Memakai Cadar Haram?

Cadar merupakan penutup wajah bagi wanita. Hukum cadar memang sering diperdebatkan. Perbedaan pendapat para Ulama hanya berkisar pada hukum cadar itu apakah sunnah, mubah, atau wajib. Para Ulama yang hanif tidak ada yang berpendapat hukum memakai cadar/niqab haram alias berdosa.

Anehnya, ada sebagian orang yang menyatakan bahwa memakai cadar ~dalam segala kondisi~ merupakan perbuatan haram dan bid’ah yang menyelisihi syariat. Cadar bukan syariat agama, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Islam. Padahal, para ahli fikih dalam empat mazhab tidak ada yang berpendapat demikian. Bahkan banyak yang menganjurkan wanita memakai cadar.

Di dalam kitab Al-Mawsu’atul Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah dan diposting di http://www. nu.or.id/post/read/67452/hukum-memakaicadar , dijelaskan sebagai berikut:

“Mayoritas Ulama fikih (baik dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) berpendapat bahwa wajah bukan termasuk aurat. Jika demikian, wanita boleh menutupinya dengan cadar dan boleh membukanya. Menurut mazhab Hanafi, di zaman kita sekarang wanita muda (al-mar`ah asy-syabbah) dilarang memperlihatkan wajah di antara laki-laki. Bukan karena wajah itu sendiri adalah aurat tetapi lebih karena untuk menghindari fitnah,”

BACA JUGA: Hijab Bukan Jilbab, Benarkah

“Mazhab Syafi’i berbeda pendapat mengenai hukum memakai cadar bagi perempuan. Satu pendapat menyatakan bahwa hukum mengenakan cadar bagi perempuan adalah wajib. Pendapat lain (qila) menyatakan hukumnya adalah sunnah. Dan ada juga yang menyatakan khilaful awla,”
Intinya, para Ulama tidak ada yang berpendapat memakai cadar suatu dosa atau keharaman.

CADAR ADALAH BID’AH

Pendapat nyleneh yang menyelisihi para Ulama, yang meyakini keharaman dan kebid’ahan memakai cadar bagi wanita, memiliki segudang dalil yang ditafsirkan versi mereka dan bermain logika akal.

Di antara dalil yang digunakan adalah cadar merupakan perkara bid’ah. Pada zaman Rasul ﷺ tidak ada yang namanya cadar. Semua wajah wanita terbuka dan diketahui. Hal ini disimpulkan dari Firman Allah سبحانه و تعالى,

لَا يَحِلُّ لَكَ النِّسَاءُ مِنْ بَعْدُ وَلَا أَنْ تَبَدَّلَ بِهِنَّ مِنْ أَزْوَاجٍ وَلَوْ أَعْجَبَكَ حُسْنُهُنَّ إِلَّا مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ رَقِيبًا

Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan isteri-isteri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan-perempuan (hamba sahaya) yang kamu miliki. Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu. (QS. Al-Ahzab: 52)

Menurut mereka, ayat di atas menerangkan bahwa pada zaman Nabi Muhammad ﷺ, setiap wanita tidak menutup wajah mereka sehingga bisa dilihat siapa saja. Hal tersebut tersirat dalam ayat di atas.

Lafadz حُسْنُهُنَّ yang berarti kecantikan ~yang menarik hati pria~ pasti terletak di wajah wanita. Jadi, wanita-wanita pada zaman Nabi tidak menutup wajah mereka, nyatanya kaum pria bisa melihat wajah-wajah cantik mereka.

Mereka bisa berdalil demikian dikarenakan tidak banyak menelaah hadits Nabi ﷺ, atau justru mengingkari hadits-hadits Nabi ﷺ. Rasulullah ﷺ pernah bersabda,

“Wanita yang berihrom itu tidak boleh mengenakan niqab maupun kaos tangan.” (HR. Bukhari 1471). Faedah Hadits ini, wanita pada zaman Nabi ﷺ biasa bercadar.

Dari Asma’ binti Abu Bakr, dia berkata, “Kami biasa menutupi wajah kami dari pandangan laki-laki pada saat berihram dan sebelum menutupi wajah, kami menyisir rambut.” (Hadits shahih riwayat Al-Hakim)

CADAR = NIFAQ

Qur’aniyyun mengambil faedah surat At-Taubah ayat 71 bahwa bercadar berarti munafik. Menurut mereka, bahwa interaksi sosial masyarakat dibangun di atas iman, takwa, amar ma’rufnahyi munkar, dan saling menasehati kepada kebaikan. Masyaratkat seperti ini tidak mungkin terwujud di atas dasar niqab/cadar dan kemunafikan.

Ada hubungan erat antara cadar dan kemunafikan. Memakai niqab seakan-akan mengumumkan kepada orang lain bahwa dirinya takwa dan suci. Padahal, ketakwaan harusnya hanya untuk Allah سبحانه و تعالى.

Bahkan, tidak hanya itu, menurut mereka, cadar merupakan bentuk ghuluw. Allah سبحانه و تعالى tidak pernah melarang wanita menampakkan wajahnya. Barangsiapa yang melarang dengan menyuruh memakai cadar maka telah melampaui batas dan mengharamkan apa yang Allah سبحانه و تعالى halalkan.

Semua alasan-alasan di atas hanya untuk pembenaran saja. Niat dan hati pemakai cadar dan Allah سبحانه و تعالى yang tahu. Tak perlu bersuudzon.

Masalah ghuluw dan mengharamkan apa yang Allah haramkan, rasanya kurang tepat kemudian dijadikan dalil pengharaman cadar. Banyak para Ulama ~termasuk Imam empat mazhab~ tidak mewajibkan cadar, tapi berpendapat sunnah atau mubah. Hal ini untuk menghindari zaman fitnah.

Bolehlah kita tidak bercadar. Tapi apa pantas kita keukeuh menghukumi wanita yang berusaha menjaga harga dirinya di zaman penuh fitnah ini, sebagai wanita yang berdosa, melakukan kebid’ahan dan keharaman lantaran memakai cadar? Apalagi malah meyakini bahwa cadar bahkan jilbab bukan syariat Islam tapi syariat Yahudi dan Nasrani?. Na’udzubullah min dzalik. [.]

 

 

 

%d bloggers like this: