Meludah ke Arah Kiblat

Islam adalah agama yang sempurna. Islam mengatur seluruh urusan manusia. Di antara bukti kesempurnaan agama Islam adalah mengatur adab meludah. Arah kiblat itu mulia dan terhormat, sehingga Rasulullah n melarang umatnya buang hajat ke arahnya. Lantas, apakah meludah termasuk dalam larangan membuang hajat? Oleh sebab itu, para ulama menjelaskan hukum meludah ke arah kiblat. Mari kita simak fatwa para ulama di bawah ini.

Ibnu hajar al-Atsqalani menjelaskan,

وَهَذَا التَّعْلِيلُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْبُزَاقَ فِي الْقِبْلَةِ حَرَامٌ سَوَاءٌ كَانَ فِي الْمَسْجِدِ أَمْ لَا وَلَا سِيَّمَا مِنَ الْمُصَلِّي فَلَا يَجْرِي فِيهِ الْخِلَافُ فِي أَنَّ كَرَاهِيَةَ الْبُزَاقِ فِي الْمَسْجِدِ هَلْ هِيَ لِلتَّنْزِيهِ أَوْ لِلتَّحْرِيمِ.

Dan alasan ini menunjukkan bahwa meludah ke arah kiblat hukumnya haram, baik dilakukan di dalam atau di luar masjid, terutama orang-orang yang sedang shalat. Maka tidak ada perbedaan dalam ketetapan akan makruhkannya meludah di dalam masjid, apakah makruh tanzih atau makruh tahrim. (Fathul Bari Syarhu Shahih al-Bukhari, Ahmad bin Ali bin Hajar abu al-Fadhl al-Atsqalani asy-Syafi’i, 1/508, Daarul Ma’rifah, Beirut)

Beliau juga berkata,

وَقَدْ جَزَمَ النَّوَوِيُّ بِالْمَنْعِ فِيْ كُلِّ حَالَةٍ دَاخِلُ الصَّلَاةِ وَخَارِجُهَا سَوَاءٌ كَانَ فِيْ الْمَسْجِدِ أَمْ غَيْرِهِ وَقَدْ نُقِلَ عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ قَالَ لَا بَأْسَ بِهِ يَعْنِي خَارِجُ الْصَلَاةِ.

An-Nawawi telah menetapkan larangan (meludah ke arah kiblat) dalam setiap keadaan, baik ketika shalat atau di luar shalat, baik di dalam masjid atau di luar masjid. Telah dinukil dari Malik bahwa dia berpendapat hal tersebut (meludah ke arah kiblat) tidak masalah, yaitu ketika di luar shalat. (Fathul Bari Syarhu Shahih al-Bukhari, Ahmad bin Ali bin Hajar abu al-Fadhl al-Atsqalani asy-Syafi’i, 1/510, Daarul Ma’rifah, Beirut)

Ash-Shan’ani asy-Syafi’i berkata,

الْحَدِيثُ نَهَى عَنْ الْبُصَاقِ إلَى جِهَةِ الْقِبْلَةِ، أَوْ جِهَةِ الْيَمِينِ، إذَا كَانَ الْعَبْدُ فِي الصَّلَاةِ.

Hadits ini (hadits larangan meludah ke arah kiblat) melarang meludah ke arah kiblat atau arah kanan, manakala seseorang sedang dalam kondisi melaksanakan shalat. (Subulus Salam, Muhammad bin Ismail al-Amir ash-Shan’ani asy-Syafi’i, 2/132, Daar Ibnul Jauzi)

 

Baca Juga: Hukum Buang Hajat Menghadap Kiblat

 

Ibnu Rajab al-Hambali berkata,

وَإِنَّمَا يُكْرَهُ الْبُصَاقُ إِلَى الْقِبْلَةِ فِيْ الصَّلَاةِ أَوِ الْمَسْجِدِ، فَإِمَّا مَنْ بَصَقَ إِلَى الْقِبْلَةِ فِيْ غَيْرِ مَسْجِدٍ فَلَا يُكْرَهُ لَهُ ذَلِكَ. وَقَدْ سَبَقَ ذِكْرُهُ فِيْ بَابِ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ بِالْغَائِطِ وَالْبَوْلِ.

Sesungguhnya yang dimakruhkan hanyalah meludah ke arah kiblat ketika sedang shalat atau di dalam masjid. Adapun orang yang meludah ke arah kiblat dan sedang tidak di dalam masjid, maka perbuatan tersebut (meludah ke arah kiblat) tidak dimakruhkan baginya. Hal ini telah disebutkan di dalam bab “Buang Air Besar dan Air Kecil Menghadap ke Arah Kiblat”. (Fathul Baari, Zainuddin Abu al-Farj Abdurrahman bin Syihabuddin Ibnu Rajab al-Hambali, 2/327, cet. II, Th. 1422 H, Daar Ibnul Jauzi, As-Su’udiyah)

Syaikh al-Albani berkata,

وَفِي الْحَدِيْثِ دَلَالَةٌ عَلَى تَحْرِيْمِ الْبُصَاقِ إِلَى الْقِبْلَةِ مُطْلَقًا، سَوَاءٌ ذَلِكَ فِيْ الْمَسْجِدِ أَوْ فِيْ غَيْرِهِ، وَعَلَى الْمُصَلِّي وَغَيْرِهِ.

Di dalam hadits (hadits larangan meludah ke arah kiblat) menunjukkan bahwa meludah ke arah kiblat adalah haram secara mutlak, baik itu dilakukan di dalam atau di luar masjid, baik orang yang sedang shalat atau tidak sedang shalat. (Ats-Atsamar al-Mustathab fi Fiqhi as-Sunnah wal Kitab, Muhammad Nashiruddin al-Albani, 714, cet. I)

Dalam kesempatan yang lain beliau menjelaskan,

وَهَذَا الْحَدِيْثُ يَدُلُّ بِظَاهِرِهِ عَلَى كَرَاهَةِ التَّفَلِ فِيْ الْقِبْلَةِ دَاخِلِ الْصَلَاةِ وَخَارِجِهَا لِعَدَمِ تَقْيِيْدِهِ بِحَالِ الْصَلَاةِ.

Hadits ini (hadits larangan meludah ke arah kiblat) secara zahir menunjukkan bahwa meludah ke arah kiblat hukumnya makruh, baik ketika shalat atau di luar shalat. Hal ini karena tidak ada indikasi yang menunjukkan hanya khusus ketika shalat saja. (Ats-Atsamar al-Mustathab fi Fiqhi as-Sunnah wal Kitab, Muhammad Nashiruddin al-Albani, hal. 707, cet. I) Wallahu’alam. [Luthfi Fathoni]

 

%d bloggers like this: