasuh anggota wudhu secara berturut-turut.”

Al-Muwalah adalah membasuh anggota wudhu secara berturut-turut, sehingga anggota wudhu yang telah dibasuh sebelumnya tidak kering ketika hendak membasuh anggota wudhu setelahnya. Tentunya al-Muwalah berbeda dengan at-Tartib, jika al-Muwalah seperti yang telah dijelaskan maka at-Tartib dalam wudhu adalah memulai membasuh anggota wudhu dengan yang telah diajarkan oleh Allah, yaitu mulai dari wajah, kedua tangan, kepala dan lain sebagainya. [Syarhu al-Mumti’, 1/192]

Oleh karena itulah para ulama berbeda pendapat tentang hukum al-Muwalah, mazhab Maliki dan Syafi’i berpendapat Al-Muwalah adalah sunnah. [Al-Majmu’, 1/478. Bada’i ash-Shana’i, 1/22]

Membasuh Anggota Wudhu

Al-Muwalah wajib menurut sebagian pendapat yang lain, seperti mazhab Maliki, Hanbali, Imam Asy-Syaukani, Syaikh bin Baz, Syaikh al-Utsaimin dan lainnya. Dasar mereka adalah firman Allah:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ وَإِن كُنتُمۡ جُنُبٗا فَٱطَّهَّرُواْۚ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah.” (QS. Al-Maidah: 6)

Perintah dalam ayat di atas menunjukkan untuk segera dilakukan. Dalam kaidah bahasa Arab, meng-athafkan satu anggota wudhu dengan anggota lain dengan huruf waw menunjukkan pada hukum yang sama, maka seolah-olah dikatakan, “Apabila kamu hendak mengerjakan shalat maka basuhlah anggota-anggota ini.” Demikian juga lafal idza qumtum disebut dengan syarthun lughawi (syarat),  dan setiap syarat dalam kaidah bahasa Arab pasti ada sebab-sebabnya, pada dasarnya sebab-sebab itu haruslah dilakukan secara berurutan dan tidak mengakhirkannya.

Umar bin Khathab mengkisahkan –dalam sebuah riwayat Imam Muslim—, ada seseorang yang berwudhu dan melewatkan sebesar kuku pada anggota wudhunya dari basuhan wudhu, lalu Nabi melihatnya dan bersabda, “Ulangilah, perbaiki wudhumu,” orang itu mengulangi wudhunya kemudian mengerjakan shalat. Sabda Rasulullah tersebut menunjukkan wajibnya al-Muwalah, seandainya tidak wajib maka Rasulullah akan mengatakan, “Basuhlah anggota yang terlewatkan itu.”

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Rasulullah melihat seorang tengah mengerjakan shalat, namun selebar dirham dari kakinya belum terbasahi air saat ia berwudhu, lantas Rasulullah memerintahkan untuk mengulangi wudhu dan shalatnya.

Tatacara wudhu adalah ibadah yang kita contoh dari Rasulullah, dalam praktiknya Rasulullah tidak pernah memisahkan antara satu anggota wudhu dengan anggota lainnya, seandainya itu diperbolehkan maka beliau akan melakukannya walau hanya sekali untuk menjelaskan pada umat. [Fatawa Lajnah ad-Da’imah, 5/231]

Kendati demikian, apabila memisah antara anggota wudhu secara ringan maka tidak membatalkan wudhu. Para ulama sepakat dalam hal ini, di antaranya adalah Imam An-Nawawi, beliau menuturkan, “Menurut ijma’ kaum muslimin, memisah antara anggota wudhu secara ringan maka itu tidak membahayakan (membatalkan) wudhunya.” [Al-Majmu’, 1/454]

Batasan al-Muwalah dalam wudhu adalah tidak melewatkan antara dua anggota wudhu sesaat pun sehingga anggota wudhu yang telah dibasuh itu kering. Ini adalah pendapat yang disepakati oleh ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali, karena lebih dekat dengan kebenaran. [Al-Utsaimin, Majmu’ Fatawa, 11/99]

baca juga: SUNNAH WUDHU

Imam al-Hushni dalam kitabnya Kifayatu al-Ahyar meringkas tata-cara berwudhu, setelah menyebut nama Allah hendaknya mengucapkan, “Segala puji untuk Allah yang telah menjadikan air ini suci.” Kemudian menyela-nyela cincin dan segala yang melingkar sebagai bentuk kehati-hatian, mulai dari wajah kemudian kepala, pada tangan dan kaki dimulai dari ujung jarinya jika membasuh untuk dirinya sendiri, apabila dibasuhkan oranglain maka dimulai dari kedua siku dan mata kaki, tidak mengurangi air wudhu dari satu mudd, tidak juga boros dan tidak membasuh lebih dari tiga kali, tidak berbicara saat berwudhu, tidak menganiaya wajahnya saat membasuh dengan menampar-nampar, kemudian setelah wudhu mengucapkan, “Aku bersaksi tiada Ilah melainkan Allah yang Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah jadikanlah aku orang yang ahli taubat, dan jadikanlah aku orang yang suci, dan jadikanlah aku dari golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh.” [Al-Hushni, Kifayatu al-Akhyar, 49]. Wallahu a’lam. []

%d bloggers like this: