Membaca Al-Qur’an di Samping Orang yang Sedang Shalat

Membaca Al-Qur’an di Samping Orang yang Sedang Shalat

Setiap muslim ketika hendak melaksanakan shalat, niscaya berusaha dengan sungguh-sungguh agar shalatnya khusuk. Akan tetapi, terkadang ditengah-tengah usaha kita agar memperoleh kekhusukan, ada salah satu jama’ah shalat yang berada disamping kita yang agak mengeraskan bacaan shalatnya, atau ada orang yang sedang membaca al-Qur’an dengan suara yang agak keras di samping kita, sehingga hal-hal seperti ini mengganggu kekhusukan shalat kita. Bagaimana ulasan-ulasan dari para ulama tentang orang yang membaca al-Qur’an dengan suara keras baik dalam shalat ataupun di luar shalat, padahal disampingnya ada orang yang sedang melaksanakan shalat? diantara ulasan mereka yaitu,

Membaca Al-Qur’an Dengan Keras

Ibnu Adil Barr al-Maliki (368-463 H)  berkata,

وَإِذَا نُهِيَ الْمُسْلِمُ عَنْ أَذَى الْمُسْلِمَ فِيْ عَمَلِ الْبِرِّ وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ فَأَذَاهْ فِيْ غَيْرِ ذَلِكَ أَشَدُّ تَحْرِيْماً

“Apabila seorang muslim telah dilarang mengganggu muslim yang lain dengan amalan baik atau dengan bacaan al-Qur’an, maka mengganggu muslim yang lain dengan selain kedua hal tersebut lebih diharamkan.”  (Syarhu az-Zarqani ‘Alal Muwatha’, Muhammad bin Abdul Baqi bin Yusuf az-Zarqani, 1/ 243)

Ibnu Rajab al-Hambali (763-795 H) berkata,

وَمَا لَا حَاجَةَ إِلَى الْجَهْرِ فِيْهِ، فَإِنْ كَانَ فِيْهِ أَذَى لِغَيْرِهِ مِمَنْ يَشْتَغِلُ بِالطَّاعَاتِ كَمَنْ يُصَلِّي لِنَفْسِهِ وَيَجْهَرُ بِقِرَاءَتِهِ ، حَتَّى يُغَلِّطَ مَنْ يَقْرَأُ إِلَى جَانِبِهِ أَنْ يُصَلِّي ، فَإِنَّهُ مَنْهِيٌّ عَنْهُ.

“Tidak perlu mengeraskan bacaan apabila bacaan tersebut mengganggu yang lainnya orang yang sedang sibuk dengan ketaatan, seperti shalat sendiri dan mengeraskan bacaannya, sehingga bacaan tersebut mengganggu orang yang akan melaksanakan shalat disampingnya. Maka, perbuatan yang semacam ini sesungguhnya dilarang.” (Fathul Bari Li Ibni Rajab, Zainuddin Abdurrahman bin Ahmad bin Abdurrahman bin al-Hasan bin Muhammad bin Abu Al Barkat Mas`ud as-Salami al-Baghdadi ad-Dimasyqi al-Hanbali, 2/ 568)

Ibnu Taimiyah (661-728 H), tatkala ditanya tentang orang yang membaca al-Qur’an di masjid dengan menjahrkan (mengeraskan) suaranya, padahal pada saat itu pula ada orang yang sedang melaksanakan sholat. Sehingga orang yang sedang sholat tersebut merasa terganggu dengan bacaan yang dijahrkan tersebut. Bolehkah mengeraskan bacaan dalam kondisi seperti itu?

لَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يَجْهَرَ بِالْقِرَاءَةِ لَا فِي الصَّلَاةِ وَلَا فِي غَيْرِ الصَّلَاةِ إذَا كَانَ غَيْرُهُ يُصَلِّي فِي الْمَسْجِدِ وَهُوَ يُؤْذِيهِمْ بِجَهْرِهِ ؛ بَلْ قَدْ خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى النَّاسِ وَهُمْ يُصَلُّونَ فِي رَمَضَانَ وَيَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ  فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ كُلُّكُمْ يُنَاجِي رَبَّهُ فَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ.

“Tidak boleh bagi seseorang menjahrkan (mengeraskan) bacaan Al Qur’annya baik itu di dalam shalatnya ataupun di luar shalatnya apabila terdapat orang selain dirinya yang sedang melaksanakan shalat di masjid merasa terganggu dengan bacaan Al Qur’an yang dijahrkannya. Bahkan Nabi n telah menegur orang yang ketika itu dia shalat dengan mengeraskan bacaannya di Bulan Ramadhan. Beliau n mengatakan, “Wahai manusia sekalian,  sesungguhnya seluruh kalian sedang bermunajat kepada Robb nya, maka janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaannya atas sebagian yang lain.” (Majmu’ Fatawa, Abul Abbas Taqiyuddin Ahmad bin Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyah al Harrani, 13/ 64)

Syaikh bin Baz pernah ditanya tentang hukum orang yang membaca al-Qur’an dengan suara keras ketika menunggu shalat berjama’ah, beliau menjawab:

لَا يَرْفَعْ صَوْتَهُ إِذَا كَانَ عِنْدَهُ أَحَدٌ، بَلْ يَقْرَأُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ كَيْ لَا يُؤْذِيَ النَّاسَ وَلَا يُشْغِلَ الْمُصَلِّيْنَ وَلَا يُشْغِلَ الْقُرَّاءَ وَلَكِنْ يَرْفَعُ بِحَيْثُ يَكُوْنُ خَفِيْفًا.

Hendaknya dia jangan mengeraskan suaranya ketika ada orang di sampingnya. Akan tetapi, hendaknya dia membaca dengan suara yang pelan supaya tidak mengganggu orang lain, tidak menyibukkan (keskhusukan) orang-orang yang sedang shalat dan juga tidak menyibukkan (fikiran) orang-orang yang juga sedang membaca (tetapi dengan suara pelan). Hendaknya dia membaca dengan suara yang pelan. (Fatawa Ibnu Baz, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, 24/ 378)

baca juga: Keabsahan Shalat Tanpa Bacaan Al-Fatihah

Syaikh Abdullah Aqil (1334-1432 H) termasuk salah satu ulama kontemporer dari Saudi menjelaskan,

وَصَرَّحَ الْفُقَهَاءُ -رَحِمَهُمُ اللَّهُ- أَنَّهُ يَحْرُمُ رَفْعُ الصَّوْتِ بِقِرَاءَةٍ تُغَلِّطُ الْمُصَلِّيْنَ، إِذَا تَحَقَّقَ أَنَّ ذَلِكَ يُؤْذِيْهِمْ وَيُشَوِّشُ عَلَيْهِمْ، فَإِنْ لَمْ يَتَحَقَّقْ الْإِيْذَاءُ، فَهُوَ مَكْرُوْهٌ، وَإِنْ تَحَقَّقَ فَهُوَ حَرَامٌ.

“Para ahli fikih – semoga Allah merahmati mereka – menjelaskan, sesungguhnya diharamkan mengeraskan bacaan karena mengganggu orang-orang yang sedang shalat, apabila bacaan tersebut benar-benar mengganggu dan membingungkan mereka. Tetapi bila tidak mengganggu maka hukumnya makruh. Sedangkan apabila benar-benar mengganggu maka hukumnya haram.”

(Fatawa Syaikh Abdullah bin Aqil, Abdullah bin Abdil Aziz bin Aqil bin Abdillah bin Abdil Karim Al Aqil, 2/ 150) . []

 

 

Oleh: Luthfi Fathani

%d bloggers like this: