Membaca Basmalah Dalam Shalat

Membaca Basmalah Dalam Shalat

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab. (HR. Bukhari dan Muslim)

Suatu hari, setelah saya selesai melaksanakan shalat Ashar, tiba-tiba ada salah satu jamaah yang datang  menghampiri saya. Setelah berjabat tangan dan sedikit basa-basi, jamaah ini bertanya, “Maaf, cuma mau tanya. Kalau jadi imam Maghrib atau Isya’ kok gak pernah baca basmalah, Mas? padahal ada hadits yang maknanya, ‘Segala sesuatu yang tidak diawali dengan bacaan basmalah maka akan sia-sia.’ Bahkan ada salah satu jamaah yang tidak mau pergi ke masjid hanya karena imamnya gak membaca basmalah lho mas.”

Sekelumit cerita di atas terkadang terjadi di tengah masyarakat kita. Hanya karena sang imam tidak mengeraskan bacaan basmalah ketika shalat, seorang makmum tidak mau shalat dibelakang imam tersebut. Terkadang sebaliknya, ketika imam membaca basmalah dengan keras, ada sebagian makmum yang beranggapan kalau hal tersebut adalah bid’ah. Bagaimana pendapat ulama dalam permasalah ini? agar kita tidak serampangan dalam menyikapi permasalahan ini.

Para ulama ahli fikih telah menjelaskan secara gamblang permasalah ini. Mereka memiliki pendapat yang berbeda-beda.

Membaca Basmalah Dalam Shalat

Orang yang shalat wajib baginya membaca basmalah sebelum membaca al-Fatihah, karena basmalah merupakan bagian dari al-Fatihah. Hal itu karena membaca al-Fatihah adalah rukun shalat, maka shalat tidak sah jika tidak membaca basmalah karena adanya kekurangan dalam membaca al-Fatihah. Ini merupakan pendapat ulama madzhab Syafi’i, yaitu wajib membaca basmalah dalam shalat. Pendapat ini berdasarkan pada hadits:

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab” (HR. Al-Bukhari & Muslim)

Sedangkan ulama madzhab Hanafi dan Hambali berpendapat bahwa basmalah bukan bagian dari al-Fatihah. Mereka mengatakan bahwa membaca basmalah sebelum membaca al-Fatihah dalam shalat hukumnya sunnah di setiap rakaat. Disunnahkannya membaca basmalah sebelum al-Fatihah karena dalam rangka tabarruk dengan basmalah. Adapun selain al-Fatihah tidak disunnahkan.

Begitu juga dengan pendapat yang masyhur dari ulama madzhab Maliki, bahwa basmalah bukan bagian dari al-Fatihah. Mereka mengatakan bahwa membaca basmalah sebelum al-Fatihah atau pun surat-surat pilihan hukumnya makruh.

Para ulama telah sepakat bahwa shalat orang yang membaca basmalah dengan suara jahr (keras) atau sir (pelan) shalatnya sah. Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat mengenai pendapat mana yang lebih dekat dengan sunnah Rasulullah, dibaca dengan suara jahr (keras) atau dengan sir (pelan).

Mengeraskan Bacaan Basmalah

Disunnahkan bagi seorang imam shalat untuk membaca basmalah dengan suara jahr (keras) bukan sir (pelan). Di antara yang berpendapat demikian adalah ulama Syafi’iyyah. Mereka berdalil dengan dalil-dalil yang menyatakan bahwa basmalah adalah bagian dari al-Fatihah, maka dibaca secara jahr sebagaimana al-Fatihah. Di antara haditsnya yaitu:

إِذَا قَرَأتُمِ (الْحَمْدُ لِلَّهِ) فَاقْرَءُوا  (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) إِنَّهَا أُمُّ الْقُرْآنِ، وَأُمُّ الْكِتَابِ، وَالسَّبْعُ الْمَثَانِي، وَ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) إِحْدَاهَا

“Jika kalian membaca Alhamdulillahi Rabbil’aalamiin, maka bacalah bismillahirrahmanirrahim, karena ia adalah ummul Qur’an, Ummul Kitab dan Sab’ul Matsani (Tujuh yang Diulang), dan bismillahirrahmanirrahim salah satunya.” (HR. al-Baihaqi dalam as-Sunan alKubra, dishahihkan Al albani dalam Shahih alJami’).

Selain hadits di atas terdapat pula riwayat dari Abu Hurairah:

عَنْ نُعَيْمٍ الْمُجْمِرِ، قَالَ: كُنْتُ وَرَاءَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَرَأَ  (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ حَتَّى بَلَغَ (وَلا الضَّالِّينَ) قَالَ: ( آمِينَ) ، وَقَالَ النَّاسُ: (آمِينَ) وَيَقُولُ كُلَّمَا سَجَدَ: (اللَّهُ أَكْبَرُ) وَيَقُولُ إِذَا سَلَّمَ : وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لأَشْبَهُكُمْ صَلاةً بِرَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-.

Dari Nu’aim al-Mujmir, ia berkata, “Aku pernah shalat bermakmum pada Abu Hurairah, ia membaca bismillahir rahmanir rahim, lalu membaca Ummul Qur’an sampai pada waladh dhaalliin. Lalu Abu Hurailah mengucapkan, ‘Amin’, kemudian para makmum juga mengucapkan, ‘amin’. Pada setiap akan sujud ia mengucapkan, ‘Allahu Akbar’. Selepas salam, Abu Hurairah berkata, ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, shalatku adalah yang paling mirip dengan shalat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam” (HR. al-Hakim).

Akan tetapi, sebagian ulama mengatakan bahwa dalil-dalil yang digunakan tidak sharih (tegas), karena yang dimaksud Abu Hurairah adalah keseluruhan praktik shalat secara umum, bukan pada setiap rincian praktiknya. Ibnul Qayyim mengatakan, “Yang benar, hadits-hadits tersebut tidak ada yang sharih (tegas), dan yang sharih (tegas) tidak shahih. Dan masalah ini (jika dibahas secara rinci) memerlukan berjilid-jilid buku.”

Terdapat beberapa riwayat shahih bahwa sebagian para sahabat men-jahr-kan basmalah, di antaranya Abu Hurairah sebagaimana riwayat yang lalu, Ibnu az-Zubair dan Mu’awiyah Radhiallahu’anhum:

عَنْ بَكْرٍ، أَنَّ ابْنَ الزُّبَيْرِ كَانَ يَجْهَرُ بِ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ)

“Dari Bakr (al-Mazini), bahwa Ibnu az-Zubair biasanya men-jahr-kan bismillahir rahmanir rahim (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf).

أَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ: صَلَّى مُعَاوِيَةُ بِالْمَدِينَةِ صَلَاةً فَجَهَرَ فِيهَا بِالْقِرَاءَةِ فَقَرَأَ فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ.

Anas bin Malik berkata, “Mu’awiyah shalat di Madinah, dan ia men-jahr-kan bacaannya dan ia membaca bismillahir rahmanir rahim.” (HR. al-Baihaqi).

Melirihkan Bacaan Basmalah

Disunnahkan bagi seorang imam shalat untuk membaca basmalah dengan suara sir (pelan) bukan jahr (keras). Di antara yang berpendapat demikian adalah al-Bukhari, Muslim, az-Zaila’i, Ibnul Qayyim, Hanafiyyah, Hanabilah, dan lainnya. Mereka mengatakan bahwa tidak ada dalil yang shahih dan sharih bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wasallam mengeraskan bacaan basmalah. Selain itu terdapat hadits dalam Shahihain, hadits dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu, beliau berkata:

أنَّ النَّبِيَّ -صَلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ- وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ -رضي اللهُ عنهما- كَانُوْا يَفْتَتِحُوْنَ الصَّلاَةَ : بِـ الْحَمْدِ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, Abu Bakar, Umar, mereka memulai shalat dengan membaca Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.” (HR. Al-Bukhari).

Dalam riwayat Muslim:

صلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَأَبِيْ بَكْرٍ ، وَعُمَرَ ، وَعُثْمَانَ ، فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

“Aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman dan aku tidak mendengar mereka membaca bismillahir rahmanir rahim.” (HR. Muslim)

Tidaklah ada sikap yang paling bijak dalam menyikapi perbedaan pendapat para ulama, kecuali dengan saling menghargai orang lain yang berbeda dengan pendapat yang kita pilih.

Wallahu a’lam bish shawab

baca juga: Berdoa, Sesudah Dzikir, Selepas Shalat

Referensi:

  1. Tafsir al-Qur’anul Adzim, Ibnu Katsir.
  2. Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah.
  3. Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Ibnu Rusyd
  4. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, Daru as-Salasil, Kuwait.

 

 

Luthfi Fathoni

%d bloggers like this: